Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Suara Aher Tumbang di Kota Depok

Tanggal 24 Februari 2013, masyarakat Jawa Barat akan mempergunakan hak pilihnya dalam pesta lima tahunan pemilukada yang telah dianggarkan sebanyak Rp.1.047 triliun, Anggaran sedemikian besar hanya diperuntukan untuk memilih calon Kepala Daerah yang baru, padahal biaya yang sangat besar ini sebanding dengan biaya pembangunan sebanyak 15.314 ruang kelas baru atau dana sebesar itu bisa disetarakan dengan pembangunan jalan baru sepanjang 3.573 kilometer.

Alokasi anggaran Pemilukada sebesar itu diperuntukan bagi KPU Jawa Barat sebanyak 759.9 Milyar rupiah, 151 Milyar Rupiah untuk keperluan Panitia Pengawas serta 136.4 Milyar Rupiah diperuntukan bagi biaya keamanan. Namun ironisnya dana sebesar itu ternyata baru 57% saja masyarakat Jawa Barat yang tahu bahwa tanggal 24 Februari 2013 adalah hari pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, lalu untuk apa saja uang sebanyak itu ?

Saat in suhu politik pesta demokrasi lima tahunan tersebut sedang memanas, Ada lima calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat yang siap bertarung memperebutkan kursi orang nomor satu dan dua di Jawa barat, kelima calon itu Berdasarkan nomor urut adalah :

1. Dikdik Mulyana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib (independen)
2. Irianto MS Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim (Golkar)
3. Dede Yusuf-Lex Laksamana (Demokrat, PAN, PKB dan Gerindra)
4. Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar (PKS, PPP, Hanura, PBB)
5. Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki (PDIP).

Dari kelima pasang calon tersebut, kira-kira siapa yang berpeluang besar mendapat dukungan dari masyarakat Jawa Barat, berdasarkan Riset Lembaga Survei Nasional pada 18-20 September di 26 kota dan kabupaten di Jawa Barat menunjukkan popularitas dan elektabilitas Aher panggilan akrab Ahmad Heryawan (petahana) hanya 58 persen, jauh di bawah Dede Yusuf, yang mencapai 97 persen, atau Rieke Diah Pitaloka, dengan 68,1 persen.

Hasil survey sementara ini tentunya bisa menjadi peta kekuatan yang ada di jawa barat walaupun tidak menutup kemungkinan peluang calon underdog Irianto MS Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim (Golkar) dan Dikdik Mulyana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib (independen) yang tidak diperhitungkan sebelumnya justru akan memperoleh dukungan yang sangat kuat dari masyarakat,

Mengapa Aher sang petahana bisa mengalami penurunan popularitas dan elektabilitas, padahal sang petahana ini didukung oleh mesin politik PKS. Hasil survey ini membuktikan bahwa perjalanan aher selama memimpin jawa barat belum begitu optimal pencapaiannya sehingga berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap Aher semakin menurun. Namun lebih dari itu, menurunnya popularitas dan elektabiltas Aher tak lepas dari pengaruh partai pengusungnya PKS yang juga mengalami penurunan yang sama berdasarkan hasil Survey baru-baru ini yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia yang mengatakan bahwa elektabilitas PKS turun dari 7.8 persen pada pemilu 2009 menjadi 3.9 persen bila dilakukan pemilu pada saat ini.

Berhasilkah Aher merebut kembali mimpinya agar bisa terpilih lagi sebagai Gubernur Jawa barat untuk kedua kalinya ? Ccntoh kecil analisa kekalahan Aher di Kota Depok ini tentunya bisa menjadi gambaran secara umum peluang Aher di Jawa Barat. Mengapa harus Kota Depok menjadi contoh kecil kekalahan Aher, pertama Kota Depok dipimpin oleh kepala daerah yang berangkat dari PKS, kedua, Kota Depok adalah representasi dari suara pemilih PKS yang berangkat dari kalangan perkotaan terutama dari pemilih kalangan menengah keatas. Dari kedua alasan itulah Kota Depok dipilih sebagai contoh kecil kekalahan Aher berdasarkan analisa sebagai berikut :

