Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Kamar Misterius Ini Membuat Kader PKS Histeris

Malam jum'at ini suasana begitu mencekam, terjaga dari tidur karena mimpi yang kurang indah memang sangat menjengkelkan apalagi mendadak perut lapar namun tak ada satu pun makanan yang tersisa di meja makan, mau beli makanan diluar tetapi diluar pun udara terasa dingin dan sepi dari lalu lalang kendaraan, Kulihat anak-anak juga sudah terlelap tidur, tinggallah aku sendirian dikamar tanpa ditemani istri tercinta yang memang sudah tiga hari ini tugas keluar kota.

Untungnya disaat suasana yang mencekam dan perut sedang kelaparan ini, masih ada sebungkus rokok dan secangkir kopi sebagai teman iseng untuk menemaniku berselancar di dunia maya sambil menunggu waktu subuh tiba, ketika sedang asyik berselancar didunia maya, tiba-tiba muncul ide untuk menulis sebuah cerita, karena tergelitik dengan sebuah berita disalah satu media online yang menceritakan tentang keberadaan kamar misterius di medan yang sempat menghebohkan publik, karena kamar misterius tersebut telah dijadikan tempat pertemuan rahasia antara mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq, Menteri Pertanian Suswono, Ahmad Fathanah, Elda Devianne Adiningrat dan Maria Elizabeth Liman.

Keberadaan kamar misterius ini terungkap, ketika kasus suap impor renyah daging berjanggut digelar pada sidang perdana di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) di Jakarta dengan menghadirkan dua terdakwa yakni Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi, kedua kakak beradik ini adalah direksi PT Indoguna Utama.

Dalam sidang perdana itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dibacakan oleh Siswanto mengatakan bahwa pertemuan dengan Suswono itu dilakukan atas desakan dari Direktur Utama PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman, Dari pertemuan yang terjadi tanggal 28 Desember 2012 di restoran Angus Steak House di Chase Plaza antara Maria Elizabeth Liman, Elda Deviane, Ahmad Fathanah dan juga Luthfi Hasan Ishaaq, disepakati akan ada pertemuan lanjutan dengan Mentan Suswono.

Kemudian mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq menyanggupi dan mengupayakan untuk mempertemukan Maria Elizabeth dengan Suswono bertepatan dengan acara safari dakwah PKS di Medan," kata Siswanto saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (24/4/2013). Kemudian, pertemuan dengan Suswono pun akhirnya terjadi pada tanggal 11 Januari 2013. Soewarso, orang dekat Suswono yang mengatur jadwal pertemuan pun kemudian menghubungi Elizabeth. Soewarso mengatakan agar bersiap melakukan pertemuan sekitar pukul 06.00 WIB di Hotel Santika Medan.

Namun kemudian Soewarso dihubungi lagi oleh Luthfi Hasan Isaaq supaya memberitahukan kepada Suswono agar pertemuan dilakukan di kamar Luthfi Hasan Isaaq yaitu kamar 9006 Hotel Aryaduta, Medan,“ kata Siswanto. Setelah perubahan tempat tersebut, kamar Luthfi Hasan Isaaq pun kemudian disepakati sebagai tempat pertemuan antara Maria Elizabeth Liman, Ahmad Fathanah, Luthfi Hasan Isaaq dan Suswono yang didampingi Soewarso. Dalam pertemuan itu Maria Elizabeth melakukan presentasi tentang perlunya penambahan kuota impor daging sapi tahun 2013 serta menyampaikan adanya praktek jual beli surat persetujuan impor daging sapi yang dilakukan beberapa perusahaan dan menyebabkan harga impor daging menjadi tinggi.

Jalannya sidang perdana kasus suap impor daging sapi ini ternyata semakin membuka mata publik, bahwa pertemuan dimedan itu memang benar adanya, malah pertemuan tersebut justru dilakukan dikamar mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq, Dan semakin terbuka lagi ternyata dua Direktur PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi, didakwa memberikan hadiah atau janji berupa uang Rp 1,3 miliar kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekaligus Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luhtfi Hasan Ishaaq. Pemberian uang itu dilakukan melalui orang kepercayaan Luhtfi Hasan isaaq yakni Ahmad Fathanah.

