Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Nur Mahmudi Ismail Ingin Menghilangkan Sejarah

Ada sebuah anekdot yang sering terdengar di masyarakat kita, baik melalui kicauan di dunia maya maupun di dunia nyata, anekdot itu berkisah tentang sebuah masjid yang ada di suatu kampung. Anekdot itu berbunyi :

Ketika kedatangan orang-orang NU yang mengurus masjid, paling-paling yang hilang cuma sandal. Dan ketika kedatangan orang-orang Muhammadiyah yang mengurus masjid, paling-paling yang hilang cuma do'a qunut waktu sholat shubuh dan tahlilan. Tetapi, ketika kedatangan orang-orang PKS yang mengurus masjid maka mereka harus bersiap-siap untuk kehilangan masjidnya.

Anekdot ini sepertinya sangat pas dengan kondisi yang terjadi di Kota Depok dibawah pimpinan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sepak terjang PKS, lebih lengkapnya bisa dilihat di sini : PKS Anak Ideologi Teroris Ikhwanul Muslimin

Tanpa ada hujan dan badai, sekonyong-konyong Walikota Depok dengan seenaknya merubah nama Masjid Baitul Kamal menjadi Masjid Agung. Perubahan ini tentunya menimbulkan protes keras dari masyarakat Kota Depok. Atas dasar apa Walikota Depok merubah nama Masjid Baitul Kamal menjadi Masjid agung, apalagi perubahan ini dilakukan secara sepihak tanpa bermusyawarah dulu dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat.

Sikap arogan dan tidak bijaksana Walikota Depok ini tentunya menimbulkan pertanyaan, Ada apa dibalik penggantian nama Masjid Baitul Kamal menjadi Masjid Agung ? Apakah Nur Mahmudi Ismail selaku Walikota Depok lupa akan sejarah atau memang sengaja ingin menghilangkan sejarah, bahwa Masjid Baitul Kamal itu dibangun atas sumbangan murni dari masyarakat dan tidak menggunakan dana APBD Kota Depok.

Lalu apa maksudnya menghilangkan nama Masjid Baitul Kamal menjadi Masjid Agung. Ada indikasi, Diduga perubahan nama ini karena Nur Mahmudi Ismail ingin menunjukan diri sebagai orang yang turut andil membangun Masjid ini padahal ketika Masjid ini dibangun, tak ada orang yang kenal dengannya serta ada dugaan Nur Mahmudi Ismail sengaja ingin menghilangkan sejarah tentang tokoh dibalik pembangunan Masjid itu, Karena Masjid Baitul Kamal dibangun di era Pemerintahan Badrul Kamal selaku Walikota Depok yang pertama.

Penggantian nama Masjid ini tentunya semakin menguatkan anekdot diatas bahwa sebuah Masjid bila diurus oleh orang-orang PKS atau orang-orang PKS yang punya kuasa ternyata benar adanya, bahwa Masjid tersebut akan hilang identitas aslinya, perubahan nama Masjid Baitul Kamal menjadi Masjid Agung adalah bukti nyata akan hal itu.

Berita Lainnya :
Kota Depok Harus Konsisten Dengan Arti Lambang