Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Penjara Sukamiskin Sudah Tidak Miskin Lagi

Lagu naik kereta api tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita, dari tahun enam puluhan sampai saat ini lagu tersebut masih tetap disukai oleh anak-anak Indonesia. Lagu dengan syair, naik kereta api, tut, tut, tut, siapa hendak turut, ke bandung, surabaya, bolehlah naik dengan percuma. Ayo temanku Keretaku tak berhenti lama.

Alunan lagu naik kereta api ini sepertinya sangat tepat sekali sebagai pengiring perjalanan para narapidana korupsi asal surabaya yang akan dipindah ketempat yang baru di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin Bandung Jawa Barat. 30 narapidana korupsi asal surabaya ini memang mempergunakan Kereta Api Eksekutif Argowilis, mereka naik dengan cuma-cuma tanpa mesti bayar layaknya syair lagu naik kereta api, bolehlah naik dengan percuma alias gratis, hanya bedanya mereka naik kereta api ini bukan dari Bandung ke Surabaya tetapi justru dari Surabaya ke Bandung.

Bukan hanya narapidana asal surabaya yang akan dipindah ke lapas sukamiskin, narapidana kasus korupsi yang lain di seluruh Indonesia, nantinya akan segera menyusul terkait dengan telah ditetapkannya Lapas Sukamiskin sebagai tempat peristirahatan bagi para koruptor untuk menjalani masa hukuman dan menikmati pahitnya Hotel Prodeo Sukamiskin di Kota Bandung yang penuh dengan sejarah tersebut, karena dipenjara inilah, bapak bangsa kita Soekarno pernah mengalami masa-masa pahit zaman perjuangan ketika dipenjara oleh penjajah belanda.

Saat ini jumlah narapidana korupsi di seluruh Indonesia sebanyak 1800 pesakitan sedangkan ruangan tahanan yang ada di sukamiskin hanya 546 unit dan sebanyak 165 unit masih dipergunakan untuk narapidana umum sehingga menjadi sebuah pertanyaan, mengapa kalau sudah ditetapkan sebagai penjara khusus kasus korupsi tetapi masih disisakan untuk narapidana umum, alasan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana karena penjara yang lain masih over kapasitas.

Sepertinya alasan ini patut diduga ada udang dibalik batu atau adanya kepentingan terselubung, mengingat 165 narapidana umum yang tersisa diduga nantinya dapat dipergunakan untuk melayani para narapidana kasus korupsi ?

Dugaan ini berlatar belakang kondisi secara riil kehidupan didalam penjara, apakah para napi korupsi itu mau membersihkan WC, mencabut rumput, memasak untuk kebutuhan para napi dan tugas-tugas lainnya yang wajib dilaksanakan oleh para narapidana sehingga dengan disisakannya narapidana umum dipenjara sukamiskin setidaknya keberadaan para narapidana umum ini dapat menjalankan tugas kehidupan sehari-hari didalam penjara yang tidak akan mungkin mau dilakukan oleh narapidana korupsi, apalagi para narapidana korupsi ini secara materi mampu untuk memberi sesuatu pada narapidana umum yang lazimnya kehidupan narapidana umum ini secara ekonomi masuk kategori miskin karena itu mereka dimanfaatkan dalam bahasa kasarnya para narapidana umum ini akan dijadikan jongos atau corve untuk melayani para narapidana korupsi.

Mudah-mudahan ini hanya sebuah dugaan, apalagi kebijakan penetapan Lapas Sukamiskin menjadi tempat khusus bagi narapidana korupsi adalah sebuah kebijakan yang baru dan sudah tentu prosesnya dibuat secara bertahap. Lambat laun kedepannya penjara sukamiskin murni hanya dihuni oleh para pesakitan kasus korupsi dan para penghuninya benar-benar dapat menjalani hukuman dan menikmati pahitnya hidup didalam penjara tanpa segala macam fasilitas mewah. Nantinya Narapidana korupsi ini akan menempati sebuah kamar yang hanya berukuran 2 x 2.5 meter plus kamar mandi yang sempit, serta dilarang membawa televisi dan mereka juga bakal bertanggungjawab sendiri atas kebersihan kamar selnya tanpa perlu pembantu lagi yang sebelumnya pembantu ini umumnya diambil dari narapidana umum.

Kalau Lapas Sukamiskin benar-benar murni hanya dihuni oleh para narapidana khusus kasus korupsi tentunya penjara yang dibangun pada tahun 1817 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan penuh dengan sejarah ini akan berubah menjadi kebun baru bagi para koruptor, sehingga Lapas Sukamiskin yang dulu hanya dihuni oleh para napi umum dengan latar belakang kehidupan ekonomi yang masuk kategori miskin, kini Lapas Sukamiskin sudah tidak miskin lagi sebab para penghuninya adalah para koruptor yang secara materi mereka adalah orang-orang yang bergelimpangan dengan harta benda tetapi masih rakus juga untuk melakukan perbuatan korupsi.

Berita Lainnya
Hukuman Liar Bagi Pemerkosa di Penjara