Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Caleg Kota Depok Masuk Rumah Sakit Jiwa

Pesta demokrasi lima tahunan Pemilihan Umum (pemilu) 2014 dalam hitungan bulan lagi akan segera dilaksanakan, tepatnya tanggal 9 April 2014, berduyun-duyun rakyat Indonesia akan mempergunakan hak pilihnya untuk memilih calon wakil rakyat (cawara) atau yang lebih popular sering disebut sebagai calon legislatif (caleg). Rakyatlah nanti yang akan menentukan, Siapa yang layak dipercaya sebagai wakil rakyat untuk memperjuangkan nasib mereka yang selama ini selalu menjadi korban keserakahan para politisi yang lebih mementingkan diri sendiri dan kelompoknya daripada memikirkan nasib bangsa dan rakyatnya.

Belajar dari pesta demokrasi lima tahunan sebelumnya, belajar dari kehidupan rakyat Indonesia yang masih seperti ini dan seakan tidak ada perubahan, belajar dari tingkah laku para elit partai yang lebih mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya. Apakah dari belajar ini ? Masyarakat akan menghukum mereka dengan tidak memilih calon wakil rakyat yang tidak pro terhadap rakyat. Semua keputusan tetap ada ditangan rakyat dan semoga ini menjadi pembelajaran yang berharga bagi rakyat untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi kemajuan bangsa dan perbaikan nasib rakyat kedepan agar lebih baik lagi.

Rakyat memang harus belajar dari pengalaman untuk tidak membeli kucing dalam karung ketika mempergunakan hak pilihnya. Para calon wakil rakyat pun harus belajar untuk tidak memakai cara-cara kotor dalam meraih dukungan dan simpatik masyarakat. Seharusnya calon wajik rakyat tidak perlu lagi menghambur-hamburkan uang layaknya lembaga sosial atau seperti dinas pekerjaan umum yang harus memperbaiki sarana lingkungan, jalan dan sebagainya demi mencari dukungan dan simpatik masyarakat. Sudah banyak calon wakil rakyat yang jadi korban bahkan sampai masuk rumah sakit jiwa akibat stres karena tidak terpilih menjadi wakil rakyat bahkan ada diantaranya yang sudah tidak memiliki harta benda lagi karena terlalu bernafsu untuk menjadi wakil rakyat dengan menjual harta benda yang dimilikinya.

Berdasarkan catatan pada pemilihan umum 2009 ternyata banyak ratusan caleg yang stres karena hartanya terkuras. Umumnya para caleg stres ini setelah gagal terpilih menjadi anggota legislatif, tingkah lakunya menjadi aneh dan mendadak menjadi lupa diri bahwa yang bersangkutan pernah menjadi seorang dermawan dadakan. Banyak diantara caleg stres ini mengambil kembali apa yang sudah diberikan pada masyarakat bahkan ada yang nekad melakukan bunuh diri hingga tewas.

Para caleg stres ini ternyata tidak siap kalah. Ada yang kekayaannya ludes, sampai terjerat hutang segala. Mereka depresi atas kehilangan harta benda yang sudah dikeluarkan saat masa kampanye. Maklumlah, para Caleg itu sudah mengeluarkan uang ratusan juta rupiah, dan harta benda miliknya hilang begitu saja. Selain itu ada yang ditinggal pergi oleh keluarganya. Sehingga, para Caleg itu stres dan mendadak menjadi edan, karena sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Sudah hilang Harta benda, keluarganya pun sudah tidak ada lagi karena meninggalkannya.

Bicara caleg stres ternyata bukan hanya terjadi pada pemilu tahun 2009 namun pada pemilu tahun 2004 ternyata kondisinya sama saja bahkan ada yang jadi pasien jiwa di rumah sakit jiwa Marzuki Mahdi di Kabupaten Bogor, Para caleg stres dan sudah jadi pasien jiwa ini berjumlah 20 orang, Mereka datang dari Bogor, Depok dan Bekasi. Awalnya para caleg stres ini setelah gagal menjadi anggota legislatif, mereka mengaku kadang-kadang merenung sendirian di dalam rumah, dan sering marah-marah kepada keluarganya. Pasien jiwa para Caleg itu hanya berobat jalan sampai sembuh. Kini kondisi para pasien jiwa itu sudah sehat dan hidup secara wajar.

Mungkinkah pada pemilu 2014 keberadaan caleg stres ini akan terulang kembali. Berdasarkan pengamatan, diperkirakan kondisinya sama saja bahkan tidak menutup kemungkinan akan lebih parah lagi dari pemilu sebelumnya dan diprediksi banyak caleg yang akan dirawat di rumah sakit jiwa. Apalagi pada Pemilu 2014 sistemnya juga sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya terutama berkaitan dengan jadwal waktu yang sangat lama. Dimulai dari Agustus 2013 sampai dengan April 2014.

Sehingga jadwal waktu yang sangat lama ini tentunya akan banyak menguras waktu, tenaga, pikiran dan uang. Ditambah semua caleg berpeluang sama besar untuk memperoleh suara pendukung, karena penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak yang diperoleh oleh masing-masing caleg. Akibatnya, para caleg tentunya akan berlomba-lomba mengeluarkan harta benda yang dimilikinya untuk mendapatkan dukungan dan simpatik masyarakat.

Berita Lainnya :