Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Ikhwanul Muslimin Indonesia Seperti Robin Hood

“JIKA MASUK SURGA HARUS MENJADI TERORIS, MAKA SAYA MEMILIH UNTUK TIDAK MASUK SURGA”

Tergulingnya Presiden Mesir Muhammad Mursi dari kursi kepresidenan oleh kudeta militer dibawah pimpinan Jenderal Abdel Fattah Al-sisi. Tentunya membuat kita semua terkejut apalagi Mursi sebagai pentolan Ikhawanul Muslimin baru menikmati singgasanah sebagai Presiden Mesir selama satu tahun lebih tiga hari.

Sungguh tragis memang nasib Presiden Mursi dan Ikhwanul Muslimin di negeri piramida itu, padahal perjuangan yang mereka rintis selama 80 tahun itu dan baru menikmati kekuasaan selama satu tahun di mesir harus berakhir dengan cara yang memilukan. Apalagi aksi kudeta yang berhasil itu di ikuti dengan pelarangan bagi Ikhwanul Muslimin dari kehidupan politik di mesir.

Ikhwanul Muslimin Mesir didirikan pada tahun 1928 di kota Ismailiyah Mesir dan dipimpin oleh Hasan al-Bana. Kemudian gerakan ini pun berkembang aktivitasnya hingga ke sejumlah negara Timur Tengah. Para aktivitas ini mencoba mengadopsi gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir dan banyak diantaranya berhasil menjadi penguasa di sejumlah negara timur tengah.

Bukan hanya berkembang di timur tengah, bahkan di Indonesia Partai Keadilanan Sejahtera (PKS) terindikasi mengadopsi gerakan Ikhwanul Muslimin. Lihat saja ketika aksi kudeta penggulingan Presiden Mursi terjadi di mesir hingga tergulingnya pentolan Ikhwanul Muslimin tersebut dari kursi singgasanah kepresidenan. PKS terlihat begitu bersemangat menyuarakan sikap kontranya. Banyak aksi-aksi solidaritas dilakukan oleh elit PKS dan kader-kader PKS diakar rumput, ada yang melakukan demo, aksi peduli dan lain sebagainya. Lebih dari itu, PKS mencoba memanfaatkan konflik yang terjadi di mesir dalam rangka pencitraan terhadap partainya yang memang sedang mengalami keterpurukan akibat skandal suap yang menimpa mantan presidennya Luthfi Hasan Isaaq dalam kasus suap impor renyah daging berjanggut di Kementerian Pertanian.

Pencitraan yang dilakukan oleh PKS ini bukannya mendapat dukungan dari masyarakat tapi justru cibiran yang didapat. Karena masyarakat menilai dan mempertanyakan aksi solidaritas tersebut terlihat lebih cenderung bersikap sektarian. seakan-akan konflik di mesir ini adalah konflik agama, padahal yang terjadi di Mesir adalah konflik politik, bukan konflik Islam. Pihak yang kontra terhadap Mursi dan Ikhwanul Muslimin adalah juga muslim, antara lain dari Al-Azhar dan Salafi. Hingga kuat dugaan keberpihakan PKS terhadap konflik politik yang terjadi di mesir ditengarai tak lepas dari afiliasi ideologi partai ini yakni Ikhwanul Muslimin atau tepatnya PKS ini layak disebut sebagai Ikhwanul Muslimin Indonesia.

Bicara Ikhwanul Muslimin di Mesir dan PKS memang sebelas dua belas, apalagi guru dan murid se-aliran ini memang sedang mengalami nasib yang sangat tragis, kalau gurunya di mesir sudah dilarang beredar dalam kehidupan politik. Begitu juga dengan muridnya yang sedang mengalami nasib yang sama yakni dihantam gelombang tsunami akibat mantan presiden PKS dijadikan tersangka dalam kasus suap dan pencucian uang. Malah tidak menutup kemungkinan bila terbukti nantinya ada aliran dana pencucian uang mengalir ke PKS maka nasib PKS pun akan sama seperti Ikhwanul Muslimin yang dibekukan keberadaanya sebagai partai politik.

Saat ini memang PKS sedang berupaya menaikkan citra, pasca terpuruknya nama baik partai ini, berbagai cara mereka lakukan untuk menaikkan citra partai, mulai dari isu kenaikan BBM, Menggoreng Konflik Mesir dan lain sebagainya. Tujuan pencitraan ini tak lepas dari target yang selama ini mereka harapkan yakni mencapai tiga besar dalam pemilu 2014. Disaat pencitraan itu sedang berjalan, tiba-tiba publik dikejutkan adanya survei bahwa PKS diprediksi keluar sebagai pemenang dalam Pemilu 2014. Namun sayangnya, bukan dalam hal perolehan suara melainkan seringnya membagi-bagi uang dan sembako kepada masyarakat.

Menjadi sebuah pertanyaan, dari mana uang dan sembako itu diperoleh, apakah murni dari kantong pribadi para kadernya atau uang dan sembako ini diduga diperoleh dengan memanfaatkan dana bansos APBN maupun APBD yang ditengarai memanfaatkan penguasa dan lingkaran kekuasaan yang berasal dari kadernya sendiri. Atau ada dugaan bahwa uang dan sembako ini didapat dari cara-cara yang tidak baik sebagaimana pernah terungkap dalam persidangan kasus suap impor daging di pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor) Jakarta.

Dalam persidangan itu, salah satu saksi yudi setiawan mengatakan adanya rencana konsolidasi perolehan dana Rp 2 triliun untuk kepentingan PKS. Dana itu dalam rangka pemenuhan target partai untuk kepentingan pemilu 2014. Ia mengaku membahas pengumpulan itu bersama petinggi PKS. Itu pertemuan saya, Fathanah, dan Luthfi Hasan Ishaaq. Lebih jauh yudi menyatakan bahwa pengumpulan dana itu muncul karena PKS membutuhkan banyak dana. Mulai dengan jatah kebutuhan Rp 8 miliar per bulan. Yudi bersedia membantu untuk mengumpulkan dana itu. "Saya buat konsep untuk membantu supaya tidak sampai kering-kering amat. Tidak sampai tidak punya duit , kata yudi dalam kesaksiannya dipersidangan.

Sungguh luar biasa memang target PKS untuk mencapai tiga besar. Tidak tanggung-tanggung, dana yang dibutuhkan untuk persiapan pemilu 2014 sebanyak Rp. 2 triliun. Itu yang ketahuan, belum yang tidak ketahuan. Apakah ada cara-cara kotor lainnya yang tidak ketahuan, hingga diduga mampu memberikan uang dan sembako pada masyarakat. Bila suatu saat nanti, cara-cara kotor yang tidak ketahuan ini terbukti. Maka tidak menutup kemungkinan, PKS atau sering disebut sebagai Ikhwanul Muslimin Indonesia tentunya akan seperti Robin Hood. Yakni kisah seorang perampok baik hati yang membagi-bagikan hasil rampokannya pada rakyat kecil.

Berita Lainnya :