Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Mahligai Asmara di Jembatan Cinta

Gadis Melayu
Kisah nyata ini sambungan dari cerita bersambung : Asmara di Tapal Batas Antara Johor dan Singapura :

Senang rasanya setelah membaca surat cinta dari Norma, sebuah ungkapan kasih sayang yang tulus dari seorang gadis cantik melayu singapura. Dalam hati aku berkata, Mungkinkah aku bisa bertemu lagi dengan norma sedangkan diantara aku dan norma begitu banyak perbedaannya. Apakah ini arti dari sebuah cinta yang tulus, sebuah rasa yang bisa hadir pada siapa saja tanpa membedakan status sosial, kewarganegaraan dan lain sebagainya.

Ah, seakan tak ingin larut dalam kebahagian, akhirnya surat pemberian norma itu, aku lipat kembali dan kumasukan dalam kotak kecil pemberian Norma, sambil dalam hati aku berjanji akan membalas suratnya itu dan akan kusimpan selamanya, agar menjadi sebuah kenangan bahwa dalam perjalananku ini, sebagai seorang pengembara ternyata hadir juga bumbu-bumbu asmara.

Aku beranjak dari pelataran tempat duduk terminal bis Johor, Saat itu hari menjelang sore, karena itu, aku pergunakan waktu yang ada ini untuk berjalan-jalan mencari lokasi tempat berniaga nanti. Tadinya terbersit niat ingin mencari tempat penginapan, tapi niat itu aku urungkan. Aku ingin tidur di terminal bis saja sebagai tempat peristirahatanku, toh banyak juga disini bangku-bangku yang bisa kupergunakan untuk beristirahat di malam hari.

Lagi pula, aku ini bukan turis atau pelancong yang ingin bersenang-senang di negara orang. Aku hanya seorang pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat untuk mencari dan terus mencari sebuah harapan baru, untuk masa depan yang lebih baik bagi kehidupanku kelak, entah kapan pencarian ini akan berhenti dan dimana pencarian ini akan berakhir, aku pun tak tahu.

Pengalamanku berpindah-pindah tempat dan tidur dimana saja, membuatku mengurungkan niat untuk mencari penginapan di Johor Bahru Malaysia. Bicara tidur di jalanan, begitu banyak pengalaman itu, bagaimana aku pernah tidur di keheningan malam Kota Dili Timor Timur, Menggigil kedinginan ketika tidur di pinggir jalan di Rantepao Tana Toraja, Tidur di malam hari di pinggir pantai di temani deburan ombak pantai senggigi pulau lombok, tidur dipelabuhan Tanjung Pinang, Tidur di pinggir jalan di Bengkulu, Bima, Bali, Bukit tinggi, Palembang, Pekan Baru, Ujung Pandang dan Kupang bahkan pernah juga tidur di tepi Danau Toba dan tidur dimana saja di daerah-daerah di tanah air ini yang pernah aku singgahi.

Dalam lamunanku sambil terus berjalan keliling Kota Johor Bahru, akhirnya aku dapatkan juga sebuah tempat yang menurutku sangat baik untuk berniaga, yakni sebuah jembatan penyebrangan di pusat perniagaan Johor Bahru. Diatas jembatan , aku hanya melihat ada satu pedagang hingga memungkinkan buatku untuk berdagang di atas jembatan itu yang memang ramai oleh lalu lalang orang yang lewat.

Tadinya aku berencana ingin langsung membuka dagangan tapi mengingat waktu yang hampir menjelang magrib. niat itu pun aku urungkan, toh kupikir besok masih ada kesempatan untuk berniaga dan yang paling penting tempat untuk berdagang sudah aku temukan.

Setelah berputar-putar keliling di pusat perniagaan Kota Johor akhirnya aku balik lagi ke terminal bis. Sesampainya disana, terlihat terminal bis mulai sepi, namun sebelum mencari bangku kosong untuk tempat tidurku, untungnya masih ada kedai minuman yang masih buka di areal terminal bis. Lalu sambil minum teh tarik minuman khas Malaysia, pandanganku tak lepas melihat situasi di areal terminal, ternyata aku melihat banyak juga yang tidur di bangku di areal terminal bis ini.

