Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Pertarungan Head To Head Dede dan Rieke

Pesta demokrasi lima tahunan pemilukada jawa barat sudah dimulai, nantinya tepat tanggal 24 Februari 2013. Seluruh rakyat Jawa barat akan mempergunakan hak pilihnya untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa barat, inilah pesta demokrasi lima tahunan terbesar kedua setelah pemilukada Jakarta.

Jawa Barat dengan jumlah populasi terbesar di Indonesia mencapai 49.153.773 Jiwa, karena itu dengan jumlah penduduk yang sangat besar ini tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi partai politik untuk menjadikan Jawa Barat sebagai lumbung suara bagi kepentingan politiknya dengan menguasai propinsi terbesar di Indonesia tersebut melalui pemilukada.

Saat ini kurang lebih tiga puluh tujuh juta suara sedang diperebutkan oleh lima calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh Komisi pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, kelima calon tersebut berdasarkan nomor urut adalah :

1. Dikdik Mulyana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib (independen)
2. Irianto MS Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim (Golkar)
3. Dede Yusuf-Lex Laksamana (Demokrat, PAN, PKB dan Gerindra)
4. Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar (PKS, PPP, Hanura, PBB)
5. Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki (PDIP).

Dari kelima pasang calon tersebut, kira-kira siapa yang berpeluang besar mendapat dukungan dari masyarakat Jawa Barat, berdasarkan Riset Lembaga Survei Nasional pada 18-20 September di 26 kota dan kabupaten di Jawa Barat menunjukkan popularitas dan elektabilitas Aher panggilan akrab Ahmad Heryawan (petahana) hanya 58 persen, jauh di bawah Dede Yusuf, yang mencapai 97 persen, atau Rieke Diah Pitaloka, dengan 68,1 persen.

Mengingat banyaknya calon peserta pemilukada serta prosentase dari masing-masing calon yang hampir seimbang dalam hal popularitas dan elektabilitas maka diprediksi pemilukada jawa barat akan berlangsung dua putaran, karena masing-masing calon tidak ada yang mencapai 30 persen suara sebagai syarat memenangi pemilukada satu putaran, hingga putaran kedua ini lah yang diperkirakan berlangsung lebih seru karena akan terjadi head to head atau satu lawan satu.

Diperkirakan dari 5 pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, yang akan di prediksi maju keputaran kedua adalah pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana melawan pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki. Analisa ini berdasarkan tingkat kepopularan masing-masing kandidat serta perilaku pemilih Jawa Barat yang mempunyai karakteristik tersendiri.

Mengapa Ahmad Heryawan (petahana) yang berpasangan dengan Dedi Mizwar bisa tersingkir dalam pertarungan putaran kedua, padahal sang petahana ini didukung oleh mesin politik PKS. Lihat saja hasil survey, walaupun Aher sang petahana namun tingkat kepopularan dan elektabilitasnya jauh dibanding dengan Dede Yusuf dan Rieke Diah Pitaloka. Indikator hasil survey ini membuktikan bahwa perjalanan Aher selama memimpin jawa barat belum begitu optimal pencapaiannya dan tidak tepat sasaran, terbukti walaupun Aher banyak menerima penghargaan selama memimpin Jawa barat namun ternyata penghargaan itu tidak mampu menaikkan popularitas Aher dimata masyarakat, mengapa hal ini bisa terjadi ?

Karena keberhasilan pemerintah salah satunya diukur dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan saat ini IPM Jawa Barat tidak beranjak dari posisi menengah dan masih menduduki peringkat ke 15 di tingkat nasional, kondisi ini sangat kontras dengan penghargaan yang diraih oleh Aher sebanyak 71 Penghargaan di tingkat nasional, dan kondisi ini juga hampir sama dengan penghargaan terhadap Gubernur Jawa Tengah yang mendapat penghargaan 96 penghargaan tingkat nasional namun IPM Jawa tengah masih menduduki peringkat ke 16 satu tingkat diatas IPM Jawa Barat. Ternyata yang namanya penghargaan itu secara riil belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, wajar saja kalau IPM nya rendah dan pengangguran masih tinggi serta pelanggaran hukum seperti korupsi masih marak di Jawa Barat

