Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Terdampar di Bumi Lorosae Timor Timur

Timor Timur
Agus Sutondo (celana pendek) di pasar komoro, Dili
Bumi Lorosae adalah sebutan lain dari Timor Timur atau sekarang disebut dengan Timor Leste, Sebuah negara yang dulu adalah bagian dari propinsi di Indonesia. Timor Leste atau Timor Timur lepas dari pangkuan ibu pertiwi akibat kebijakan Presiden BJ Habibie yang memberikan referendum bagi rakyat Timor Timur untuk memberikan pilihan apakah ikut dengan Indonesia atau memilih menjadi negara tersendiri.

Fakta akhirnya membuktikan bahwa rakyat Timor Timur memberikan pilihan merdeka dari Indonesia hingga terbentuknya negara Timor Timur atau Timor Leste dengan Presiden pertama mereka adalah Xaxana Gusmao.

Bumi Lorosae Timor Timur mempunyai arti yang sangat besar dalam perjalanan hidupku, Disana lah aku menjadi guru bagi rakyat Timor Timur yang ingin memahami apa itu Indonesia yang sebenarnya. Guru dalam hal ini adalah memberikan pemahaman terhadap mereka terutama jiwa nasionalisme yang harus dibangun agar mereka paham bahwa mereka adalah bagian dari anak bangsa, Negeri yang besar yakni Indonesia Raya.

Terdampar di Bumi Lorosae Timor Timur bukanlah sebuah keinginan tapi semua terjadi dari rentetan perjalanan panjang seorang anak bangsa yang ingin mencoba mengadu nasib di negeri orang yakni Negeri Australia.

Keinginan itu berawal dari nasehat seorang teman yang sudah kuanggap sebagai abangku sendiri walaupun usiaku tertaut sangat jauh dari abangku ini. begitu pun beliau menganggapku sebagai adiknya sendiri. Abangku ini adalah salah satu pemilik tempat hiburan malam yang sangat terkenal di pantai senggigi pulau lombok. Melalui nasehat abangku ini, itulah awal dari perjalananku menuju negeri Australia hingga harus terdampar di Bumi Lorosae Timor Timur.

Sebelum memulai perjalanan itu, Kehidupanku bukan hanya sekedar sebagai anak pantai senggigi, namun lebih dari itu, aku juga mempunyai aktifitas sebagai seorang wiraswasta yang mempunyai nilai yang cukup untuk bekal masa depanku yang lebih baik di Pulau Lombok.

Hingga pada suatu siang hari, ketika aku dan abangku sedang asyik menikmati indahnya pantai senggigi, terjadi sebuah diskusi yang sangat menarik, Abangku bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga mencapai kesuksesan sekarang ini, Abangku ini cerita tentang pengalamannya tinggal berpindah-pindah di negeri orang, mulai dari tinggal di eropa bahkan amerika serikat. begitu pahit dan manis perjalanan itu dia rasakan, bahkan dia melihat potensi itu sebenarnya ada pada diriku untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya. Aku pun tertarik mendengar ceritanya hingga abangku menyarankan agar aku memulainya melalui negeri Australia yakni masuk sebagai pendatang gelap melalui Darwin

Setelah berpikir panjang lebar, maka berangkatlah aku menuju negeri impian Australia. Negeri Australia hanya sasaran antara, negeri ini hanya sebagai tempat pembelajaran awal untuk melangkah lebih jauh ke negeri yang lainnya sebagaimana nasehat dari abangku ini. Abangku ternyata bukan hanya sekedar menasehati tapi beliau juga memberikan bekal yang cukup bagi perjalananku itu.

Hingga perjalanan itu harus ku mulai dengan meninggalkan pulau lombok menuju pulau sumbawa, untungnya aku pernah punya pengalaman mengantar turis ke Pulau Komodo yakni sebuah pulau diantara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores yang dipisahkan oleh Selat Sape, dari pengalaman itu sangat mudah bagiku menuju Pulau Sumbawa. Dari Pulau Sumbawa perjalanan akhirnya berlanjut, setelah beberapa hari tinggal di Kota Bima, berangkatlah aku menuju Pulau Timor, tempat dimana nanti aku harus mencari kapal yang akan mengantarku ke Darwin, Australia.

