Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Kota Depok Diserang Ribuan Ulat Bulu

Hujan berhari-hari yang mengguyur wilayah Jabodetabek bukan hanya menyebabkan banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya, namun dampak lain dari curahan hujan secara terus menerus ini ternyata membuat ulat bulu tumbuh dan berkembang sangat cepat disaat curah hujan tinggi, hal ini terjadi karena jasad renik pemakan telur ulat yakni Brakonid dan Apanteles tak bisa tumbuh karena terus menerus hujan. Brakonid dan Apantales ini adalah predator pemakan telur ulat, jika curah hujan tinggi Brakonid dan Apantales tidak bisa hidup sehingga tak bisa memakan telur ulat dan membuat ulat bulu akhirnya berkembang dengan cepat.

Selain itu berkembangnya Ulat bulu dengan sangat cepat diduga juga akibat hilangnya musuh alami ulat bulu yaitu burung, parasitoid dan beberapa predator lain, Sehingga tidak ada kontrol populasi yang berakibat jumlah ulat bulu semakin banyak dan berkembang biak dengan cepat. Semestinya, musuh alami ulat bulu itu memberikan parasit pada telur ulat, menyebabkan dari ribuan telur ulat hanya beberapa telur saja yang berhasil jadi ulat. Ketika musuh alami itu hilang maka jumlah telur yang menetas semakin banyak.

Keberadaan ulat bulu yang sangat banyak dan berkembang pesat tentunya bisa berubah menjadi wabah. Walaupun Keberadaan ulat bulu memang tidak membahayakan manusia, kemungkinan besar jika terkena kulit hanya menyebabkan gatal atau alergi. Tapi jika ulat bulu dalam jumlah banyak menyerang rumah-rumah warga, menempel di dinding, lantai hingga plafon rumah, tentu dapat meresahkan juga. Kondisi seperti inilah yang sekarang terjadi di sejumlah wilayah di Kota Depok.

Sejumlah wilayah yang diserang ribuan ulat bulu diantaranya di RW 22 dan RW 23 Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, begitu juga di RW 05 Kelurahan Jatijajar Kecamatan Tapos serta di RW 07 Kelurahan Mampang Kecamatan Pancoran Mas. Khususnya di lingkungan RT 01 RW 22 Kelurahan Bakti Jaya serangan ribuan ulat bulu ini sudah terjadi sejak seminggu yang lalu, Awalnya warga mengira, datangnya ulat bulu keluar dari sarangnya nanti juga bakalan habis, tetapi sudah hampir satu minggu ternyata ulat bulu itu bukan hanya menempel dibatang pohon dan batu-batuan tetapi malah semakin banyak bahkan sampai masuk kerumah-rumah warga dan menempel di badan jalan gang haji usin, kata yandi ketua RT yang didampingi oleh Ketua LPM Bakti Jaya ketika ditanya oleh wartawan lokal koran monitor depok.

Bukan hanya di Kelurahan Bakti Jaya, Serangan ribuan ulat bulu ini juga meresahkan warga Kelurahan Jatijajar, karena tak hanya merayap di pekarangan dan menempel ditembok rumah warga tapi masuk juga kedalam rumah. Menurut Lurah Jatijajar Hasan Nurdin, Warganya sudah melakukan berbagai tindakan diantaranya mengolesi oli di sejumlah tempat, menyebar garam disekeliling rumah, hingga mematikan ulat dengan cara dibakar, tetapi ulat tersebut malah semakin bertambah banyak. Begitu juga yang terjadi di Kelurahan Mampang, Sejumlah pohon mangga milik warga terpaksa ditebang lantaran dihinggapi banyak ulat bulu, ukuran ulat bulu ini sedang, berwarna hitam dan berbulu lebat.

Fenomena serangan ribuan ulat bulu di Kota Depok bukan hanya terjadi saat ini saja, setahun yang lalu dibulan yang sama juga pernah terjadi, ribuan ulat bulu menyerang di berbagai wilayah di Kota Depok, Mengapa serangan ulat bulu ini selalu hadir setiap tahunnya, kondisi ini tentunya menjadi sebuah pertanyaan ? apakah semua yang terjadi ini karena ekosistemnya sudah rusak sehingga musuh alami ulat bulu bisa sampai hilang. Namun jika kita mau merunut lagi ke belakang, maka pada akhirnya kitalah manusia yang menjadi ’tersangka utama’ dan faktor terbesar hilangnya musuh alami ulat bulu ini.

Saat ini di Kota Depok sangat langka kita menemukan burung-burung hinggap di pohon-pohon dekat rumah atau di sekitar lingkungan kita. Baik karena pohonnya tidak ada atau semakin sedikit, atau juga karena burung-burung tersebut musnah diburu manusia. Lahan kosong yang dulunya tempat pohon-pohon tumbuh kini pohon itu ditebang, diganti dengan tembok-tembok batu. Padahal pohon-pohon itu menjadi rumah bagi beberapa hewan, akibatnya sedikit demi sedikit burung dan binatang lain terusir dan tidak memiliki rumah lagi. Jika pohon banyak yang hilang, maka rumah beberapa hewan yang mungkin saja menjadi predator alami ulat bulu juga akan musnah.

Sedikit demi sedikit wilayah Kota Depok yang dulunya hijau tertutup rumput maupun semak berubah menjadi tempat pemukiman, apalagi banyak lahan terbangun yang tidak mengindahkan dampak lingkungan misalkan membuat hamparan semen untuk kepentingan lahan parkir kendaraan dengan alasan kita tidak mau kotor karena terkena tanah becek ketika hujan, juga dengan alasan kepraktisan agar tidak perlu merawat tananam atau alasan lain. Kita pun seringkali lupa dengan akibat perbuatan kita, tanah yang tertutup semen mengakibatkan air tidak meresap ke tanah, akhirnya kita akan kekurangan air jika musim kemarau tiba dan banjir di musim hujan.

Kondisi ini tak lepas juga dari kebijakan Pemerintah Kota Depok yang tidak berorientasi pada lingkungan, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang seharusnya bisa menjadi payung hukum ternyata hanya sekedar lembaran peraturan layaknya macan ompong. Padahal salah satu tujuan dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) adalah terselenggaranya pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan dalam segala aspek kegiatan pembangunan. Melalui RTRW inilah sebenarnya menjadi sokoguru bagi pembangunan suatu wilayah.

Berita Lainnya : 
* Komunitas Orang-Orang Bernama Agus
Wisata Flying Fox di Margonda Kota Depok