Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Ada Pocong Gentayangan di Gedung DPRD Kota Depok

Beredarnya isu penampakan pocong yang sering bergentayangan di Gedung DPRD Kota Depok ternyata bukan sekedar isu murahan yang menyesatkan. Konon Pocong yang sering bergentayangan tersebut sering terlihat meloncat-loncat dari satu ruangan ke ruangan yang lain.

Desas-desus penampakan pocong ini memang sempat menjadi buah bibir dikalangan masyarakat luas. Terkadang timbul pertanyaan ? Mengapa gedung wakil rakyat tersebut bisa menjadi tempat bersemayamnya para pocong ? Apalagi pocong gentayangan ini sering terlihat meloncat-loncat dan kadang sering terlihat berdiri di salah satu sudut ruangan di gedung DPRD Kota Depok. Kabar isu keberadaan pocong ini memang sudah beredar sejak lima tahun yang lalu atau tepatnya setelah pelantikan anggota DPRD Kota Depok periode 2009-2014.

Konon pocong gentayangan ini bukan sekedar pocong yang menakutkan serta bukan sekedar pocong yang mempunyai wajah pucat dan matanya melotot serta lidahnya terbujur keluar karena kebiruan. Konon pocong gentayangan ini adalah bagian dari lingkaran setan yang telah melakukan persekongkolan jual beli suara rakyat pada pesta demokrasi pemilihan umum tahun 2009.

Pocong gentayangan ini adalah analogi dari oknum-oknum yang telah melakukan praktek persekongkolan jual beli suara rakyat. Oknum-oknum ini memang layak disebut pocong, karena tingkah lakunya sering meloncat-loncat dari satu ruangan ke ruangan lainnya untuk mencari beberapa oknum anggota DPRD Kota Depok yang juga telah melakukan persekongkolan yang sama.

Oknum pocong ini selalu loncat sana dan loncat sini untuk mencari oknum anggota DPRD ? Bila sudah ketemu, mereka akan melakukan pemerasan. Karena oknum pocong ini merasa mempunyai andil terhadap terpilihnya oknum anggota DPRD tersebut. Apalagi oknum pocong ini mempunyai bukti otentik bahwa oknum anggota DPRD itu sebenarnya tidak terpilih sebagai wakil rakyat. Mereka terpilih karena mencuri suara rakyat yang diambil dari perolehan suara beberapa partai politik yang tidak mempunyai saksi di tiap TPS. Luar biasa memang sepak terjang oknum-oknum ini, mereka bisa menyulap suara rakyat menjadi suara setan.

Lingkaran setan oknum pocong ini memang sangat luar biasa, sepak terjang mereka memang tidak sendirian, karena satu sama lain harus saling berhubungan. Coba kita bayangkan ? Karena mereka saling berhubungan maka mereka bisa melakukan apa saja terhadap oknum anggota DPRD yang berambisi menjadi anggota legislatif. Bahkan suap menyuap ini tidak hanya berlangsung sebelum oknum anggota DPRD itu terpilih, setelah terpilih pun oknum anggota DPRD ini sering diperas oleh oknum pocong tersebut, bahkan sering dijadikan ATM bulanan, hingga wajar saja bila oknum pocong ini sering terlihat bergentayangan berloncat-loncatan layaknya pocong. Kondisi ini  sudah terjadi sejak oknum anggota DPRD itu dilantik.

Saat ini mendekati pesta demokrasi lima tahunan yang akan diselenggarakan pada tahun 2014. Mungkinkah oknum pocong ini akan melakukan praktek yang sama. Mungkinkah praktek jual beli suara rakyat menjadi suara setan ini akan berhasil mereka lakukan. Apalagi jumlah peserta pemilu 2014 telah menyusut menjadi 12 partai politik. Namun ibarat pepatah “pencuri biasanya lebih pintar mencari kelengahan. Berbagai siasat busuk tentunya sedang mereka siapkan untuk melakukan praktek kotor jual beli suara rakyat menjadi suara siliuman.

Mensiasati tingkah laku para oknum pocong ini sebenarnya sangat mudah. Karena secanggih dan sepiawai apapun siasat busuk yang dilakukan oleh para oknum pocong ini, Sepanjang partai politik maupun para calon legislatif atau calon wakil rakyat mampu mempersiapkan perangkat saksi di tiap-tiap TPS. Langkah ini sangat tepat untuk menghindari praktek kotor yang akan dilakukan oleh para oknum pocong beserta lingkaran setannya.

Oknum pocong ini memang sangat takut dengan secarik kertas bernama formulir C1 yang diperoleh para saksi di tiap TPS. Karena formulir C1 ini bisa dijadikan alat bukti yang ampuh untuk menangkal tingkah laku para oknum pocong. Dan bila langkah ini berhasil dilakukan oleh partai politik maupun para calon legislatif, tentunya kita semua berharap agar oknum pocong ini sudah tidak lagi bergentayangan di gedung DPRD Kota Depok.

Berita Lainnya :