Selanjutnya gagalnya Aher maju dalam putaran kedua tak lepas dari stigma suara Aher adalah suara PKS karena terkait dengan suara Aher adalah suara PKS, maka perolehan suara yang akan dicapai oleh Aher dengan mesin politiknya PKS akan mengalami penurunan yang sangat tajam mengingat PKS sendiri popularitas dan elektabiltasnya juga anjlok berdasarkan hasil Survey baru-baru ini yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia yang mengatakan bahwa elektabilitas PKS turun dari 7.8 persen pada pemilu 2009 menjadi 3.9 persen bila dilakukan pemilu pada saat ini, malah survey dari CSIS menyebutkan suara PKS hanya 3.1 persen.

Gambaran perolehan suara PKS sebagaimana dimaksud diatas adalah cermin peta politik perolehan suara pemilih yang akan diraih oleh Aher, perolehan suara itupun tentunya akan berubah seiring dengan berubahnya perilaku pemilih terhadap PKS, Contoh pemilukada Jakarta bisa menjadi cermin kegagalan PKS mengusung Hidayat Nur Wahid sebagai Gubernur Jakarta, kondisi ini juga tentu tidak akan jauh berbeda dan tentu akan berdampak yang sama terhadap hasil perolehan suara Aher di Jawa Barat malah diprediksi akan lebih parah.

Terkait dengan calon lain yang tidak lolos maju ke putaran kedua adalah Irianto MS Syafiuddin-Tatang Farhanul Hakim yang diusung oleh Partai Golkar, Walaupun jawa barat adalah lumbung suara partai Golkar namun sayangnya golkar kekurangan kader yang popular dimata masyarakat jawa barat sehingga hanya Irianto saja yang terlihat lebih mempunyai peluang karena cukup dikenal di wilayah pantura mengingat beliau pernah menjabat bupati indramayu selama dua periode dan saat ini bupati indramayu dipegang oleh istrinya Irianto, sehingga diprediksi perolehan suara Irianto hanya dominan di wilayah pantura dan perolehan suara ini tentunya tidak begitu besar dan diperkirakan tidak mampu bersaing dengan perolehan suara yang akan diraih oleh pasangan Dede Yusuf dan Rieke Diah Pitaloka.

Begitu juga calon dari jalur independent yaitu Dikdik Mulyana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib juga diperkirakan tidak akan mampu memperoleh dukungan dari masyarakat, mengingat kedua kandidat dari jalur independen tersebut tidak mempunyai massa akar rumput yang jelas serta kurang popular dimata masyarakat, harapan mereka hanya pada suara dukungan yang telah diberikan masyarakat kepada mereka melalui pemberian dukungan KTP sebagai syarat calon independen, hasil perolehan suara mereka pun nanti diperkirakan bisa tidak sesuai dengan jumlah dukungan yang ada ketika mereka menyerahkan untuk mendaftar ke KPU.

Berdasarkan analisa diatas maka diprediksi pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana dan pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki akan bertarung satu lawan satu atau head to head pada putaran kedua. Analisa ini berdasarkan tingkat kepopularan dan elektabiltas kedua pasangan itu yang menempati urutan tertinggi pertama dan kedua berdasarkan Riset Lembaga Survei Nasional.

Pertarungan head to head ini adalah kejutan dari kurang lebih tiga puluh tujuh juta konstituen Jawa Barat yang mempergunakan hak pilihnya dan kejutan ini adalah bagian dari dinamika kehidupan demokrasi walaupun harus mengorbankan keuangan APBD jawa barat dengan nilai yang sangat spektakuler sebanyak Rp.1.047 Triliun dipergunakan hanya untuk pesta demokrasi lima tahun pemilihan kepala daerah di jawa barat, entah berapa ratus milyar lagi yang akan dibutuhkan bila analisa head to head putaran kedua ini benar-benar terjadi.

Berita Lainnya : 
Enam Analisa Sederhana Kekalahan Aher di Jawa Barat
Suara Ahmad Heryawan Tumbang di Kota Depok