Menurut surat dakwaan, uang Rp 1,3 miliar tersebut diberikan agar Luthfi menggunakan kedudukannya untuk mempengaruhi pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) agar memberikan rekomendasi penambahan kuota impor daging sapi tahun 2013 untuk PT Indoguna Utama dan perusahaan lain yang masih tergabung dalam grup PT Indoguna. Posisi Luthfi sebagai Presiden PKS dianggap mampu memengaruhi Menteri Pertanian Suswono yang juga merupakan petinggi PKS.

Surat dakwaan juga menyebutkan, uang Rp 1,3 miliar yang diberikan kepada Luthfi tersebut merupakan bagian dari keseluruhan komitmen fee senilai Rp 40 miliar. Komitmen fee itu dihitung dari kuota tambahan impor daging sapi Grup PT Induna Utama sebanyak 8.000 ton dikalikan Rp 5.000/kg.

Pertemuan di medan yang dihadiri oleh para dedengkot persapian Indonesia yakni mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq, Menteri Pertanian Suswono, Ahmad Fathanah, Elda Devianne Adiningrat dan Maria Elizabeth Liman yang selama ini dibantah oleh kader-kader PKS hanyalah sebatas pertemuan untuk membandingkan perbedaan data yang dimiliki oleh Mentan Suswono dengan data dari Asosiasi Perbenihan Indonesia, apalagi posisi Elda Devianne Adiningrat adalah sebagai ketua umum Asosiasi Perbenihan Indonesia.

Kini bantahan kader-kader PKS itu terjawab sudah, ternyata bantahan itu hanyalah propaganda palsu dalam rangka membangun imej seolah-olah Luthfi Hasan Isaaq tidak melakukan perbuatan menjual pengaruh terkait kasus suap impor renyah daging berjanggut. Padahal faktanya, pertemuan di medan itu benar adanya malah pertemuan itu justru dilakukan dikamar Luthfi Hasan Isaaq yaitu dikamar 9006 di Hotel Arya Duta Medan

Pertemuan Dikamar yang selama ini misterius itulah yang terungkap melalui sidang perdana kasus suap impor renyah daging berjanggut dipengadilan tindak pidana korupsi di Jakarta, sehingga terungkapnya pertemuan dikamar yang misterius itu, semakin menguatkan peran Luthfi Hasan Isaaq yang memanfaatkan pengaruhnya untuk mendapatkan rezeki sedikit kurma dan segenggam berlian, konyolnya Luthfi Hasan Isaaq juga pernah meminta uang pada Maria Elizabeth Liman untuk biaya Safari Dakwah PKS Wilayah Sumatera.

Fakta menguatkan peran Luthfi Hasan Isaaq dalam pusaran hitam daging berjanggut akibat pertemuan dikamar misterius tersebut, telah membuat kader-kader PKS menjerit histeris, mereka tidak menyangka bahwa mantan presidennya terlibat secara langsung dalam permainan kotor impor renyah daging berjanggut di Kementerian Pertanian, fakta ini juga mengisyaratkan bahwa dibalik jeritan histeris Kader PKS, kini mereka telah sadar dan mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah, mereka telah terbangun dari mimpi kalau ternyata mantan presidennya itu benar-benar terlibat dalam pusaran hitam daging berjanggut.

Kalau boleh dibuat persamaan, para kader PKS yang telah menjerit histeri dan mengibarkan bendera putih ini, layak diibaratkan seperti murid eyang subur yang terbangun dari mimpi akibat terhipnotis oleh ulah gurunya sendiri.

Lihat saja murid-murid eyang subur, setelah mereka tahu kalau gurunya mempunyai ajaran sesat, tanpa basa basi lagi, murid-murid eyang subur langsung meninggalkannya, begitu juga dengan kasus mantan presiden PKS, setelah mereka tahu kalau Luthfi Hasan Isaaq mantan presidennya itu terlibat kasus suap impor renyah daging berjanggut, sedikit demi sedikit mereka mulai sadar dan siap-siap meninggalkannya.

Berita Lainnya :