Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Kejamnya Polisi Diraja Malaysia

Polisi Diraja Malaysia
Cerita ini sambungan kisah nyata Gelora Cinta Diatas Kapal Perang Malaysia :

Diatas Kapal perang Malaysia kami berdua hanyut dalam kegembiraan, antara aku dan Norma sudah tidak ada lagi keraguan diantara keduanya. Sambil tetap merangkai gelang pesanan para tentara laut diraja Malaysia, Aku dan Norma saling bercanda, tertawa dan sesekali saling berpegangan tangan seakan tak ingin melepaskan gelora cinta yang semakin tumbuh dan bersemi diantara kita berdua, Gelora cinta yang telah tumbuh diatas Kapal Perang Malaysia.

Saat kami sedang asyik mengerjakan pesanan gelang Tentara Laut Diraja Malaysia, Tak lama kemudian datanglah beberapa anak muda Tentara Laut Diraja Malaysia. Mereka menanyakan beberapa pesanan gelangnya. Karena pesanan gelang begitu banyak serta tersedianya waktu yang sedikit tentunya sangat tidak mungkin bisa menyelesaikan pesanan mereka. Mengingat waktu hampir menjelang magrib, terucap kata maaf bahwa tidak semua pesanan gelang dapat terselesaikan. Karena itu aku menyampaikan  pada mereka bahwa sisanya akan kubuat dirumah.

Gayung pun bersambut, mereka pun setuju. Para anak muda itu juga menyampaikan bahwa kunjungan persahabatan Kapal Perang Malaysia ke Tanjung Pinang akan berakhir sampai lusa. jadi masih ada waktu untuk mengerjakan sisa gelangnya. Mendapat jawaban seperti itu, aku dan Norma sedikit lega, Akhirnya kami menyerahkan beberapa gelang yang sudah selesai dan sisanya akan di antar besok. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih dan mohon pamit pulang untuk segera mengerjakan dirumah, sisa gelang yang belum ku kerjakan.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Norma mengatakan, gus, bolehkan Norma tahu dimana kamu tinggal, bolehkan norma main kesana ? boleh kok, jawabku, dengan tetap tersenyum memandang gadis cantik melayu itu yang tetap tersenyum manis padaku.

Tempat tinggalku di Tanjung Pinang memang tidak begitu jauh dari pelabuhan, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sesampainya dirumah kontrakan, Norma sempat kaget melihatnya, Rumah Kontrakan itu memang hanya berukuran satu kamar. Apalagi kamar mandinya diluar. Namun dibalik kagetnya Norma, ia masih tetap tersenyum manis padaku.

Tak ingin berlama-lama di rumah kontrakan, akhirnya aku tawarkan norma untuk makan malam di akau sebuah tempat kuliner legendaris dan paling terkenal di Kota Tanjung Pinang. Makan malam kami berdua terlihat begitu romantis apalagi Norma begitu menikmati suasana makan malam di Kota Tanjung Pinang yang memang begitu ramai di malam hari. Selesai makan, aku mengantar Norma ke Hotel tempat dia menginap di Tanjung Pinang, Senyum manisnya tetap terpancar di wajah cantiknya, senyum manis gadis melayu yang kini telah menjadi kekasihku itu.

Esok paginya, tiba-tiba pintu rumah kontrakan ada yang mengetuk, sesekali terdengar suara merdu memanggil, gus, agus, ini norma !!! Suara khas gadis cantik melayu yang selalu terdengar menyapaku, Suara khas norma itulah yang membuatku terbangun.

Setelah lama kami berbincang, Norma menyarankan, baiknya aku tidak usah berdagang. Karena masih banyak pesanan gelang anak muda Tentara Laut Diraja Malaysia yang belum dikerjakan. Saran dari Norma memang baik, akhirnya kami bersepakat untuk tidak berdagang pada hari itu, kami berencana mengerjakan pesanan gelang itu dirumah kontrakan agar nanti sore bisa kami antar kembali ke Kapal Perang Malaysia yang masih berlabuh di pelabuhan Tanjung Pinang.