Tak lama kemudian aku beranjak mencari tempat yang kosong untuk tempat istirahatku di malam hari. Wah senang rasanya ketika mendapatkan bangku kosong panjang yang bisa kupergunakan untuk tidur. Entah karena lelah dan letih, akhirnya aku tertidur dengan pulas dan terbangun ketika terdengar suara hiruk pikuk ramainya orang yang berlalu lalang di pagi hari di terminal bis.

Setelah mandi di toilet dan menyimpan tas di tempat penyimpanan barang di terminal bis dan sebelum menuju tempat berniaga, aku sempat sarapan roti cane dan minum teh tarik di kedai yang ada di dalam terminal. Tak lama kemudian setelah selesai sarapan, melangkahlah aku dengan penuh harapan menuju tempat berniaga diatas jembatan penyebrangan.

Harapanku ternyata tidak sia-sia, menjelang siang hari, dagangan gelangku laris manis, begitu banyak pembeli yang memesan gelang buatanku, dengan harga 5 ringgit pergelang sepertinya sangat murah buat mereka. Daganganku ini memang terlihat unik karena memang belum begitu popular di Malaysia khususnya di Johor Bahru. Bahan-bahannya pun mudah di dapat dan bisa dibeli dimana tempat. Bahkan di Johor Bahru ini bahan-bahan perlengkapanku dagang sangat mudah untuk dicari.

Sampai menjelang sore hari, tak henti-hentinya pembeli yang datang, hingga sampai kewalahan juga aku melayani pesanan para pembeli, Namun antara senang dan cape sepertinya berbaur menjadi satu. Terbayang dihatiku, akan banyak uang yang bisa kudapat sebagai modal perjalananku selanjutnya untuk keliling dunia. itulah hari-hari rutin yang kujalani selama berniaga diatas jembatan penyebrangan di pusat perniagaan di Johor Bahru.

Hingga pada suatu hari tepatnya pada hari libur, ketika aku sedang mengerjakan gelang pesanan pembeli, tiba-tiba terdengar suara halus seorang perempuan yang menyapaku dengan mesra, halo agus, ramai ya dagangnya, boleh Norma temanin gus !! Terkejut aku, setelah tahu yang menyapaku adalah Norma ? Wah, Norma sama siapa kemari, kok tahu aku dagang disini, tanyaku pada Norma ? Norma sendirian gus, kan hari libur, norma pergi kerumah saudara norma di pasir gudang, sekalian ingin melihat apakah agus masih ada di Johor apa tidak, jawab Norma sambil tersenyum manis padaku.

Entah apa yang ada di hatiku waktu itu, aku begitu senang bisa bertemu lagi dengan Norma, gadis cantik melayu singapura yang pernah menyatakan rasa sayang dan cintanya padaku. Untuk menjaga perasaannya, tawaran Norma menemaniku berdagang, aku sambut dengan suka cita. Aku begitu grogi, perasaan hatiku pun tak menentu, walaupun bukan sekali ini saja Norma menemaniku berdagang, tapi kali ini terasa beda, aku seperti hanyut dalam mahligai cinta, sebuah bersitan hati yang menyayat atas sebuah hasrat yang terukir indah dan menggelora dalam mahligai asmara.

Perasaan itu tetap berkecamuk dalam hatiku, apalagi norma begitu baik, sayang dan cinta padaku. Diatas jembatan penyebrangan itu, kami berdua terlihat begitu akrab, terkadang saling tersenyum, bercanda sambil melayani para pembeli. Karena larut dalam kebahagian bersama Norma, hingga terbersit dalam hati, bahwa diatas jembatan penyebrangan ini telah terpatri sebuah mahligai asmara di jembatan cinta.

Hari-hari apa yang akan terjadi selanjutnya antara aku dan norma, selengkapnya kisah nyata ini bersambung pada cerita lanjutannya yang berjudul : Gelora Cinta Diatas Kapal Perang Malaysia

Cerita diatas adalah rangkaian cerita bersambung dibawah ini :