Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Membedah Tuntas Proyek Benih Kopi Anis Matta

Berita Presiden PKS Anis Matta kecipratan uang 1.9 milyar membuat publik tercengang, Berita menghebohkan ini di publikasi oleh seluruh media cetak maupun elektronik. Terungkapnya Anis Matta kecipratan uang 1.9 Milyar berdasarkan surat dakwaan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum pada sidang perdana terdakwa Luthfi Hasan Isaaq di pengadilan Tindak Pidana korupsi (Tipikor) Jakarta. Jaksa Penuntut Umum dari KPK mengungkapkan bahwa Presiden PKS Anis Matta diduga terlibat dalam proyek pengadaan benih kopi di Kementerian Pertanian pada tahun 2012-2013.

Jaksa penuntut umum mengatakan bahwa uang 1.9 milyar itu diberikan oleh Ahmad Fathanah berdasarkan perintah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq terkait dengan pengadaan dan distribusi benih kopi ke sejumlah propinsi di Indonesia, Pemberian uang 1.9 Milyar itu berawal dari komunikasi antara Anis Matta dengan Yudi Setiawan setelah Ahmad Fathanah membawa data yang disebut Fathanah berasal dari Anis Matta.

Pemberian uang itu terjadi pada 18 September 2012 setelah Ahmad Fathanah menyampaikan tentang proyek benih kopi tahun 2013 dengan membawa berkas pengadaan yang menurutnya diperoleh dari Anis Matta. Untuk menyakinkan Yudi, Fathanah menelepon seseorang yang disebutnya Anis Matta selaku Wakil Ketua DPR/Sekretaris Jenderal PKS, lalu menyerahkan HPnya kepada Yudi untuk berbicara langsung dengan Anis Matta.

Fathanah kemudian meminta Yudi memberikan uang muka untuk ijon proyek. Uang tersebut merupakan fee 1% dari pagu anggaran senilai 189 milyar, tak lama kemudian Yudi pamit pulang ke apartemen untuk mengambil uang dan kembali ke kantornya untuk menyerahkan uang tersebut pada Ahmad Fathanah sebanyak Rp. 1.562.200.000 dalam bentuk dolar Singapura 140 ribu dan US$50 ribu.

Setelah menerima pemberian uang itu, Ahmad Fathanah mengingatkan Yudi bahwa uang muka masih kurang Rp.338 juta. Keesokan harinya, Yudi memerintahkan stafnya bernama Dedi Pomad untuk mengecek proyek bibit kopi itu ke Ditjen Perkebunan Kementan. Ternyata informasi itu benar, setelah mendapat informasi Yudi akhirnya memberikan sisa uang sebanyak Rp.338 juta dengan mentransfer uang tersebut sebanyak delapan kali ke Ahmad Fathanah melalui ATM dari kantor Bank Mandiri KCP Wolter Monginsidi.

Bila kita menganalisa dari pembacaan surat dakwaan yang mengatakan bahwa Anis Matta diduga terlibat dalam proyek pengadaan benih kopi di Kementerian Pertanian pada tahun 2012-2013. Tentunya dari penjelasan ini kita dapat melihat adanya dua kegiatan yang sudah dan sedang digarap oleh Anis Matta dalam kegiatan pengadaan benih kopi, diantara dua kegiatan itu diduga saling berhubungan yakni antara kegiatan yang sudah berlangsung maupun kegiatan yang akan berlangsung.

Hal ini terlihat begitu mudahnya Yudi setiawan memberikan uang dengan nilai nominal yang sangat besar tanpa dia pernah merasakan adanya kenikmatan disana dan kenikmatan itu justru pernah didapat dari kegiatan yang sudah berlangsung pada tahun 2012, sehingga ketika ada permintaan uang muka untuk kegiatan yang akan berlangsung pada tahun 2013 dan nilainya kegiatannya lebih besar, maka tanpa ragu-ragu lagi Yudi langsung memberikan uang permintaan Anis Matta melalui Ahmad Fathanah.

Dalam surat dakwaan disebutkan bahwa nilai kegiatan pengadaan benih kopi di kementerian pertanian pada tahun 2013 sebanyak 189 milyar, dari nilai proyek tersebut muncul angka uang muka sebesar 1.9 milyar bagian dari fee 1% dari pagu anggaran 189 Milyar. Lalu bagaimana dengan kegiatan yang sudah berlangsung pada tahun 2012, karena dalam surat dakwaan itu disebutkan adanya dugaan Keterlibatan Anis Matta dalam proyek pada tahun 2012-2013.

Mari kita lihat kegiatan yang sudah berlangsung terkait dengan kegiatan pengadaan benih kopi di kementerian pertanian dan keberhasilan dari kegiatan ini diduga adalah kenikmatan yang sudah dinikmati oleh Yudi Setiawan sehingga ketika ada tawaran baru dengan kegiatan yang sama di tahun mendatang (2013), maka tanpa ragu-ragu lagi Yudi Setiawan langsung menyetujui permintaan uang muka karena sudah pernah merasakan kenikmatan sebelumnya.