Setelah semua pesanan gelang selesai, Sorenya aku dan Norma kembali ke Kapal Perang Malaysia. Sama seperti hari kemaren, kedatangan kami berdua tetap disambut luar biasa oleh para Tentara Laut Diraja Malaysia. Apalagi gelang pesanan mereka sudah selesai semua dikerjakan, Tapi ada yang membuat kami berdua terkejut, ternyata diantara mereka masih ada yang tetap memesan gelang kembali, bahkan tiga komandan Kapal Perang Malaysia itu juga memintaku untuk membuat pesanannya lagi. Mereka siap menunggunya hingga esok pagi sampai menjelang pelepasan tiga Kapal Perang Malaysia meninggalkan Tanjung Pinang.

Kembali kami mengerjakan pesanan gelang itu dirumah kontrakanku, hingga esok paginya, aku berangkat menuju hotel tempat Norma menginap untuk menjemputnya agar bisa bersama-sama mengantar pesanan gelang ke Kapal Perang Malaysia. Sesampainya disana, suasana di pelabuhan memang sangat ramai, banyak Tentara Angkatan Laut Indonesia sedang berkumpul, mereka bersiap-siap ingin melepas kepergian tiga Kapal Perang Malaysia.

Disaat aku dan Norma sedang berada di atas Kapal Perang Malaysia, tiba-tiba, Komandan Angkatan Laut Indonesia menghampiri kami berdua yang sedang di Kerumunin oleh Tentara Laut Diraja Malaysia. Komandan Angkatan Laut Indonesia di Tanjung Pinang, sempat menyapaku dan Norma !!! Agus, kamu sudah buat bangga Indonesia, Agus dan Norma berada diatas kapal perang ini adalah cermin persaudaraan tiga rumpun melayu antara Indonesia, Singapura dan Malaysia. Hingga satu kehormatan yang luar biasa, akhirnya aku dan Norma diajak turut serta mengikuti upacara pelepasan tiga Kapal Perang Malaysia di pelabuhan Tanjung Pinang.

Suasana persaudaraan itu semakin terlihat ketika iringan tiga Kapal Perang Malaysia itu siap pergi meninggalkan pelabuhan Tanjung Pinang, entah tiba-tiba diantara lambaian tangan para Tentara Laut Diraja Malaysia itu terdengar suara saling bersahutan memanggil, Aguuuuus, Normaaaa sambil semua melambaikan tangan perpisahan pada kami berdua.

Setelah upacara pelepasan selesai. Menjelang siangnya, aku berencana mengantar Norma pergi ke Pulau Batam, mengantar kepergiannya untuk kembali ke negaranya Singapura. Di pelabuhan Sekupang itulah, Aku dan Norma harus berpisah. Tapi walaupun kami harus berpisah, kami berdua telah  berjanji untuk tetap saling mencintai dan berjanji untuk saling mengabari serta berjanji tidak akan saling melupakan.

Waktu berlalu begitu cepat, selang beberapa minggu ke depan, berangkatlah aku menuju Malaysia, Aku sengaja tidak pergi ke Singapura terlebih dahulu, Aku ingin buat kejutan untuk Norma, nantinya aku ingin mengabari Norma bahwa aku sudah tiba di Kuala Lumpur Malaysia bahkan aku ingin buat kejutan lagi untuk Norma bahwa aku juga sudah tiba di Thailand.

Sesampainya di Kuala Lumpur, sama seperti di Johor Bahru, Aku tidak mencari tempat penginapan, tapi aku berencana tidur di terminal bis Pudu Raya. Hal ini pun pernah aku lakukan, saat tinggal di Hohor Bahru yakni tidur di terminal Bis Johor Bahru. Tak lama setelah mendapatkan informasi tempat yang layak untuk berdagang di Kuala Lumpur, akhirnya aku memilih untuk berniaga di kawasan Chow Kit, Sama seperti di Johor Bahru, aku juga berniat ingin berniaga diatas jembatan penyebrangan di kawasan Chow Kit.

