Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Akhirnya Gubernur Jenderal Banten Jadi Tersangka

Gubernur Jenderal Banten
Dalam pelajaran sejarah Indonesia yang sering diajarkan dibangku sekolah, nama Gubernur Jenderal Daendels tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Beliau adalah Gubernur Jenderal Belanda yang berkuasa di pulau jawa selama tiga tahun (1808-1811), Dalam kurun waktu tiga tahun kepemimpinannya, pembuatan jalan utama Anyer-Panarukan adalah yang paling besar pengaruhnya.

Untuk mewujudkan kegiatan pembangunan fisik jalan itu, Daendels memaksa setiap penguasa lokal sepanjang jalur yang direncanakan itu untuk mengerahkan rakyatnya membangun jalan yang diinginkan. Rakyat disuruh kerja paksa atau kerja rodi, akibatnya banyak rakyat yang jadi korban dan meninggal dunia karena kelelahan, kelaparan dan terjangkit wabah penyakit. Menurut laporan sejarah, pembuatan jalan tersebut memakan korban sekitar 10.000 orang meninggal dunia.

Disamping membangun jalan utama Anyer-Panarukan, Daendels juga berkeinginan untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di ujung kulon, karena itu Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibukotanya ke Anyer. Namun keinginan Daendels ini mendapat perlawanan dari Sultan Banten yang menolak perintah Gubernur Jenderal Daendels. Sebagai jawabanya Daendels akhirnya memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan.

Aksi penyerangan atas perintah Daendels ini berhasil, Sultan dan keluarganya ditangkap dan disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di benteng Speewijk. Tak lama berselang pada tanggal 22 Nopember 1808, Daendels akhirnya mengumumkan dari markas besarnya di Serang, Banten. bahwa wilayah Kesultanan Banten telah digabung ke dalam Wilayah Hindia Belanda.

Lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1813, Kesultanan Banten resmi dihapuskan oleh Pemerintah Kolonial Inggris. dan peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas untuk mengakhiri riwayat Kesultanan Banten. Padahal sejarah telah membuktikan bahwa Kesultanan Banten mempunyai andil yang sangat besar dalam melakukan perlawanan menghadapi cengkeraman penjajah di bumi ibu pertiwi. Peristiwa sejarah ini akan tercatat dan tidak akan dilupakan oleh masyarakat Banten yang terkenal gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Se-iring dengan perkembangan zaman, Saat ini Banten merupakan salah satu dari 34 Propinsi di Indonesia. Setelah sebelumnya menjadi bagian dari Propinsi Jawa barat. Tepat tahun 2000, Banten akhirnya memisahkan diri dengan Propinsi Jawa Barat. Propinsi Banten dipimpin oleh Ratu Atut Chosiyah yang sudah berkuasa hampir dua periode lamanya menjadi Gubernur Banten. Bukan hanya Ratu Atut Chosiyah saja yang menjadi penguasa di Wilayah Banten, beberapa keluarga besarnya juga menancapkan kukunya menjadi penguasa di berbagai lini, baik sebagai wakil rakyat maupun wakil pemerintahan.

Berikut ini adalah beberapa posisi penting keluarga besar Ratu Atut Chosiyah hingga terciptanya Dinasti Politik di Wilayah Propinsi Banten :

- Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Provinsi Banten
- Hikmat Tomet, Suami Ratu Atut Chosiyah sebagai Anggota DPR Komisi V 
- Haerul Jaman, Adik tiri Ratu Atut sebagai Walikota Serang
- Andika Hazrumy, anak pertama Ratu Atut Chosiyah sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Wakil dari Propinsi Banten
- Ratu Tatu Chasanah, Kakak kandung Ratu Atut sebagai Wakil Bupati Serang
- Heryani, Ibu tiri Ratu Atut sebagai Wakil Bupati Pandeglang
- Ratna Komalasari, Ibu tiri Ratu Atut sebagai Anggota DPRD Kota Serang
- Airin Rachmi Diany, Adik ipar Ratu Atut sebagai Walikota Tangerang Selatan
- Aden Abdul Cholik, Adik ipar Ratu Atut sebagai Anggota DPRD Provinsi Banten
- Ade Rosi Khaerunissa, Menantu Ratu Atut Chosiyah sebagai Wakil Ketua DPRD Serang 
- Anak lainnya dari Ratu Atut Chosiyah, Andiara Aprilia Hikmat mencalonkan diri sebagai anggota DPD;
- Menantu Ratu Atut, suami Apilia, Tanto Warbono, caleg DPRD Provinsi Banten di Dapil Kota Tangerang Selatan.

