Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Bencana Kekeringan di Kota Depok

Bencana Kekeringan
Siang itu di sepanjang jalan margonda raya terlihat sangat sepi dan lengang, udara panas begitu menyengat apalagi tak ada satu pun pepohonan yang tumbuh di sana. Suasana terasa begitu gersang bagaikan padang tandus, banyak di pinggir jalan berserakan daun-daun kering yang gugur dari pepohonan yang sudah tidak subur lagi.

Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang sudah amat tua dan renta, ia adalah seorang kakek berumur 86 tahun yang terlihat sedang mengayuh sepeda tuanya. Aston nama Kakek tersebut mengayuh sepeda tuanya dengan sangat pelan !! Aston terus mengayuh sepeda tuanya tanpa kenal lelah, sudah hampir setengah jam Aston mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalan Margonda Raya, sebuah jalan besar dan lebar kebanggaan masyarakat Kota Depok.

Udara panas begitu menyengat. tak henti-henti Aston selalu menyeka peluh yang mengalir dari pori-pori keningnya. Ditambah teriknya sinar matahari yang makin terasa pedih membakar kulit lengannya yang kurus dan hitam.

Tak lama kemudian, Aston menghentikan laju sepeda tuanya untuk beristirahat sejenak tepat di depan kantor Balaikota Depok yang terlihat sepi dan sunyi tanpa adanya aktifitas. Terlihat gedung perpustakaan masih berdiri kokoh tepat di depan lapangan yang biasa dipergunakan untuk upacara atau apel pagi para abdi negara dilingkungan pemerintah kota depok.

Aston menatap lapangan upacara dengan tatapan kosong, terlihat lapangan terbuka yang sering dijadikan tempat upacara bendera itu, telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan. beberapa pohon terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh jalan menuju halaman gedung Balikota Depok.

Saat sedang asyik beristirahat, tatapan mata Aston juga melihat di halaman Balaikota Depok, tepatnya dilapangan terbuka yang sering dijadikan tempat upacara bendera, telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan. beberapa pohon terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh jalan menuju halaman gedung Balikota Depok.

Setelah lama beristirahat, kembali Aston mengayuh sepeda tuanya menuju kearah jalan Citayam, tepat di pertigaan lampu merah, Aston berhenti sebentar, tak lepas matanya memandang sebuah taman kecil tepat di bawah jalan layang Markas Wangi singkatan dari Jalan Margonda, Jalan Kartini, Jalan Dewi Sartika, Jalan Sawangan dan Jalan Siliwangi. Taman kecil tersebut memang sudah tidak terawat, pohon dan rumput sudah tidak ada lagi, taman terlihat seperti padang tandus layaknya.

Jalan raya terlihat begitu lengang dan sepi, Tak satu pun kendaraan yang lewat, Aston teringat kembali pada cerita orangtuanya, Bahwa dulu tahun 2016 di jalan Dewi Sartika kondisi lalu lintasnya sangat macet karena padatnya lalu lalang kendaraan yang terhalang oleh pintu perlintasan kereta api. Saat itu kondisi jalan Dewi Sartika memang memprihatinkan, kemacetan lalu lintas sering terjadi disana. Apalagi ruas jalan itu dilalui oleh rel kereta api double track yang melintas setiap 5-10 menit sekali.

Akibat kemacetan itulah yang melatarbelakangi Pemerintah Kota Depok dibawah pimpinan Idris Abdul Shomad dan Pradi Supriatna selaku Walikota dan Wakil Walikota Depok pada tahun 2016 membangun jembatan layang yang membentang antara jalan Margonda, Jalan Kartini, Jalan Dewi Sartika, Jalan Sawangan dan Jalan Siliwangi atau disingkat Jalan layang Markas Wangi.

Tak lama kemudian, Aston kembali mengayuh sepeda tuanya. Setengah jam kemudian, tiba-tiba Aston menghentikan laju sepeda tuanya tepat di sebuah rumah sederhana yang tak berdaun jendela. Masih nampak di halaman beberapa pohon tua yang sudah terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh halaman rumah tersebut, bahkan selokan kecil di pinggir jalan itu juga telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan menyatu dengan halaman, bahkan dengan rumah itu.

Aston memandang rumah yang telah menorehkan begitu banyak kenangan indah dalam kehidupannya, Di rumah inilah Aston pernah tinggal dan di rumah ini, lima puluh lima tahun yang lalu, Aston pernah mengenal seseorang, Mia namanya. Seorang guru cantik yang akhirnya telah mengisi hidupnya hampir 55 tahun lamanya. Masih terngiang kata-kata Mia sebelum bencana kekeringan melanda Kota Depok dan hampir seluruh kabupaten dan kota di Pulau Jawa ini.