Pertama :
Stigma suara Aher adalah suara PKS adalah wujud begitu kentalnya sosok aher yang tak lepas dari keberadaanya sebagai kader PKS, karena terkait dengan suara Aher adalah suara PKS, Perolehan suara yang akan dicapai oleh Aher dengan mesin politiknya PKS di Kota Depok bisa dilihat dari perjalanan suara pemilih PKS berdasarkan hasil perolehanan suara pada pemilu 2009 dan pemilukada Kota Depok 2010.

Pada pemilu tahun 2009, dari jumlah 1.7 Juta jiwa penduduk Kota Depok dan hasil perolehan suara total partai politik pada pemilu 2009 yang berjumalh 681.487, PKS hanya mampu memperoleh suara pemilih sebanyak 125.490. begitu juga pada pemilukada tahun 2010 ketika PKS mengusung kembali Nur Mahmudi Ismail sebagai Walikota Depok dari jumlah suara sah 555.565, Nur Mahmudi Ismail hanya mampu memperoleh suara pemilih sebanyak 227.744, suara ini pun diraih tak lepas dari dukungan suara beberapa partai nasionalis yang sempat dirangkulnya, namun rangkulan itu hanya bersipat taktis saja dan rangkulan yang bersipat taktis ini bisa menjadi pembelajaran yang berharga bagi partai nasionalis yang ingin berkoalisi dengan PKS khususnya di Kota Depok bahasa kasarnya kapok.

Gambaran perolehan suara PKS sebagaimana dimaksud diatas adalah cermin peta politik perolehan suara pemilih yang akan diraih oleh Aher, perolehan suara itupun tentunya akan berubah seiring dengan berubahnya perilaku pemilih terhadap PKS, Contoh pemilukada Jakarta bisa menjadi cermin kegagalan PKS mengusung Hidayat Nur Wahid sebagai Gubernur Jakarta, kondisi ini juga tentu tidak akan jauh berbeda dan tentu akan berdampak yang sama terhadap hasil perolehan suara Aher di Jawa Barat khususnya di Kota Depok yang karakteristik penduduknya hampir sama dengan Jakarta mengingat Kota Depok adalah pintu gerbang Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta.

Kedua :
Kisruh pemilukada Depok walaupun tidak ada hubungannya dengan Aher namun kasus ini setidaknya bisa membuat nama baik PKS melorot tajam, mengingat Walikota Depok terpilih adalah mantan pendiri dan presiden pertama PKS.

Para penggiat politik di Kota Depok telah menilai Nur Mahmudi Ismail diduga melakukan praktek kotor melalui permainan kedip mata dengan berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pemilukada Kota Depok. Malah saat ini di Kota Depok sedang berkembang isu bahwa pemilukada Depok akan segera diulang, tinggal menunggu penempatan Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Depok, santer terdengar nama Winwin Winantika mantan Sekda Kota Depok akan menduduki Plt Walikota Depok, isu terakhir penempatan Plt ini masih tarik ulur, tinggal menunggu waktu yang pas untuk segera dilaksanakan, apakah sebelum atau sesudah pemilukada Jawa Barat, sehingga ada sebagian penggiat politik di Kota Depok menilai berlarut-larutnya kisruh pemilukada Kota Depok tak lepas dari campur tangan Aher yang notabene adalah koleganya satu partai dengan Nur Mahmudi Ismail, karena tarik ulur ini berkaitan dengan kepentingan secara lebih luas terutama kepentingan pemilukada Jawa Barat.

