Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Surat Berdarah Dari Rakyat Untuk Presiden SBY

Surat Berdarah
Nasib pekerja Indonesia di luar negeri sungguh tragis, begitu banyak kita lihat para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu yang menjadi buruh di negara asing tapi kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Indonesia terutama terkait dengan perlindungan hukum yang konkret bagi warganegaranya. Sungguh miris ketika kita menyaksikan fenomena menyedihkan yang menimpa nasib malang para pahlawan devisa itu tapi Pemerintah Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa, Kondisi ini sangat kontras dengan kebijakan Presiden SBY yang dengan begitu mudah memberikan remisi terhadap Schapelle Leigh Corby terpidana kepemilikan mariyuana sehingga yang bersangkutan mendapatkan kebebasan bersyarat.

Lalu apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terkait dengan perlindungan hukum yang konkret terhadap warganegaranya yang sedang mengalami masalah hukum di negeri orang. Membaca buku Surat Berdarah Untuk Presiden sungguh sangat memilukan hati. Buku setebal 500 halaman itu berisi tentang keluh kesah TKI di luar negeri yang menderita karena tekanan majikannya. Mereka begitu tertekan tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dalam rasa tertekan yang luar biasa itu yang bisa mereka lakukan hanya menulis surat. Ada 30 tulisan keluh kisah mereka yang terangkum dengan jelas dalam buku Surat Berdarah Untuk Presiden.

Dalam keluh kesah itu tergambar dengan jelas penderitaan para Tenaga Kerja Indonesia yang diperlakukan secara tidak manusiawi oleh majikannya. Salah satunya adalah kisah tewasnya seorang Tenaga Kerja Indonesia bernama Rosminah yang tewas dimangsa anjing setelah tiga hari tidak diberi makan oleh majikannya di kawasan Tai Po Hongkong tahun 2008.

Rosminah atau biasa dipanggil minah sehari-hari memang di pekerjakan untuk merawat anjing milik majikannya itu, tidurnya pun berdekatan dengan kandang anjing. Tugas Rosminah dirumah majikannya itu hanya mengurus anjing, memberi makan, memandikan serta membersihkan kandang, rutinitas itu harus dia lakukan setiap hari. Bahkan Rosminah tak pernah diberi makan dan istirahat yang layak.

Rasa tertekan yang luar biasa itu namun tidak bisa berbuat apa-apa, tentunya membuat Rosminah hanya mampu berkeluh kesah melalui sebuah surat terhadap kondisi yang terjadi pada dirinya. Dalam suratnya itu, Rosminah bercerita bahwa sejak berada di Hong Kong ia tidak dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, seperti yang dijanjikan, melainkan hanya diminta untuk mengurus anjing serta perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan oleh majikannya itu

Hingga suatu malam, peristiwa tragis itu terjadi. Rosminah yang lupa mengunci pintu kandang diserang anjing buas peliharaan majikan. Rosminah tidak berdaya ketika diserang oleh anjing milik majikannya itu, selain tidak pernah makan kenyang, tangannya yang selalu bau makanan anjing, membuat anjing itu menerkamnnya, Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, Rosminah kemudian meninggal dunia dengan kondisi tubuh yang sangat menyedihkan.

Tragedi Rosminah ini ternyata dipublikasikan oleh media hongkong dengan versi yang berbeda, Oleh media hongkong Rosminah diberitakan bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangan. Di tangan korban ditemukan surat yang dijadikan barang bukti. Sedangkan jasadnya dibawa ke Queen Elisabeth Hospital.

Lalu bagaimana dengan sikap Pemerintah Indonesia terhadap kasus yang memilukan hati ini, Kasus ini sepertinya tenggelam dan terlupakan begitu saja, Apakah Presiden SBY selaku Kepala Negara Pemerintah Indonesia tidak merasakan penderitaan TKI di luar negeri yang jauh dari perlindungan Pemerintah Negara asal. Begitu banyak tragedi Rosminah dan Rosminah lain yang terjadi diluar sana. Tapi Pemerintah Indonesia tidak mampu berbuat apa-apa.

Persoalan TKI diluar negeri tidak dapat diselesaikan dengan hanya mengirim satuan tugas (satgas), Karena masalah TKI seharusnya langsung ditangani oleh Kepala Negara. Sebagaimana Kepala Negara lain yang mampu melakukan tekanan terhadap Pemerintah Indonesia, Sebagaimana kasus Schapelle Leigh Corby terpidana kepemilikan mariyuana yang sudah di vonis 20 tahun penjara tapi kini mendapat kebebasan bersyarat, sungguh ironis dan tentunya menjadi sebuah catatan.

Berita Lainnya :