Iklan Layanan Padepokan Tumaritis

Iklan Layanan Padepokan Tumaritis

Ada Sertifikat Anis Matta di Tas Ahmad Fathanah

Ahmad Fathanah akhir-akhir menjadi begitu penting terutama terkait keterlibatannya sebagai orang kepercayaan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Isaaq, Bagaimana melalui Ahmad Fathanah akhirnya terungkap adanya sebuah persekongkolan persaingan usaha tidak sehat terkait kuota daging impor di Kementerian Pertanian.

Luthfi Hasan Isaaq memang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK bahkan langsung ditangkap segera, setelah KPK menyergap orang kepercayaan Luthfi, Achmad Fathanah beserta teman wanitanya Maharani Suciyono alias Rani di Hotel Le Meridian, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2013) malam.

Luthfi dan Fathanah dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 5 Ayat (1) atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Sang pemberi suap, direktur PT Indoguna Utama (IU), Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi juga dijebloskan dalam tahanan. Sedangkan Rani, panggilan akrab Maharani, dipulangkan setelah diinterogasi KPK. Di tas mahasiswi cantik itu ditemukan uang Rp 10 juta yang diduga bagian barang bukti suap Rp 1 miliar yang dibawa Fathanah.

Persahabatan Luthfi Hasan Isaaq dan Ahmad Fathanah ini memang bukan pertemanan biasa. Mereka bahkan membuat perusahaan bersama, yakni PT Atlas Jaringan Satu yang bergerak di bidang perdagangan. Luthfi menjadi Komisarisnya, sedangkan Olong Achmad Fadli Luran yang diduga adalah Ahmad Fathanah, menjabat sebagai Direktur. Perusahaan ini disebut-sebut sebagai perusahaan Luthfi ketika masih menjadi Bendahara Umum PKS.

Malah akibat persahabatan yang kental ini, jauh sebelum kasus suap daging impor terkuak, Mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Olong Ahmad pernah berurusan dengan hukum karena terlibat kasus penipuan senilai Rp 5,4 miliar. kasus penipuan ini terjadi pada tahun 2005, berawal ketika Olong Achmad Fadli atau yang kini popular bernama Ahmad Fathanah telah membuat perjanjian untuk menyediakan voucher pulsa Mentari dan Simpati sebesar Rp 7,1 miliar pesanan Amalia Murad Husain Direktur PT Osami Multimedia.

Namun perjanjian ini ternyata dilanggar, PT Atlas Jaringan Satu telah melakukan wan prestasi. Saat memasuki bulan keempat, ternyata penyediaan itu tersendat sehingga masih menyisakan voucher senilai Rp 5,4 miliar. Akibatnya kedua orang ini berurusan dengan polisi hingga akhirnya kasus ini digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Pada proses persidangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan Luthfi Hasan Ishaaq. Sampai saat ini khusus untuk Luthfi, belum ada kejelasan soal perkembangan kasusnya.

Siapakah Ahmad Fathanah, apakah dia hanya berteman dengan Luthfi Hasan Isaaq ataukah ada lingkaran lain dibalik akrabnya Luthfi dan Fathanah, Apakah Fathanah hanya akrab dengan Luthfi dan hanya sekedar menjadi kurir atau operator lapangan saja, apakah tidak ada petinggi-petinggi Partai Keadilan Sejahtera lainnya yang juga melakukan hal yang sama, terutama keterkaitan melakukan bisnis terhadap Ahmad Fathanah. Entah bisnis apa tentunya patut ditelusuri oleh pihak penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Apalagi berdasarkan fakta yang diungkap oleh Majalah Tempo edisi Februari 2013 yang menurunkan laporan utama tentang Partai Putih di Pusaran Kasus Hitam, laporan itu membuka fakta tentang kasus dugaan suap yang melibatkan Luthfi dan pentolan PKS lainnya.

Kejadian sebelum Ahmad Fathanah diringkus KPK beberapa jam sebelumnya pada Selasa, 29 Januari 2013, menggambarkan kedekatannya dengan Anis Matta yang saat itu menjabat Sekjen PKS. Pada Selasa siang dua pekan lalu, dari apartemen Margonda Residence, Depok, tempat tinggalnya, Ahmad meluncur ke Senayan. Di gedung DPR, ia menemui Luthfi dan Anis.

Ahmad memang bukan orang asing dimata Anis. Petunjuknya ada di dalam tas jinjing Ahmad yang disita KPK setelah ia ditangkap di kamar 1740 Hotel Le Meridien bersama perempuan muda bernama Maharani, Selasa malam dua pekan lalu. Beberapa lembar salinan sertifikat rumah atas nama istri pertama Anis, Anaway Irianti Mansyur, terselip di dalam tas pria itu. sehingga jejak Anis Matta secara tidak langsung ada didalam tas Ahmad Fathanah yang telah disita KPK.

Dimintai konfirmasi pada Kamis pekan lalu, Anis tak membantah kenal Ahmad. Dia menyatakan tahu karena keluarga lelaki itu merupakan pengasuh pondok pesantren terkenal di Sulawesi Selatan, tempat asalnya. Anis mengatakan lupa waktu terakhir kali Ahmad datang ke ruangannya--yang pasti, kata dia, bukan Selasa siang dua pekan lalu, sebelum Ahmad ditangkap KPK. Ketika itu, Ahmad membawa seseorang yang berniat menjadi calon Gubernur Nusa Tenggara Barat. “Kami membahas persiapan pilkada di beberapa tempat,” kata Anis

Satu demi satu kini semakin terungkap, KPK harus terus menyelidiki sampai tuntas kasus suap ini, Bila Mempergunakan logika yang sangat sederhana, seharusnya penetapan Luthfi dan Fathanah bisa menjadi anak tangga untuk membongkar lebih jauh, bukan hanya sekedar skandal suap daging impor namun tidak menutup kemungkinan masih ada kasus-kasus lain yang melibatkan Luthfi dan Fathanah beserta lingkarannya.

Tentunya publik saat ini tinggal menunggu gebrakan selanjutnya dari KPK ? Apakah kasus suap ini hanya ada di Kementerian Pertanian atau justru diduga di Kementerian lain yang Menterinya berangkat dari Partai Keadilan Sejahtera juga melakukan hal yang sama, karena sekarang ini sudah ada pemikiran di masyarakat, pantesan PKS tidak mau menarik Menterinya di kabinet ternyata disana ada daging empuk untuk kesejahteraan.

Berita Lainnya : 
Target PKS Bukan Presiden Tapi Pos Strategis
Nyanyian Merdu Rani Untuk Presiden PKS 
Bocoran Kata Sandi Fathanah dan Luthfi Akhirnya Terungkap
Kisah Bisnis Mantan Presiden PKS Dengan Olong Ahmad
Luthfi dan Rani Ternyata Tinggal Satu RT