Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Sumpah Tumaritis Untuk SBY

Sumpah SBY
Indonesia adalah negeri tumaritis yang subur dan makmur, sebuah negeri yang banyak tahu tentang cerita sengkuni sang penghasut handal. Saat ini negeri tumaritis sedang gonjang-ganjing politik akibat perilaku kurang terpuji dari gerombolan kurawa yang terhasut oleh mulut manis sang sengkuni untuk membujuk sang penguasa negeri tumaritis

Gonjang-ganjing yang terjadi di negeri tumaritis tak lepas dari sandiwara politik busuk sang sengkuni dengan gerombolan kurawa serta antek-anteknya yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Apalagi panggung sandiwara politik ini dikemas secara Terstruktur, Sistematis dan Masif. Akibatnya sandiwara politik ini menghasilkan perubahan yang luar biasa bagi hilangnya kedaulatan warga Tumaritis yang tidak bisa lagi mempergunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin di seluruh daerah wilayah tumaritis.

Sandiwara politik di negeri tumaritis sudah diluar ambang batas kewajaran dan kepatutan. Dagelan politik penuh intrik dan tipu daya itu menjadi tontonan yang menarik namun menjijikkan hingga menimbulkan tawa ngakak dan rasa geli para penghuni negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.

Sang penguasa negeri tumaritis yang seharusnya menjadi panutan menjelang detik-detik peralihan kekuasaan malah turut andil dalam sandiwara politik kotor itu. Tidak tanggung-tanggung, sang penguasa negeri bernama Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa dipanggil SBY, diduga malah menjadi sutradara dalam panggung sandiwara politik kotor itu.

SBY wajar diduga sebagai sutradara, mengingat semua berawal dari keinginan sang penguasa negeri yang ingin merubah aturan main tentang pemilihan kepala daerah. Rencana perubahan ini adalah sebuah tujuan yang ingin merubah pemilihan kepala daerah secara langsung menjadi pemilihan kepala daerah tidak langsung alias pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh DPRD. Perubahan ini disampaikan dua tahun lalu oleh menteri dalam negeri utusan atau wakil dari sang penguasa negeri tumaritis pada lembaga legislatif.

Sang penguasa yang diduga sebagai sutradara, tentunya telah membuat berbagai macam skenario politik dan skenario ini sudah dipersiapkan secara matang agar nantinya siap disajikan ke publik dan menjadi tontonan yang menarik bagi warga tumaritis. 

Dalam pembahasan awal rencana undang-undang pemilihan kepala daerah (Pilkada). Skenario ini tidak berjalan mulus, karena semua fraksi di lembaga legislatif menolak perubahan pemilihan kepala daerah secara langsung menjadi tidak langsung, namun sikap fraksi yang tergabung dalam barisan Koalisi Merah Putih tiba-tiba berubah pasca putusan Mahkama Konstitusi (MK) terkait dengan Pemilihan Presiden Negeri Tumaritis yang menetapkan Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai penguasa dan wakil penguasa negeri Tumaritis

Perubahan sikap gerombolan kurawa ini menimbulkan tanda tanya besar bagi warga tumaritis, apalagi alasannya tidak masuk akal dan cenderung hanya mencari alat pembenaran ? Melihat kondisi demikian, Hampir seluruh warga tumaritis melakukan protes keras. Dampak dari protes keras yang bertubi-tubi membuat sang penguasa kebakaran jenggot. Tak lama kemudian dengan senyum khas pencitraan sang penguasa, maka sang penguasa negeri mengatakan menolak pemilihan kepala daerah melalui DPRD.

Gayung pun bersambut, ucapan sang penguasa mendapat respon positif publik, apalagi sang penguasa berjanji akan mengerahkan pasukannya agar tidak mendukung pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Namun siapa bisa menduga, bila ternyata hasutan sengkuni dan gerombolan kurawa melalui berbagai macam janji manis dan segala trik tipu daya ternyata mampu merubah keinginan sang penguasa ? Fakta akhirnya membuktikan, pasukan sang penguasa justru melakukan tindakan kurang terpuji yakni dengan melakukan aksi walkout dalam sidang paripurna pengesahan rancangan undang-undang pemilihan kepala daerah di gedung DPR.

Alhasil, aksi walkout ini mampu membuat gerombolan kurawa berhasil mengesahkan pemilihan kepala daerah tidak langsung pada sidang paripurna pengesahan rancangan undang-undang pemilihan kepala daerah di gedung DPR. Akibat Aksi walkout pasukan sang penguasa, publik tumaritis merasa dibohongin oleh sang penguasa, maka wajar saja bila kemarahan warga tumaritis menjadi Trending Topic di dunia maya dan di dunia nyata bahkan sang penguasa sudah mendapat gelar baru sebagai Bapak Pilkada Tak Langsung atau sering disebut sebagai Bapak Anti Demokrasi

Sebagai penguasa yang selalu menjaga pencitraan, aksi warga tumaritis itu membuat sang penguasa bak kebakaran jenggot. Berbagai macam alasan disampaikan bahkan tidak tanggung-tanggung, sang penguasa sampai melakukan sumpah untuk tetap berkomitmen agar pemilihan kepala daerah tetap dilakukan secara langsung. Untuk membuktikan sumpahnya itu, sang penguasa langsung menerbitkan dua Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu), yakni Perpu tentang Pilkada dan Perpu tentang Pemerintahan Daerah.

SBY berjanji akan melakukan aksi habis-habisan agar Perpu ini disetujui semua pihak. Benarkah sumpah ini bisa dilaksanakan, karena janji tinggallah janji, apakah janji ini bakalan terwujud, mengingat sebenarnya keberadaan Perpu ini sesuatu yang mubazir karena Perpu ini pasti akan ditolak oleh gerombolan kurawa yang masih tetap mendominasi gedung parlemen. Apakah penerbitan Perpu ini bagian dari skenario terakhir sang penguasa ?

Warga tumaritis tidak bodoh, warga tumaritis sudah punya pengalaman tentang sepak terjang sang penguasa, diyakini bahwa semua yang terjadi ini, tak lepas dari adanya dugaan bahwa skenario ini memang dimainkan oleh sang penguasa. 

Lepas dari persoalan dugaan skenario politik sang penguasa, Namun warga tumaritis tetap berharap, sang penguasa mampu merealisasikan sumpahnya itu, karena bila sang penguasa tidak mampu melaksanakannya, maka predikat SBY sebagai Bapak Pilkada Tak Langsung tetap melekat dalam sejarah buruk matinya demokrasi di negeri tumaritis, itulah Sumpah Tumaritis Untuk SBY.

Berita Lainnya :