Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Modus Penipuan RSUD Kota Depok

Isu buruk tentang pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok kini sudah mendekati titik terang, RSUD yag berlokasi di daerah sawangan itu ternyata telah lalai atau ceroboh dalam menjalankan fungsinya sebagai rumah sakit yang harus memberikan pelayanan medis yang terbaik bagi masyarakat.

Sikap lalai dan ceroboh yang dilakukan oleh petugas medis di RSUD milik pemerintah Kota Depok itu ternyata hampir menimbulkan korban jiwa, malah terindikasi ada dugaan bahwa sikap lalai itu bagian dari modus penipuan yang dilakukan oleh pihak RSUD Kota Depok.

Terungkapnya sikap lalai pihak Rumah Sakit itu berawal dari musibah yang menimpa salah satu sahabatku yang bernama yoyo efendi ketika sedang menghadapi kondisi kritis akibat terserang penyakit jantung.

Mengapa petugas medis RSUD itu bisa melakukan perbuatan ceroboh yang bisa berdampak pada hilangnya nyawa seseorang. Padahal seharusnya pihak rumah sakit bisa segera mengambil tindakan medis untuk menyelamatkan kondisi kritis pasien yang ditanganinya. Kalau dikatakan tidak mampu atau tidak mempunyai peralatan untuk menangani penyakit jantung, mengapa pihak rumah sakit tidak secara tegas mengatakannya dari awal ? Lebih aneh lagi, kalau pihak rumah sakit merasa tidak mampu untuk menangani kondisi pasien tetapi mengapa pasien justru disuruh menandatangani perjanjian kesepakatan antara pasien dan pihak rumah sakit.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari yoyo efendi, peristiwa itu terjadi pada hari sabtu tengah malam dua hari setelah umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri 1434 H, seluruh badan yoyo terlihat membiru, melihat kondisi yoyo seperti itu, tanpa menunggu waktu lama lagi, yoyo segera dibawa kerumah sakit harapan yang berlokasi di jalan pemuda Kota Depok yang memang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Sebelum pihak keluarga yoyo melakukan pendaftaran, pihak rumah sakit harapan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan awal dan akhirnya menyatakan tidak sanggup dan tidak mempunyai peralatan terkait dengan penyakit jantung yang diderita oleh yoyo.

Setelah pihak rumah sakit menyatakan tidak sanggup, yoyo akhirnya dibawa ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Kota Depok yang berlokasi diwilayah sawangan. Tanpa menyatakan sanggup atau tidak sanggup, setelah pihak keluarga yoyo registrasi dan membayar biaya pendaftaran, pihak RSUD langsung melakukan tindakan medis dengan menginfus pasien yoyo. Setelah itu pihak keluarga yoyo disodorkan perjanjian kesepakatan antara pasien dan pihak rumah sakit, inti dari perjanjian itu adalah pihak keluarga pasien tidak boleh menuntut dan pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu terhadap pasien.

Malapetaka itu pun akhirnya tiba, setelah mendapat infus dari petugas medis ternyata kondisi yoyo bukannya semakin membaik tetapi justru semakin kritis, seluruh badannya mendadak kedinginan bahkan yang memeluk yoyo pun terasa bergetar tak tahan menahan dingin yang dialami oleh yoyo. Tangan yoyo tempat jarum infus terlihat seperti memar berwarna hitam. Keadaan semakin kritis, pihak keluarga dan para sahabat yang mengantar yoyo terlihat begitu panik, anehnya petugas medis pun hanya melihat saja tanpa melakukan tindakan medis apapun padahal kondisi yoyo dalam keadaan kritis.

Disaat kritis seperti itu, salah satu kerabat yoyo spontan berinisiatif mencabut slang infus ditangan yoyo. Setelah slang infus dicabut mendadak tubuh yoyo berangsur normal, rasa dinginnya pun sedikit demi sedikit mulai menghilang. Namun wajah pucat yoyo masih terlihat dan kondisi badannya pun tetap membiru tidak berubah. Setelah melihat kondisi pasien seperti itu, pihak RSUD langsung menyatakan tidak sanggup dan tidak mempunyai peralatan yang memadai untuk menangani kondisi penyakit jantung yang diderita oleh yoyo.

