Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Politik Dagang (Daging) Sapi PKS di Kota Depok

Politik Dagang Sapi PKS
Politik memang bisa mengubah segalanya. Politik dan korupsi laksana dua sisi keping mata uang. Karena itulah, intelektual besar Mesir, Muhammad Abduh, berkata lirih, “Audzubillah min alsiyasah wa al-siyasiyyin” (Saya berlindung dari godaan politik dan kaum politisi).

Reputasi politik yang buruk, dalam istilah populer di Indonesia, diringkus dalam kata “dagang sapi.” Inilah pengejawantahan definisi purba tentang politik : siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana caranya. Politik itu ibarat dagang sapi, di mana negosiasi, tawar-menawar, dan kompromi menjadi bahasa pengantarnya. tukar-menukar material, juga seks, menjadi mata uangnya.

Publik tentu masih ingat kasus impor daging sapi yang melibatkan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq yang telah di vonis 16 tahun penjara oleh pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor) Jakarta. Terungkapnya kasus ini membantu kita mengonkretkan abstraksi tentang politik yang jorok. Inilah politik dagang (daging) sapi dalam arti yang sebenarnya. 

Saat ini menjelang Pemilukada Kota Depok yang setahun lagi akan diselenggarakan. Berdasarkan hasil pileg 2014, PKS hanya mampu meraih 6 kursi sedangkan syarat untuk mencalonkan kadernya sebagai kepala daerah minimal harus mempunyai 8 kursi di parlemen.

Melihat realita ini tidak menutup kemungkinan diduga praktek politik dagang sapi akan dilakukan PKS di Kota Depok, berapapun maharnya yang penting kekuasaan tetap diraih agar lolos maju di arena pemilukada. 

Apalah artinya segumpal daging dari praktek politik dagang sapi dari PKS bila akhirnya Kota Depok semakin jauh dari harapan menjadi Kota maju, nyaman dan sejahtera bagi warganya. Karena selama dua periode masa pemerintahan Nur Mahmudi Ismail selaku Walikota Depok, kondisi Kota Depok jauh dari harapan, faktanya adalah :
  • Selama dua tahun berturut-turut Kota Depok menyandang gelar sebagai Kota dengan pelayanan publik terburuk Se-Indonesia dan tidak ada perbaikan sama sekali
  • Angka pengangguran meningkat sangat tajam karena sumber daya manusia yang kualifikasinya rendah
  • Peningkatan dana sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) setiap tahun menjadi indikator perencanaan yang buruk
  • Sebanyak 70% Remaja di Kota Depok tidak hafal Pancasila
  • Pemerintah Kota Depok tidak peduli pada remaja dan pemuda
  • Perencanaan tata ruang Kota Depok amburadul
  • Buruknya Tata Kelola Pemerintahan.
  • Pelayanan RSUD Kota Depok terburuk Se-Jawa Barat
  • Sistem Drainase di Kota Depok sangat buruk
  • Buruknya pelayanan transportasi angkutan umum di Kota Depok
  • Kota Depok menjadi tempat yang disukai oleh teroris untuk bertempat tinggal sementara sebelum melakukan aksinya. Tempat tersebut dalam bahasa intelijen dinamakan “SAFE HOUSE“ Beberapa kasus yang terkait dengan ulah teroris di Kota Depok terjadi sejak Tahun 2004.
"Ingat jangan sekali-kali melawan lupa, Rumusnya gampang : Makan Daging Sapi itu Sehat sedangkan Politik Dagang Sapi itu Jahat"

Berita Lainnya :