Luar biasa memang sepak terjang keluarga besar Ratu Atut Chosiyah yang mampu menciptakan Dinasti Politik di Propinsi Banten. Penciptaan Dinasti Politik in tentunya menimbulkan pertanyaan besar, Siapakah orang yang berperan besar menciptakan Dinasti Politik itu ? Terungkapnya skandal suap sengketa pemilukada Kabupaten Lebak oleh KPK, merupakan pintu awal terbukanya, siapa sebenarnya otak dibalik penciptaan Dinasti Politik keluarga besar Ratu Atut. Apalagi dalam kasus suap itu, KPK telah menetapkan adik kandung Ratu Atut yang bernama Tubagus Chaery Wardana sebagai tersangka. Penetapan status tersangka ini, karena Tubagus Chaery Wardana atau akrab dipanggil Wawan, diduga memberikan suap kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar terkait sengketa Pemilukada Kabupaten Lebak.

Wawan memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Banten. Ia adalah anak laki-laki tertua keluarga besar Tb Chasan Sochib, ayah dari Ratu Atut. Walaupun Ratu Atut lebih tua dari Wawan, namun Ratu Atut banyak meminta nasehat pada Wawan jika menghadapi persoalan terkait dengan jalannya roda Pemerintahan di Propinsi Banten, Bahkan tanpa diminta pun, terkadang Wawan ikut campur mengurusi persoalan jalannya roda Pemerintahan Propinsi Banten, Dalam hal ini Wawan memang berlaku layaknya Gubernur Banten Bayangan.

Apalagi sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Wawan diduga adalah otak dibalik banyaknya penyelewengan dana APBD Propinsi Banten, Akibat tingkah lakunya ini, Wawan sering disebut sebagai Gubernur Jenderal, Karena diduga ia bisa mengatur seluruh kebijakan di Pemerintah Propinsi Banten, mulai dari permainan proyek di sejumlah Dinas hingga mengangkat dan memberhentikan pejabat.

Mengapa Wawan disebut sebagai Gubernur Jenderal, apakah ini sebuah bentuk sindiran halus, se-akan mengingatkan sejarah tentang sepak terjang Gubernur Jenderal Daendels di masa Kesultanan Banten yang mampu melakukan tekanan sedemikian hebat pada Kesultanan Banten layaknya tekanan hebat Wawan terhadap Pemerintahan Propinsi Banten. Hanya bedanya kalau Kesultanan Banten mampu melakukan perlawanan terhadap Gubernur Jenderal Daendels, Tetapi Pemerintah Propinsi Banten justru tidak mampu melakukan perlawanan terhadap Gubernur Jenderal Wawan.

Bila Gubernur Jenderal Wawan mampu melakukan tekanan terhadap Pemerintah Propinsi Banten. Gubernur Jenderal Wawan juga diduga mampu melakukan tekanan yang sama pada beberapa wilayah yang sudah dikondisikan sebelumnya. Terungkapnya kasus suap terkait sengketa Pemilukada Kabupaten Lebak bisa menjadi contoh konkret bagaimana Wawan berupaya melakukan pengkondisian agar penguasa wilayah Kabupaten Lebak bisa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Dinasti Politik yang sedang diciptakannya. Atas berbagai prestasi yang tidak terpuji ini, maka wajar saja bila wawan mendapat sebutan sebagai Gubernur Jenderal Wawan alias Gubernur Jenderal Banten

Tetapi siapa menduga bila sepak terjang Gubernur Jenderal Banten ini ternyata mendapat perhatian khusus dari pendekar hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penetapan Wawan sebagai tersangka oleh KPK ternyata berdampak sangat luar biasa, Kabar Gubernur Jenderal Banten menjadi tersangka, Kabar ini memang menjadi sesuatu yang lama ditunggu-tunggu sebagian masyarakat Banten terutama mereka yang sudah muak dengan sepak terjang Gubernur Jenderal Banten yang sudah dikenal sebagai pengeruk terbesar APBD Banten dari tahun ke tahun.

Sekedar mengingatkan, pernahkah kita mendengar jerit tangis anak-anak bangsa yang ingin menempuh perjalanan menuju sekolah tapi harus melalui jembatan gantung yang dibawahnya mengalir air deras dan siap merenggut nyawanya. Foto jembatan di Kabupaten lebak Propinsi Banten itu telah beredar di situs berita mancanegara. Malah Koran inggris Daily Mail memberitakan perjuangan anak-anak sekolah menyeberangi jembatan gantung seperti aksi sebuah film berjudul Indiana Jones, malah aksi anak-anak sekolah ini lebih berbahaya daripada aksi layar lebar Indiana Jones.

Kenyataan diatas sungguh kontras dengan kehidupan serba mewah yang dinikmati oleh Dinasti Politik Gubernur Jenderal Banten. Ironisnya untuk menyuap Ketua Mahkamah Konstitusi dengan nilai milyaran rupiah, mampu mereka lakukan. Tapi untuk membangun jembatan bagi rakyat kecil, tak sedikitpun hati nurani mereka tergerak untuk memperhatikannya

Berita Lainnya :