Kawasan Chow Kit ini memang sudah tidak asing lagi bagi para pendatang dari Indonesia, bahkan Chow Kit sudah menjadi tempat rendezvous atau tempat pertemuan para pendatang Indonesia. Di kawasan Chow Kit inilah tempat berkumpulnya para pendatang Indonesia yang mencari nafkah di negeri jiran Malaysia.

Entah karena masih baru aku tinggal di Kuala Lumpur, maka pada hari pertamaku berniaga di kawasan Chow Kit, ternyata aku hampir mengalami nasib sial yakni harus dikejar-kejar Polisi Diraja Malaysia yang sedang melakukan razia di kawasan Chow Kit.

Semua berawal saat aku berjalan menuju kawasan Chow Kit untuk menggelar daganganku. Sesampainya di kawasan Chow Kit atau tepatnya diatas jembatan penyebrangan, terlihat ramai orang-orang Indonesia berlalu lalang diatas jembatan, bahkan ada yang berdiri sambil mengobrol. Diatas jembatan juga terlihat ada dua orang pedagang yang berasal dari Indonesia.

Tiba-tiba orang-orang yang berlalu lalang itu berlarian turun kebawah, karena ada informasi mendadak, akan datang Polisi Diraja Malaysia untuk melakukan razia bagi para pendatang di kawasan Chow Kit Kuala Lumpur. Aku pun yang tadinya berniat ingin menggelar dagangan, ikut-ikutan turun kebawah, karena khawatir ikut terjaring razia oleh Polisi Diraja Malaysia. Ternyata naluriku benar, ketika sudah sampai dibawah, tiba-tiba datang konvoi mobil pasukan Polisi Diraja Malaysia. Mereka semua langsung mengejar para pendatang dari Indonesia yang berlarian di kawasan Chow Kit.

Aku pun ikut berlarian mencari tempat yang aman untuk menghindari kejaran Polisi Diraja Malaysia. Untungnya aku ketemu warung makan dipinggir jalan di kawasan Chow Kit, tanpa basa-basi lagi, aku langsung masuk kedalam dan berpura-pura duduk memesan makanan dan minuman. Untungnya pemilik warung makan itu sangat baik dan dia mengerti terhadap situasi yang terjadi. Dia sempat menanyakan padaku, apakah aku punya paspor atau tidak ? Aku jawab punya, lalu pemilik warung makan itu menasehatiku agar tetap tenang, modal paspor bisa jadi senjata ampuh untuk menyelamatkanku dari kejaran Polisi Diraja Malaysia. Aku disarankan seolah-olah sebagai turis atau pelancong.

Saran pemilik rumah makan itu ternyata benar, akhirnya selamatlah aku dari kejaran Polisi Diraja Malaysia. Pengalaman pertamaku ini sungguh berkesan, pengalaman pertama kali dikejar-kejar Polisi Diraja Malaysia, ternyata memberi hikmah yang sangat besar buat perjalananku selanjutnya di negeri jiran Malaysia. Ternyata dari pengalamanku ini, hari-hari selanjutnya semakin terungkap dengan jelas betapa kejamnya tindakan Polisi Diraja Malaysia terhadap para pendatang, Sempat terdengar isu dan desas-desus diantara para pendatang bahwa pendatang haram di Malaysia akan diberi PIL SAKIT JIWA.

Seperti apakah PIL SAKIT JIWA itu, Begitu kejamkah mereka terhadap para pendatang, Kekejaman ala Polisi Diraja Malaysia itu bisa ditelusuri lebih jauh pada kisah selanjutnya yang berjudul Senandung Rindu Dibalik Kudeta Militer Thailand.

Cerita Diatas adalah rangkaian kisah bersambung dibawah ini :