Papa, semua tetangga kita dan orang-orang di kota ini sudah pada pergi mengungsi semua, kata Mia sambil berurai air mata. Tak lepas tangannya memegang tangan suaminya, Mia terus mendesak dan meminta untuk yang kesekian kalinya pada Aston suaminya agar mereka berdua juga pergi mengungsi.

Rombongan terakhir yang belum mengungsi hanya tinggal kita berdua dan keluarga Pak Walikota dan Wakil Wakil Walikota. Mama mohon dengan sangat kepada Papa agar kita segera pergi meninggalkan kota ini.

Dengan nada keras Aston berkata ! Sudahlah Mama, kan papa sudah bilang berkali-kali bahwa papa tidak akan meninggalkan Kota Depok. Papa dan Mama lahir di sini, besar pun disini. Apalagi, dulu orangtua papa adalah mantan tim sukses Idris dan Pradi, begitu juga orangtua Mama !! Papa ingin mati di sini dan tidak akan meninggalkan Kota ini.

Mendengar jawaban suaminya yang tetap bersikeras untuk tidak meninggalkan Kota Depok, Mia menangis semakin keras, hatinya begitu berat meninggalkan suami yang sangat dicintainya, sambil mengusap air matanya, Mia masih berupaya untuk meyakinkan Aston, suaminya. Nanti siapa yang akan mengurus Papa ? Sudah tidak ada lagi orang lain yang mau tinggal di sini.

Jangan bersedih istriku, biarlah takdir yang menjawab, sisa umur Papa juga sudah tak lama lagi. Sekarang saja umur Papa sudah 84 tahun, sudah waktunya sepertinya, kata Aston datar.

Namun hatinya tak dapat dibohongi, tak terasa, air mata Aston mulai merambat turun perlahan menyentuh pipinya. Terasa dingin. Sedingin tekadnya untuk tidak hengkang dari tanah ini, tanah kelahirannya. Pandangannya sedikit kabur. Oh kenangan itu. Setetes air mata membangunkan dari lamunannya.

Aston segera menyeka pipi dengan tangan keriputnya. Semua yang di depannya kembali jelas. Dialihkan pandangannya menuju seberang jalan. Tak jauh berbeda. Nampak rumah-rumah kosong tak berpenghuni berpadu dengan serakan sampah !

Di sebuah bangunan besar dan megah yang berada seberang di jalan, Pagi baru saja menampakkan garis cakrawala. Di ufuk timur terlihat sinar matahari menyambut datangnya pagi hari yang masih dipenuhi oleh langit kelabu tanpa tetesan embun pagi. Sudah lebih dari 20 tahun lamanya, Aston menyambut pagi tanpa ada suara kokok ayam maupun kicauan burung. seperti saat-saat dulu. Saat sebelum Pulau Jawa kehabisan sumber daya air, Saat sebelum alam marah karena ulah manusia-manusia serakah, Saat pemimpin sudah tidak amanah lagi pada rakyat, Sehingga mengakibatkan bencana alam atau bencana kekeringan yang melanda Kota Depok dan bencana kekeringan yang melanda hampir di seluruh Kabupaten dan Kota di Pulau Jawa.

Setelah menunaikan sholat dhuha berdua dengan istrinya di Masjid samping rumahnya, Tak lama kemudian Aston melangkah keluar Masjid dan menuju sebuah tembok warna putih di pinggir jalan yang penuh dengan coretan-coretan di sana sini. Diraihnya spidol hitam yang terikat dengan benang warna putih kusam dan dengan tangan agak gemetar, Aston menuliskan sesuatu di dinding tersebut, menuliskan sebuah puisi dengan kata-kata :

YA ALLAH
Dosa apa yang telah kami lakukan
Apakah ini kesalahan para pemimpin kami yang tidak amanah
Sehingga kau hukum kami dengan segala kepahitan hidup

YA ALLAH
Di usiaku yang sudah 84 tahun ini
Sudah tidak ada lagi impian yang bermimpi
Sudah tidak ada lagi cinta dalam jemari

Ketika kematian telah bercampur
Dalam nafas yang berhembus
Dibalik hitamnya hati meringis

Kota Depok, 4 Okrober 2092

Tertanda

Aston dan Mia