Opini terus menerus kisruh pemilukada Kota Depok tentunya akan berpengaruh terhadap citra buruk PKS dimata masyarakat, karena publik tentu akan menilai bahwa pelaksanaan pemilukada Kota Depok diwarnai dengan dugaan perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh Walikota Depok terpilih Nur Mahmudi Ismail dengan melakukan kerjasama bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ? lihat saja di group-group facebook Kota Depok selalu saja setiap hari ada opini yang menilai pemilukada Kota Depok cacat hukum, sasaran tembaknya, siapa lagi kalau bukan PKS, Nur Mahmudi Ismail dan Ahmad Heryawan.

Ketiga :
Kasus dana bansos di Jawa Barat tentunya akan menjadi batu sandungan bagi Aher, , setidaknya dalam kasus dana bansos ini nama PKS tercoreng oleh ulah oknum kadernya Bambang Beny Erawan akibat terlibat dalam kasus bantuan sosial (bansos) pemerintah provinsi Jawa Barat tahun 2008 senilai Rp 87 miliar. Bambang Beny Erawan adalah anggota DPRD Jawa Barat periode 2004-2009 dari PKS

Beni diduga terlibat dalam penyalahgunaan pengadaan alat kesehatan mata di Dinas Kesehatan senilai Rp.800 juta. Dalam fakta persidangan terungkap, Beni terlibat pengadaan alat kesehatan dua rumah sakit senilai Rp.800 juta. Dia diketahui menerima uang senilai Rp.125 juta dari salah satu rekan tersangka.

Kasus dana bansos ini membuat publik Kota Depok tercengang tiada hari tanpa pemberitaan buruk di media lokal maupun media online seperti twitter dan facebook terhadap kasus korupsi dana bansos ini, bukan hanya Beny bambang Eyawan saja yang telah ditetapkan sebagai tersangka, Mien Hartati Mantan Kepala Dinas Kesehatan kota Depok juga telah menjadi korban dari persekongkolan peruntukan dana bansos Jawa Barat.

Sehingga dengan adanya kasus ini setidaknya membuat citra PKS menjadi menurun di mata masyarakat. Tidak bisa dipungkiri kasus ini juga menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan terhadap kegagalan PKS pada pemilukada Jakarta terutama terkait dengan masalah pencitraan.

Keempat :
Prestasi dua tahun berturut-turut yang diraih oleh Kota Depok sebagai Kota dengan pelayanan terburuk se-indonesia dalam hal pelayanan publik, hal ini berdasarkan hasil survey indeks intregritas pelayanan publik yang dilakukan oleh KPK.

Bukti hasil survei indeks intregritas sektor pelayanan publik yang dilakukan KPK dengan menempatkan Kota Depok di posisi paling buncit se-Indonesia merupakan bukti kegagalan dan ketidakmampuan Nurmahmudi Ismail sebagai Kepala Daerah Kota Depok, padahal kita semua tentu tahu bahwa Mur Mahmudi Ismail adalah mantan presiden pertama dan pendiri PKS.

Dampak dari predikat terburuk ini tentunya akan menimbulkan kekecewaan yang sangat dalam bagi masyarakat Kota Depok dan membuat malu warga Kota Depok sehingga hal ini akan berpengaruh sangat besar bagi perolehan suara Aher di Kota Depok, kalau ada survey yang mengatakan Aher didukung 80% warga Kota Depok, jelas survey itu sipatnya mengada-ada tanpa didasari oleh fakta yang ada.

Demikian sedikit analisa yang bisa disampaikan, terkait dengan perolehan suara Ahmad Heryawan atau Aher dalam konteks Kota Depok yang juga bisa menjadi gambaran secara umum kekalahan Aher di jawa barat, beberapa faktor lain yang mempengaruhi kekalahan Aher di Jawa Barat bisa lihat DI SINI

Berita Lainnya:
Pesta Pora Oknum Ustad di Kota Depok
* Mempertanyakan Gelar Doktor Ahmad Heryawan
Mengapa PKS Syukuran Karena Tidak Jadi Kiamat
Seperti Diki Chandra Wakil Walikota Depok Mundur
Pertarungan Head To Head Antara Dede dan Rieke
Enam Analisa Sederhana Kekalahan Aher di Jawa Barat