Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Buku Pahlawan Nasional Tan Malaka Ditolak FPI

Tan Malaka
Terukir dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Nama Tan Malaka memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia yang peduli akan sejarah bangsanya. Apalagi dalam lintasan sejarah, Tan Malaka memang dikenal sebagai salah satu tokoh revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling tidak di Eropa.

Dalam lintasan sejarah, perjuangan Tan Malaka bukan hanya berjuang untuk kemerdekaan bangsanya namun perjuangan Tan Malaka juga bersipat lintas bangsa dan lintas benua. Terekam dalam sejarah bangsa pada tahun 1948 seorang Tan Malaka pernah menentang diplomasi dengan Belanda yang dilakukan dalam posisi merugikan Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung Tan Malaka langsung memimpin persatuan perjuangan yang menghimpun 141 partai/organisasi masyarakat dan laskar untuk menuntut agar perundingan baru dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia seratus persen. Ungkapan Tan Malaka yang sangat popular waktu itu adalah. “Tuan Rumah Takkan Berunding Dengan Maling yang Menjarah Rumahnya“

Karena perjuangannya terhadap bangsa Indonesia sangat besar maka Pemerintah Indonesia melalu Keputusan Presiden Nomor 53 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Cerita tentang Tan Malaka seorang tokoh legendaris pergerakan kemerdekaan Indonesia memang masih sangat misterius, se-misterius kematiannya. Malah baru-baru ini sekelompok pemuda berencana ingin menyelenggarakan acara bedah buka tentang perjuangan Tan Malaka di era pergerakan Indonesia namun sangat disesali Acara Bedah Buku Tan Malaka, gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid IV yang rencananya akan digelar pada hari Jumat 7 Februari 2014 di Surabaya batal dilaksanakan, Pembatalan ini terjadi karena polisi tidak memberikan ijin dengan alasaan keamanan.

Mengapa acara bedah buku itu tidak mendapatkaan ijin dari pihak kepolisian, karena sebelumnya tersiar kabar akan adanya ancaman penolakan dari pihak tertentu yang menolak acara bedah buku tersebut, pihak tertentu itu adalah Front Pembela Islam atau yang selama ini kita kenal sebagai FPI, Alasan yang dikemukakan oleh FPI terkait dengan penolakannya itu adalah karena Tan Malaka dianggap sebagai tokoh PKI yang harus dihilangkan dari negeri ini.

Kalau Tan Malaka harus disingkirkan dari bumi Indonesia itu namanya konyol apalagi alasannya tidak masuk akal, Memangnya FPI siapa dan sudah berbuat apa dengan bangsanya sendiri. Teringat dengan kata-kata bung Karno, Jangan sekali-kali anda melupakan sejarah. Apakah FPI atau Front Pembela Islam tidak baca sejarah, bahwa Tan Malaka merupakan tokoh yang pertama menulis gagasan berdirinya Republik Indonesia, mendahului Bung Karno maupun Bung Hatta, melalui bukunya yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925.

Ada yang lebih konyol lagi ketika FPI menyatakan bahwa Tan Malaka adalah Pahlawannya orang-orang PKI, Pernyataan ini jelas ngawur dan tidak berdasar, Apakah Soekarno sebagai seorang Presiden Indonesia yang telah memberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan surat Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963 dianggap sebagai orang-orangnya PKI. Pernyataan FPI ini terindikasi seakan-akan menuduh bahwa yang memberi gelar Pahlawan Nasional adalah orang-orangnya PKI. Jelas adu domba ala FPI ini sangat berbahaya karena dapat menyulut terjadinya pertikaian yang lebih luas sesama anak bangsa.

Lepas dari sikap kontroversial terhadap sosok legendaris tokoh pergerakan Indonesia Tan Malaka, Penolakan acara bedah buku yang dilakukan oleh FPI ini tentunya menjadi preseden yang buruk bagi negara yang mengaku mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi hingga dikhawatirkan berdampak pada pembungkaman daya kritis masyarakat, apalagi kegiatan bedah buku itu adalah kegiatan yang bersipat akademis.

Teruntuk FPI, Kemanakah anda saat Tan Malaka berjuang demi bangsa dan negara yang dicintainya. Kemanakah FPI saat Tan Malaka terlunta-lunta dalam kemiskinan, kekurangan gizi yang parah serta dalam rasa sakit di hulu hatinya. Lalu kemanakah FPI saat Tan Malaka menguras otak dan fisik buat kemerdekaan bangsanya. Kemanakah FPI saat Tan Malaka bergerilya berpindah-pindah tempat buat menghindari penangkapan oleh serdadu Belanda ?

Teruntuk FPI, apa konstribusi anda buat bangsa dan negara ini ? Apakah hanya dengan nahi mungkar namun dengan cara-cara mungkar, seenaknya saja mencerca Pahlawan Nasional ? Wahai FPI, Saat ini kamu hanya bisa menikmati hasil perjuangan bapak bangsa. Dinegara hasil perjuangan bapak bangsa inilah FPI berdiri, FPI cari makan, FPI teriak-teriak mengutuk demokrasi, mengutuk Pahlawan Nasional Tan Malaka. Dimanakah jalan pikiranmu, Wahai aktifis FPI.

Berita Lainnya :