Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Dana Silpa Untuk Gelanggang Remaja di Kota Depok

Ratusan milyar dana program pembangunan di Kota Depok tiap tahun selalu harus kembali ke kas daerah karena Pemerintah Kota Depok tidak mampu mengelola anggaran. Program pembangunan di Kota Depok banyak yang tersendat akibat anggaran tidak terserap secara maksimal sehingga harus dikembalikan ke kas daerah dalam bentuk sisa lebih penggunaann anggaran (silpa). Artinya, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tidak mampu merealisasikan pembangunan dan menyerap anggaran yang telah ditetapkan.

Peningkatan Silpa di Kota Depok ini bukanlah satu prestasi yang patut dibanggakan, karena tingginya Silpa membuktikan bahwa penyerapan anggaran di Kota Depok sangat rendah. Indiikator ini juga membuktikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok ternyata tidak sehat, Tingginya Silpa ini juga menunjukan bahwa kinerja Pemerintah Kota Depok tidak optimal, Sehingga berdampak pada macetnya program pembangunan yang langsung menyentuh pada kepentingan masyarakat.

Masih banyak kepentingan masyarakat yang belum tersentuh oleh Pemerintah Kota Depok, misalkan perbaikan jalan, gedung sekolah, pembangunan sarana dan prasarana bagi aktifitas remaja seperti keberadaan gelanggang remaja dan kebutuhan lain berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Seharusnya Pemkot Depok lebih cermat dalam merancang sebuah perencanaan. Tingginya Silpa menjadi indikator bahwa Pemkot Depok mempunyai kelemahan dalam hal perencanaan atau membuat perencanaan yang tidak benar.

Tingginya besaran Silpa di Kota Depok tentunya mendorong peningkatan dana idle (nganggur) di perbankan. Seharusnya daripada menempatkan dana di bank, alangkah lebih efektifnya bila dana nganggur tersebut digunakan untuk percepatan pembangunan bagi kepentingan masyarakat, misalkan untuk pembangunan gelanggang remaja di Kota Depok yang keberadaanya sangat dibutuhkan oleh para remaja sebagai wadah untuk kegiatan yang positif, apalagi kehidupan remaja di Kota Depok, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Akibat maraknya peredaran narkoba, tawuran antar pelajar, pergaulan bebas dan lain sebagainya.

Menjadi sebuah pertanyaan, mengapa dana Silpa tersebut tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya ? Apakah ada unsur kesengajaan dibalik membengkaknya Silpa Pemerintah Kota Depok dari tahun ke tahun, terutama bila dikaitkan dengan bunga deposito dari sisa lebih penggunaan anggaran tersebut. Apalagi Silpa Pemerintah Kota Depok memang terus membengkak sejak tahun 2006. Silpa tahun 2008 mencapai Rp.200 Milyar, Silpa tahun 2009 sebanyak Rp.197 Milyar, Silpa APBD Tambahan (ABT) 2012 mencapai Rp.256 Milyar dan diprediksi akan terus bertambah pada tahun 2013 menjadi Rp.300 Milyar.

Bunga deposito yang berasal dari sisa lebih penggunaan anggaran Pemkot Depok sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2012, nilainya sangat besar dan dana tersebut disimpan di Bank Jabar Banten Cabang Kota Depok. Bila diperkirakan, rata-rata Silpa tersebut bisa mencapai Rp.250 Milyar/tahun sepanjang 2006-2012. Bila dikalikan dengan bunga deposito tentu nilainya sangat besar. Menjadi sebuah pertanyaan, kemanakah bunga dan berapakah sebenarnya bunga dari dana yang berasal dari Silpa. Siapakah sebenarnya yang menggunakan uang dari bunga deposito Silpa tersebut. Inikan uang rakyat dan diperuntukkan buat rakyat bukan buat kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Berita Lainnya :