Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Membedah APBN Amerika Serikat Untuk Indonesia

Pernahkah terpikir dalam benak kita bahwa ternyata hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia layaknya hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Dimana Pemerintah Amerika Serikat berperan sebagai Pemerintah Pusat sedangkan Indonesia berperan sebagai Pemerintah Daerah.

Bila hal itu ternyata benar adanya tentu kita sebagai anak bangsa akan miris melihatnya. Mungkinkah Indonesia yang mempunyai wilayah yang sangat luas dari sabang sampai merauke, dari timor sampai ke talaud dan negeri yang kaya raya, gemah ripah loji nawi serta jumlah penduduk terbesar nomor empat di dunia harus mengalami kenyataan pahit menjadi bagian dari dominasi negara adikuasa Amerika Serikat.

Untuk lebih menyakinkan kita apakah semua itu benar adanya, baiknya kita lihat dulu penjelasan berikut ini yang dikutif dari tulisan sahabat kompasiana saudari esther lima yang menceritakan secara detail berikut sumbernya terkait dengan adanya alokasi aliran dana untuk Indonesia yang masuk di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Amerika Serikat.

Dalam penjelasannya esther lima menyampaikan bahwa Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan biaya dari APBN-nya untuk diberikan pada Indonesia dengan rincian sebagai berikut :

Pertama, Alokasi anggaran untuk Kegiatan Demokrasi dan Pemerintahan Indonesia, dianggarkan sebesar USD 17.5 juta

Kedua, Alokasi dana untuk pembangunan perekonomian Indonesia, Pemerintah Amerika Serikat mengalokasikan anggaran sebesar USD 69.9 juta.

Ketiga, peruntukan bidang edukasi dan layanan sosial dialokasikan oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk Indonesia sebesar USD 30 juta.

Keempat, Alokasi dana bidang lingkungan sebesar 7.2 juta dan bidang kesehatan sebesar USD 34.7 juta

Kelima, Alokasi dana bagi perdamaian dan keamanan sebesar USD 6.8 juta.

Rincian lebih lengkapnya bisa dilihat pada gambar dibawah ini :
APBN Amerika Serikat
Selanjutnya esther lima juga menjelaskan bahwa berdasarkan APBN Pemerintah Amerika Serikat yang turun untuk Indonesia pada tanggal 2 April lalu adalah sebesar USD 600 juta, untuk Kesehatan dan Nutrisi, Green Prosperity project dan Modernisasi Procurement. Belum lagi alokasi anggaran dari UNESCO yang membiayai pemeliharaan candi Borobudur, Candi Prambanan, Pulau Komodo, Ujung Kulon dan Sangiran. Begitu juga berbagai pembiayaan dan program FAO, termasuk diantaranya mengurusi ketahanan pangan, edukasi bagi para petani dan nelayan. Sumber lengkapnya bisa dilihat disini : ESTHER LIMA

Bila melihat penjelasan diatas tentu kita akan bertanda tanya, Mengapa begitu luar biasanya perhatian Pemerintah Amerika Serikat terhadap Indonesia, kondisi ini sama persis dengan perhatian Pemerintah Pusat pada Pemerintah Daerah. Apakah semua itu gratis dan tanpa embel-embel lain yang mengiringinya. Hal inilah yang menjadi pertanyaan kita semua. Pantaskah kita disebut sebagai Negara Indonesia yang berdaulat.

Bila para pendahulu kita, para pendiri bangsa ini tahu bahwa Indonesia akan seperti itu tentunya mereka akan marah besar. Penulis jadi teringat kata-kata Bung Karno ketika masih berkuasa sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia, beliau dengan tegas menolak keras bantuan kapitalisme dunia yang sarat dengan berbagai jerat ketergantungan. Dengan seruan “Go to hell with your aid !, Bung Karno mantap mau mendidik rakyat Indonesia dan membangun karakter bangsa agar tidak menjadi bangsa pengemis karena kemerdekaan tanpa kemandirian tidak lain adalah semi kolonialisme

Berita Lainnya :