Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Doa Anak Marhaen di Perairan Masalembo

Doa Anak Marhaen
Cerita ini adalah sambungan dari kisah nyata, Terdampar di Bumi Lorosae Timor Timur.

Tinggal di Bumi Lorosae Timor Timur sungguh sangat menyedihkan ditambah dengan suasana yang mencekam. Banyak peristiwa yang tidak terduga terjadi di Kota Dili, bahkan di Pasar Komoro pun tempat aku tinggal dan mencari nafkah sering terjadi pembantaian yang dilakukan oleh warga Timor Timur pro kemerdekaan terhadap para pendatang. Padahal keberadaan Pasar Komoro tidak begitu jauh dari Markas Besar Kepolisian yang berlokasi di Raya Komoro.

Situasi dan kondisi di Timor Timur yang tidak kondusif itu membuat beberapa teman-teman senasib sesama pendatang sudah pada pergi meninggalkan Bumi Lorosae, ada yang pergi ke Kalimantan bahkan ada yang ke Papua.

Agus Sutondo di Kapal Kelimutu
Agus Sutondo Pulang dari Timor Timur
Antara Labuan Bajo dan Sape Menuju Ujung Pandang
Tak lama kemudian berbekal uang 50 ribu rupiah, aku pun pergi meninggalkan Bumi Lorosae Timor Timur, Dengan bekal itupun hanya bisa mengantarku sampai ke Ujung Pandang karena harga tiket kapal laut sebesar 41 ribu rupiah.

Niatku memang ingin pergi ke Tana Toraja Sulawesi Selatan, dengan harapan disanalah nanti aku bisa mendapatkan sedikit rezeki untuk memulai perjalanan baru selanjutnya, setelah gagal pergi ke Darwin, Australia, hingga membuat perbekalanku habis sampai akhirnya harus terdampar di Bumi Lorosae Timor Timur.

Sesampainya di Ujung Pandang, aku sempat ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan. Apakah aku harus berniaga kerajianan tangan di Pasar Sentral Ujung Pandang atau langsung saja ke Tana Toraja ? Namun pilihan Tana Toraja ternyata lebih kuat, walaupun uang hanya tersisa 9 ribu rupiah, akhirnya sampai juga aku di Tana Toraja.

Tana Toraja ternyata tidak seindah yang aku bayangkan, awalnya berharap tempat wisata itu bisa mendatangkan sedikit rezeki buatku. Tapi semua ternyata diluar dugaan. Kehidupan pariwisata disana tidak seperti kehidupan wisata di Pulau Bali maupun di Pulau Lombok. Untungnya setelah beberapa bulan tinggal di Tana Toraja, aku mendapat tamu seorang turis dari Swiss yang meminta mengantarku ke tempat penangkaran kupu-kupu di Banti Murung Kabupaten Maros.

Berbekal pemberian jasa mengantar itulah yang membuatku bertekad ingin meninggalkan Tana Toraja untuk kembali memulai perjalanan baru. Tekadku sementara ingin kembali lagi ke Pulau Lombok. Kangen juga aku dengan teman-teman lama di sana, sekaligus ingin mampir dulu ke Pulau Bali untuk bertemu dengan teman-teman lama sesama anak pantai. Karena sudah lama juga aku tidak bertemu dengan mereka. Apalagi pantai kuta punya kenangan tersendiri buatku, Disanalah aku bersama tiga sahabatku mendapat ilmu kerajinan tangan dari seorang turis asal Jerman. Kerajinan tangan itu berupa gelang yang memang berasal dari Jamaika. Turis yang telah menjadi sahabat kami itu menyarankan bahwa prospek kerajinaan tangan ini bila dipasarkan di Pulau Bali pasti akan banyak peminatnya. Fakta membuktikan saran dari sahabat kami itu memang benar adanya.

Setelah tugasku mengantar turis ke Banti Murung selesai, aku langsung menuju Kota Ujung Pandang, Namun kapal yang akan membawaku pergi ke Surabaya itu ternyata adanya dua hari kemudian, maka mau tak mau aku harus menunggu, hingga waktu yang ada ini bisa aku pergunakan untuk berdagang kerajinan tangan di pasar sentral Ujung Pandang, lumayan kan buat nambah perbekalan ke Pulau Lombok, batinku.

Saat yang ditunggu pun tiba, akhirnya berangkatlah aku meninggalkan Ujung Pandang dengan mempergunakan Kapal Tidar. Dalam perjalanan diatas Kapal Tidar itu, lega rasanya hati ini setelah terombang ambing cukup lama dalam perjalanan yang gagal ke Darwin Australia, mulai dari Pulau Sumbawa, Kupang, Timor Timur, Tana Toraja hingga harus balik lagi ke Pulau Lombok.

Tepat disaat Kapal Tidar berada di Perairan Masalembo, terlihat Kapal berjalan agak lambat ? Entah apakah ini sudah menjadi tradisi pada setiap Kapal yang melewati perairan Masalembo ? Tiba-tiba Kapten Kapal Tidar mengumumkan pada semua penumpang yang ada agar mengheningkan cipta, berdoa bagi para korban tenggelamnya Kapal Tampomas II pada tahun 1981 di Perairan Masalembo.

Semua penumpang mengheningkan cipta seraya berdoa pada para korban tenggelamnya Kapal Tampomas II yang menewaskan ratusan orang tak berdosa akibat keserakahan pejabat yang tidak bertanggungjawab. Kisah Tampomas II itu bisa dilihat di sini : Dibalik Kematian Soeharto dan Tragedi Tampomas II

Kami semua berdoa dengan khusyu tak terkecuali diriku, bahkan banyak diantaranya yang meneteskan air mata. Sebagai Wong Cilik atau Anak Marhaen, Aku panjatkan sebuah Doa Dari Anak Marhaen teruntuk para korban Tenggelamnya Kapal Tampomas II di Perairan Masalembo.

Untuk mereka semua yang telah tiada akibat tenggelamnya kapal Tampomas II, marilah kita tundukkan kepala, semoga arwahnya di terima di sisi TUHAN Yang Maha Esa........Amin

Cerita Diatas adalah rangkaian kisah nyata bersambung dibawah ini :