Kenapa pihak rumah sakit baru menyatakan tidak sanggup dan tidak mempunyai peralatan medis untuk menangani penyakit jantung yang diderita yoyo, mengapa pernyataan ini muncul setelah pihak keluarga melakukan proses pendaftaran dan menandatangani perjanjian antara pihak keluarga dan pihak rumah sakit. Sikap pihak RSUD milik Pemerintah Kota Depok ini tentunya patut dipertanyakan, kondisi ini sangat beda ketika yoyo dibawa ke rumah sakit harapan yang secara fair menyatakan tidak sanggup menangani pasien penyakit jantung.

Sikap lalai dan ceroboh pihak RSUD Kota Depok yang tetap menerima pasien diluar batas kemampuan pihak rumah sakit tersebut tentunya patut dipertanyakan, hingga diduga sikap lalai dan ceroboh ini terindikasi bermodus penipuan. Karena faktanya pihak rumah sakit hanya mau menerima biaya dari pihak keluarga pasien tanpa mampu berbuat apa-apa terhadap kondisi pasien yang hampir kehilangan nyawa akibat kecerobohan pihak rumah sakit yang lalai dalam melakukan tindakan medis awal terhadap kondisi pasien yoyo.

Kalau memang tidak sanggup mengapa tidak dikatakan dari awal, hingga sangat pantas bila sikap RSUD seperti itu patut diduga bermodus penipuan, targetnya hanya sekedar ingin mencari untung dengan mengabaikan keselamatan pasien. Melihat kenyataan ini, tentu kita bisa membayangkan, terhadap pasien yang tidak mempergunakan kartu jamkesda saja pihak RSUD sudah memberikan pelayanan yang sangat buruk apalagi terhadap pasien yang mempergunakan kartu jamkesda. Apalagi kalau motivasi rumah sakit hanya sekedar ingin mencari keuntungan saja.

Setelah pihak RSUD menyatakan tidak sanggup dan keluarga yoyo membayar biaya administrasi dan biaya lainnya yang berjumlah kurang lebih 600 ribu rupiah, yoyo pun akhirnya dibawa ke rumah sakit bakti yudha yang berlokasi di jalan sawangan namun sama seperti rumah sakit harapan, ternyata rumah sakit bakti yudha pun menyatakan tidak sanggup menangani penyakit jantung yang diderita oleh yoyo. Kondisi yoyo terlihat semakin kritis, dari rumah sakit bakti yudha akhirnya pihak keluarga membawa yoyo kerumah sakit mitra keluarga yang berlokasi dijalan margonda raya.

Mendengar cerita panjang yoyo tentang kronologis perjalanannya hingga sampai dirawat di rumah sakit mitra keluarga, saya dan teman-teman yang mendengarnya menjadi miris, ternyata isu tentang pelayanan buruk RSUD milik Pemerintah Kota Depok itu bukan sekedar isapan jempol saja. Walikota Depok harus memberikan sanksi yang tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab mengelola rumah sakit milik Pemerintah Kota Depok itu, jangan sampai stigma buruk pelayanan RSUD Kota Depok nantinya menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan layanan kesehatan. Apalagi rumah sakit itu dibiayai oleh APBD yang notabene adalah uang rakyat yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan masyarakat dan bukan sekedar mencari keuntungan tapi mengabaikan keselamatan masyarakat yang ingin mendapatkan layanan kesehatan.

Berita Lainnya :
Humor Hati Nurani
Posyandu Untuk Remaja
Pusat Rehabilitasi Korban Politik Kancil Pilek
Walikota Depok Terancam Pidana Lima Tahun
Peran DPRD Dalam Pemakzulan Walikota Depok
Dana Silpa Untuk Gelanggang Remaja di Kota Depok
Istri Walikota Depok Tertangkap Melanggar Peraturan
Pertigaan Raden Saleh Butuh Perhatian Pemkot Depok
Kebutuhan Gelanggang Remaja di Sukmajaya Kota Depok
Tragedi Memilukan Korban Jaminan Persalinan di Kota Depok