Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Prahara Lumpur Lapindo di Terik Matahari

Koalisi besar yang mengusung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden sungguh luar biasa, Koalisi besar ini terdiri dari beberapa partai besar dan menengah, Ada Partai Gerindra sebagai lokomotifnya, Partai Golkar, PAN, PKS, PPP dan PBB.

Mengapa koalisi besar ini disebut luar biasa, disana ada Abu Rizal Bakrie ketua umum Partai Golkar yang sepak terjangnya sungguh luar biasa terkait dengan musibah lumpur lapindo yang entah kapan akan segera berakhir. Disana juga ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mantan Presidennya pernah tersandung kasus sapi impor hingga berakibat pada stigma buruk di tengah masyarakat bahwa segala macam urusan persapian tak pernah lepas dari predikat buruk partai ini.

Begitu juga disana ada Hatta Rajasa ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang mempunyai lambang matahari terbit. Banyak peristiwa luar biasa yang melekat pada sepak terjang seorang Hatta Rajasa, Ada indikasi Hatta Rajasa diduga terlibat kasus hibah kereta api bekas dari jepang dan kasus mafia migas serta carut marutnya perekonomian nasional tak lepas dari perannya yang tidak mampu mengemban amanat sebagai menteri koordinator bidang perekonomian.

Lebih luar biasa lagi ternyata disana ada seorang Suryadharma Ali yang pernah dipuji-puji oleh Prabowo Subianto terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji yang sangat baik. Suryadharma Ali adalah Menteri Agama yang juga sebagai ketua umum Partai Persatuan pembangunan (PPP). Pujian ini sungguh luar biasa, tak lama setelah dipuji-puji oleh Prabowo Subianto, tak lama pula Suryadharma Ali ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji yang penuh dengan aroma busuk.

Keadaan yang luar biasa ini semakin lengkap dengan hadirnya sosok Yusril Ihza Mahendra selaku pendiri Partai Bulan Bintang. Sangat luar biasa memang apalagi Yusril pernah membuat kicauan heboh di akun twitternya, Yusril menyatakan bahwa presiden yang sering memberi grasi pada koruptor adalah presiden koruptor. Presiden yang dimaksud disini adalah Presiden SBY. Ironinya orang-orang di lingkaran kekuasaan SBY inilah yang banyak bergabung di koalisi besar, Apalagi Yusril Ihza Mahendra selaku pendiri Partai yang punya lambang Bulan Sabit ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari koalisi besar yang sering disebut sebagai koalisi Prahara alias Prabowo Subianto dan Hata Rajasa.

Mengutif kamus bahasa Indonesia arti dari prahara juga sebenarnya sangat luar biasa, Prahara adalah angin ribut, angin topan dan badai. Mungkinkah akan terjadi angin ribut, angin topan dan badai besar pada Indonesia di masa yang akan datang. Apakah ini jawaban dari jargon politiknya, Indonesia Aman bila Prahara menang ? Kalah atau menang akan terjadi Prahara, waktulah yang akan membuktikannya.

Mari kita renungkan sebuah cerminan luar biasa dari orang-orang luar biasa di tubuh koalisi prahara ini yakni di bawah terik matahari hingga terbitnya bulan sabit di malam hari, seorang Prabowo Subianto dengan seekor sapi jantannya sedang berusaha membajak lumpur lapindo.

Berita Lainnya :