Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Caleg Marginal Lebih Diminati Masyarakat Sukmajaya

Sering kita mendengar istilah kata kaum marginal atau masyarakat yang terpinggirkan, tersisih dan terisolasi. Umumnya masyarakat marginal ini sangat rentan untuk dimanipulasi terutama dalam konteks pemilu maupun pemilukada. Biasanya pada saat itu kaum marginal hanya dimanfaatkan sebagai alat mobilisasi dan selalu menjadi korban terhadap budaya praktek money politik. Kaum marginal ini selalu menjadi sasaran empuk untuk bagi-bagi uang maupun sembako, hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi yang sulit dan pemahaman yang kurang sehingga membuat mereka terdorong untuk memberikan hak pilih demi selembar 50 ribu rupiah atau 100 ribu rupiah dan janji-janji palsu lainnya.

Selain adanya masyarakat marginal, sekarang ini menjelang pelaksanaan pemilihan umum 2014 ternyata ada istilah baru yang lagi ngetren yakni keberadaan caleg marginal atau calon legislatif yang tidak diperhitungkan sama sekali, bahasa kasarnya caleg terpinggirkan alias caleg dengan nomor urut sepatu. Karena umumnya caleg marginal ini selalu berada pada nomor urut yang tidak diperhitungkan sama sekali, keberadaan caleg marginal ini lebih tepatnya hanya sebagai pelengkap, baik sekedar untuk memenuhi kuota maupun hanya sebagai penambah suara bagi perolehan suara partai pada pemilihan umum.

Walaupun caleg marginal bagaikan kaum termarginalkan namun dengan adanya Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak, putusan MK ini ternyata membuat caleg marginal lebih mempunyai peluang untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menjadi wakil mereka di lembaga legislatif. Saat ini peluang caleg marginal memang lebih terbuka lebar malah tidak menutup kemungkinan caleg marginal ini lebih banyak diminati oleh masyarakat, terutama diminati oleh pemilih rasional yang selama ini cenderung lebih selektif dalam memilih maupun tidak memilih alias golput pada setiap event pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah.

Banyak beberapa alasan mengapa pemilih rasional lebih berminat terhadap caleg marginal, salah satunya adalah berkaitan dengan fenomena golput yang kini mulai ada kesadaran bagi masyarakat rasional untuk tidak melakukan gerakan golput yang selama ini sering mereka lakukan pada setiap event pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah.

Masyarakat rasional mulai menyadari bahwa ternyata golput itu tidak bisa merubah apapun, mereka sadar bahwa dengan tidak memilih maka berarti secara tidak langsung mereka memberikan persetujuan pada mereka yang memilih padahal selama ini kita tahu bahwa yang selama ini menjadi pemilih aktif adalah masyarakat irasional yang sering dimanfaatkan dan menjadi korban terhadap budaya praktek money politik. Pemilih irasional ini selalu menjadi sasaran empuk untuk bagi-bagi uang maupun sembako, hal ini disebabkan karena pemahaman yang kurang dan kondisi ekonomi yang sulit sehingga membuat mereka terdorong untuk memberikan hak pilih demi selembar 50 ribu atau 100 ribu rupiah dan janji-janji palsu lainnya.

Masyarakat rasional mulai sadar bahwa peran mereka sebenarnya sangat besar sebagai penyeimbang terhadap maraknya praktek money politik yang selama ini sering terjadi, praktek kotor inilah yang membuat kondisi kehidupan bernegara tidak berjalan dengan baik dan sudah barang tentu biasanya rakyat yang menjadi korbannya, Sehingga fakta ini membuktikan bahwa langkah golput yang sering mereka lakukan ternyata tidak bisa merubah apapun malah keberadaan golput ini justru membuat para oknum pelaku money politik sangat senang karena pesta poranya dengan masyarakat irasional bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Namun kini kesadaran itu mulai nampak apalagi dengan adanya fatwa dari MUI yang menyatakan bahwa golput itu haram hukumnya.

Lalu apa hubunganya antara masyarakat rasional dengan caleg marginal ? Hubungan ini terkait dengan perubahan sikap masyarakat rasional yang salah satunya tidak ingin golput tapi mereka ingin berpartisipasi dalam pemilihan umum, mereka meyakini bahwa diantara banyak partai, masih ada partai yang relatif masih bersih dari skandal korupsi dan masih peduli pada kepentingan rakyat. Info lengkapnya bisa dilihat disini : Partai Politik Paling Layak Dipilih di Pemilu 2014

Dan bila ada partai yang terlibat korupsi, umumnya pelakunya adalah para oknum elit partai, Karena itu masyarakat rasional akan menghukum para oknum elit partai ini untuk tidak terpilih lagi menjadi anggota legislatif apalagi umumnya para oknum elit partai ini justru masih mendominasi diurutan nomor kopiah.

Masyarakat rasional ingin memberikan pembelajaran pada elit partai yang masih mendominasi di urutan nomor kopiah. Dan maksud dari pembelajaran ini adalah berkaitan dengan keinginan masyarakat rasional bahwa elit partai itu seharusnya berkonsentrasi membesarkan partai dan bukan partai dijadikan kendaraan politik pribadi untuk meraih kekuasaan dengan menjadi anggota legislatif serta kedepannya elit partai diharapkan juga harus memilih salah satu diantara sebagai anggota legislatif, elit partai atau sebagai pejabat publik. Karena perangkapan jabatan antara pejabat politik dan pejabat partai membuat sistem politik bangsa menjadi porak poranda karena konflik kepentingan para elit partai. Info lengkapnya bisa dilihat disini : Masyarakat Menengah Kota Depok Harus peduli

Saat ini dalam hitungan bulan lagi pesta demokrasi lima tahunan pemilihan umum 2014 akan segera dimulai, bila tidak ada hambatan berarti tepat tanggal 9 April 2014 seluruh rakyat Indonesia akan berbondong-bondong mempergunakan hak pilihnya untuk memilih calon wakil rakyat atau calon legislatif berdasarkan daerah pemilihannya masing-masing, info lengkapnya bisa dilihat disini : Analisa Politik Peta Pemilu 2014 di Kota Depok

Dalam konteks Kota Depok, terdaftar dalam Daftar Calon Sementara (DCS) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok Pemilihan Umum 2014 yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum Kota Depok terdapat sejumlah bakal calon untuk seluruh daerah pemilihan sebanyak 554 orang yang tersebar di enam daerah pemilihan (Dapil). Para bakal calon itu berasal dari 12 partai politik peserta pemilihan umum 2014. Peta daerah pemilihan di Kota Depok terbagi dalam 6 Dapil yang meliputi Dapil Cimanggis, Dapil Sukmajaya, Dapil Pancoran Mas, Dapil Beji, Limo dan Cinere, Dapil Sawangan, Bojong Sari dan Cipayung, Dapil Cilodong dan Tapos.

Diantara enam Dapil di Kota Depok, ternyata ada satu dapil yang mempunyai ciri khas tersendiri yakni Dapil Sukmajaya, hal ini karena masyarakat sukmajaya lebih banyak bermukim di daerah perumahan, baik perumahan kelas atas maupun kelas menengah maka berdasarkan kondisi ini tentunya masyarakat sukmajaya mempunyai karakteristik tersendiri dan cenderung bersikap sebagai pemilih rasional. Karena masyarakat sukmajaya lebih banyak pemilih rasional maka diprediksi caleg marginal akan lebih banyak diminati oleh masyarakat sukmajaya. Hal ini terkait dengan pembelajaran dari masyarakat rasional terhadap tingkah laku para elit partai.

Berita Lainnya :