Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Surat Keterangan Masih Perjaka

Surat Keterangan Masih perjaka
Publik tanah air tentu masih ingat dengan kasus pernikahan mantan Bupati Garut Aceng Fikri dengan seorang gadis berusia 18 tahun yang bernama Fani Oktora dan usia pernikahannya hanya bertahan selama 4 hari saja. Karena Aceng Fikri langsung menjatuhkan talak, pada hari keempat pernikahannya dengan alasan Fani sudah tidak perawan lagi.

Kasus pernikahan Aceng Fikri ini sempat menghebohkan publik tanah air, Dampaknya juga sungguh luar biasa yang berakibat lengsernya Aceng Fikri sebagai Bupatu Garut.

Belajar dari kasus ini sepertinya bisa menjadi gambaran bahwa ternyata masih banyak orang yang mempersoalkan keperawanan seorang gadis yang akan dinikahinya. Padahal masalah tidak perawan itu bukan berarti yang bersangkutan telah melakukan perbuatan tidak benar tapi bisa saja terjadi karena beberapa sebab, misalkan sudah tidak perawan karena kecelakaan yang mengakibatkan robeknya selaput dara. Kasus robeknya selaput dara ini bisa saja terjadi pada beberapa wanita yang mempunyai selaput dara yang rapuh dan rentan terhadap gerakan aktifitas diri yang membuatnya bisa robek.

Karena itu selaput dara tidak bisa dijadikan alasan untuk menghakimi sang wanita sudah tidak perawan lagi, apalagi sampai menghakimi kalau sang wanita itu sebagai wanita yang tidak benar bahkan kalau mau dipaksa dilakukan pemeriksaan selaput dara, bisa jadi tindakan itu malah merobek selaput dara itu sendiri.

Melihat kenyataan ini rasanya tidak adil bila kita membandingkan dengan seorang pria. Dengan modal pengakuan sebagai seorang perjaka yang dibuktikan dengan surat keterangan belum menikah sudah bisa menjadi alat bukti yang sah bahwa yang bersangkutan memang masih perjaka. Kondisi ini sangat sulit bila terjadi pada wanita. Walaupun yang bersangkutan mengaku belum pernah menikah, semua akan terbukti saat malam pertama berhubungan intim dengan suaminya, contohnya pada kasus pernikahan Aceng Fikri dengan Fani Oktora.

Surat keterangan belum menikah ini terkadang menjadi alat pembenaran bagi pria untuk menikah lagi dan mengaku masih perjaka, padahal belum tentu yang bersangkutan masih perjaka bahkan bisa saja sudah berstatus sebagai suami dari wanita lain. Biasanya pria seperti ini cenderung menikah lagi secara diam-diam tanpa sepengetahuan istri pertamanya, modalnya gampang cuma secarik kertas berlabel surat keterangan belum menikah.

Haruskah surat keterangan belum menikah ini diganti menjadi surat keterangan masih perjaka, mengingat surat keterangan belum menikah ini sering disalahgunakan oleh pria yang mengaku belum pernah menikah, padahal pengakuan bohong ini bisa berdampak dikemudian hari akibat pernikahannya ini diketahui oleh istri pertama dari pria tersebut. Bahasa kerennya sang pria akhirnya ketahuan telah melakukan pembohongan publik. Lain halnya bila ada pengakuan awal bahwa yang bersangkutan sudah mempunyai istri dan disetujui pernikahan keduanya oleh istri pertamanya.

Bila model Surat Keterangan Belum Menikah ini diganti menjadi Surat Keterangan Masih Perjaka, tentunya perubahan ini harus disertai pengakuan secara terbuka. misalkan persyaratan untuk mendapatkan Surat Keterangan Masih Perjaka ini harus melalui Sumpah Pocong yang disaksikan oleh warga setempat dimana sang pria itu tinggal. Kalau ini bisa dilakukan, so pasti banyak pria yang tidak mau lagi mengaku masih perjaka he he he

Hal ini tentunya dapat menguntungkan sang wanita yang merasa tidak dibohongin oleh sang pria. Untuk selanjutnya terserah pada wanita tersebut, apakah mau menerima atau tidak, pria yang tidak perjaka itu sebagai calon suaminya he he he.

Terkait dengan sumpah pocong itu adalah bentuk anekdot dari pengaturan dan provokasi dari sebuah kelakar. Sejatinya persyaratan untuk mendapatkan surat keterangan ini harus lebih diperketat persyaratannya hingga tidak menimbulkan kerugian dikemudian hari bagi kaum wanita.

Berita Lainnya :