Rencana tinggal sebuah rencana, terkadang rencana itu jauh dari realita yang ada, Setelah beberapa bulan aku tinggal di Kota Kupang ternyata kapal yang akan membawaku pergi ke Darwin tidak ku jumpai sama sekali, pun seandainya ada, kondisi kapalnya jauh dari harapan. Aku membayangkan bagaimana mungkin bisa bertahan diatas kapal yang tidak layak itu, karena aku punya pengalaman mabuk laut diatas kapal ketika perjalanan dari Pulau Sumbawa ke Pulau Timor.

Perbekalanku semakin habis, hingga hanya tersisa uang di kantongku tinggal 20 Ribu Rupiah. Waktu itu daya beli masyarakat di Kupang sangat rendah, kondisi kehidupan perekonomian disana pun jauh dari harapan, dampak dari pembangunan yang tidak merata yang hanya tersentralisasi di pulau jawa. Akibat kondisi itu tentunya sangat sulit buatku untuk tetap bertahan di Kota Kupang. Bekal keahlianku membuat gelang pun tidak berdaya guna disana.
Bumi Lorosae Timor Timur
Dengan sisa uang hanya 20 Ribu Rupiah, maka kutinggalkan Kota Kupang menuju Timor Timur dengan harapan bisa ada perubahan yang berarti nantinya disana. Berangkatlah aku dengan bis Sri Jaya Solo yang tiketnya berharga Tujuh Belas Ribu Lima Ratus Rupiah. Dalam perjalanan itu, Saat bis sudah meninggalkan daerah perbatasan, bis yang aku tumpangi sempat diperiksa oleh Tentara Indonesia yang bertugas diperbatasan antara Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur. Pemeriksaan ini terjadi mengingat situasi dan kondisi di Timor Timur masih dalam keadaan konflik apalagi menjelang kedatangan Paus Yohanes Paulus II di Bumi Lorosae.

Sesampainya di Kota Dili ternyata situasi dan kondisinya jauh dari harapan, denyut perekonomian di Kota Dili sangat memprihatinkan. Dengan sisa uang Dua Ribu Lima Ratus Rupiah. tanpa teman dan saudara tentunya butuh perjuangan untuk mengatasinya. Untungnya disaat situasi darurat itu, aku berjumpa dengan satu keluarga yang berasal Bau Bau Sulawesi Tenggara yang bersedia menerimaku bekerja di rumah makannya di Pasar Komoro Kota Dili.

Keluarga ini sangat baik padaku, walaupun aku bekerja di rumah makannya, tapi aku diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan di Kota Dili. Hingga akhirnya aku harus jadi tukang Parkir di pasar Komoro setelah tukang parkir sebelumnya hijrah ke Kalimantan Timur akibat situasi dan kondisi yang tidak bisa diharapkan lagi di Kota Dili.

Suasana Kota Dili memang sangat mencekam, sering terjadi baku tembak antara Tentara Indonesia dengan gerombolan pro kemerdekan FRETILIN dibawah pimpinan Xaxana Gusmao. Situasi itu terjadi juga di Pasar Komoro, Hampir disetiap sudut dinding selalu tertulis kata-kata, Timor Merdeka atau Go To Hell Indonesia dan beragam tulisan lainnya yang berbau provokatif untuk kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia.

Rakyat Timor Timur atau Timor Leste mengganggap Indonesia adalah penjajah, Kondisi seperti itulah yang aku alami ketika tinggal di Bumi Lorosae Timor Timur. Butuh sebuah kearifan untuk menyikapi kondisi masyarakat seperti itu, Namun banyak juga diantaranya yang pro terhadap Indonesia, Orang-orang seperti itulah yang sering kuajak diskusi tentang Indonesia Raya. Mereka banyak bertanya tentang apa itu Indonesia.

Pernah aku menjelaskan kepada mereka bahwa anda bisa pergi kemana pun anda suka di seluruh tanah Air Indonesia, sama seperti saya yang juga bisa pergi ke Bumi Lorosae Timor Timur, lebih dari itu, anda pun bisa menjadi pemimpin Indonesia sepanjang punya kemampuan untuk itu, anda bisa menjadi Presiden, Gubernur, Bupati maupun Walikota di Indonesia. Karena anda adalah bagian dari anak bangsa Indonesia.

Demikian sedikit pengalamanku tinggal di Bumi Lorosae Timor Timur, Akankah berakhir perjalananku itu, kisah selanjutnya nanti disambung lagi yah dengan kisah nyata perjalanan lain yang tidak kalah serunya dari Terdampar di Bumi Lorosae Timor Timur. Kisah lainnya bisa dilihat dibawah ini.

Kisah Lainnya :