Kegiatan yang sudah berlangsung di Kementerian pertanian pada tahun 2012 yang sudah dinikmati oleh Yudi Setiawan adalah kegiatan pengadaan benih kopi arabika dan benih kopi robusta serta benih kopi excelsa konvensional dengan nilai pagu anggaran Rp.39.560.000.000,- dan nilai HPS Rp. 37.270.000.000, Berdasarkan jadwal di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Kementerian Pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juni s/d bulan Agustus 2012. Kegiatan ini dimenangkan oleh PT CIPTA TERANG ABADI perusahaan milik Yudi Setiawan.

Kegiatan pengadaan benih kopi arabika dan benih kopi robusta serta benih kopi excelsa konvensional, dalam kegiatan itu patut diduga adanya praktek persaingan usaha tidak sehat dalam persekongkolan tender yang berpotensi merugikan Keuangan Negara.

Bahwa Kegiatan pengadaan benih kopi arabika dan benih kopi robusta serta benih kopi excelsa konvensional dengan nilai pagu anggaran Rp.39.560.000.000,- dan nilai HPS Rp. 37.270.000.000,- Dari 44 (empat puluh empat)) Peserta lelang, hanya 4 (empat) peserta lelang yang memasukkan penawaran, serta Dari 4 (empat) peserta lelang yang memasukkan penawaran panitia pengadaan barang dan jasa telah menunjuk PT CIPTA TERANG ABADI dengan nilai penawaran Rp 36.612.500.000,- sebagai Pemenang Kegiatan lelang dan PT UNISARI ADIPRIMA dengan nilai penawaran Rp 36.750.000.000,- sebagai pemenang cadangan, Penunjukan pemenang ini berdasarkan hasil evaluasi terhadap peserta lelang dengan rincian PT HIDUP INDAH UTAMA dengan nilai penawaran Rp 32.322.000.000,- dan PT CEUDAH RAYA KOMUNIKA dengan nilai penawaran Rp 34.867.800.000,- dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan teknis.

Menangnya PT CIPTA TERANG ABADI dalam kegiatan tersebut patut diduga adanya persaingan usaha tidak sehat dalam bentuk persekongkolan vertikal atau persekongkolan yang terjadi antara salah satu peserta lelang atau beberapa peserta lelang dengan panitia tender, Indikasi terjadinya persekongkolan vertikal pada Kegiatan tersebut terkait dengan pengalaman kerja yang tidak dimiliki oleh PT CIPTA TERANG ABADI padahal pengalaman kerja menjadi salah satu persyaratan mutlak dalam kegiatan tersebut, apalagi panitia lelang dalam kegiatan tersebut mempersyaratkan setiap peserta lelang harus mempunyai pengalaman dibidang pembenihan perkebunan.

Indikasi PT CIPTA TERANG ABADI tidak mempunya pengalaman kerja dibidang pembenihan perkebunan dapat dilihat dari latarbelakang perusahaan tersebut yang justru bergerak dibidang kontraktor kelistrikan dengan NPWP : 03.071.346.5-606.000 yang beralamat di : Ngagel utama selatan 4/2 RT 003/RW001 Kel.Pucung Sewu.Kec.Gubeng Surabaya. Untuk mengecek apakah perusahaan tersebut mempunyai pengalaman kerja, salah satunya bisa dicari dengan mengetik beberapa kata kunci yang bisa dicari di pencarian google, misalkan dengan kata kunci NPWP atau nama perusahaan tersebut.

Selanjutnya bila kita melihat jadwal lelang tersebut yang penandatanganan kontraknya pada bulan Agustus 2012 dengan jadwal pemberian uang Yudi Setiawan untuk Anis Matta pada bulan September 2012, tentunya patut diduga pemberian uang itu terkait juga dengan kenikmatan yang telah di peroleh oleh Yudi karena telah memenangkan kegiatan tender pada kegiatan pengadaan benih kopi arabika dan benih kopi robusta serta benih kopi excelsa konvensional di Kementerian Pertanian.

Mengapa hal ini ada kaitannya karena berdasarkan surat dakwaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum dari KPK yang mengungkapkan bahwa Presiden PKS Anis Matta diduga terlibat dalam proyek pengadaan benih kopi di Kementerian Pertanian pada tahun 2012-2013. Untuk kegiatan pada tahun 2012, setelah di telusuri di LPSE kementerian Pertanian ternyata terbukti ada kegiatan yang dimenangkan oleh perusahaan milik Yudi Setiawan, apalagi kegiatan tersebut terindikasi adanya praktek persekongkolan persaingan usaha tidak sehat yang berpotensi merugikan keuangan Negara.

Sedangkan untuk kegiatan 2013 memang belum dilaksanakan dan Yudi Setiawan kini sudah menjadi pesakitan terlebih dahulu serta sudah memberikan uang muka sebesar 1.9 Milyar untuk Anis Matta. Antara kegiatan yang sudah dilaksanakan dan belum dilaksanakan, KPK memang harus segera mengusut secara tuntas adanya dugaan keterlibatan Presiden PKS Anis Matta dalam proyek benih kopi di kementerian pertanian.

Berita Lainnya :