Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Gelar Doktor Ahmad Heryawan Diduga Palsu

Banyak orang yang berpendapat, mengapa kita mesti pusing mikirin gelar orang lain toh tidak merugikan kita apalagi negara, biarkan saja orang mau pakai gelar anu, gelar itu, ngapain dipikirin, begitu aja kok repot.


Sungguh aneh dengan pemikiran seperti ini, siapa bilang pengguna gelar tidak merugikan ? Coba kita berpikir dan merenungkan barang sejenak, berapa banyak dampak dan kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan gelar palsu atau penggunaan gelar yang tidak semestinya ini.


Tanpa kita sadari ternyata penggunaan gelar palsu dapat menanamkan persepsi yang salah di mata masyarakat terutama generasi muda, apalagi contoh buruk penggunaan gelar palsu yang dilakukan oleh para orangtua yang tidak malu-malu lagi mempertontonkan kepalsuan ini, sehingga generasi muda tentu akan berpikir, mengapa harus repot-repot menempuh pendidikan tinggi kalau faktanya sangat mudah untuk mendapatkan gelar tanpa harus melalui proses pembelajaran di perguruan tinggi/universitas. Dan pengguna gelar palsu ini juga telah melecehkan hakikat pendidikan yang sebenarnya, karena prinsip dan tujuan pendidikan tinggi adalah untuk menghasilkan sarjana yang berkualitas, Kondisi demikian tentunya dapat menghambat terciptanya sumber daya manusia yang handal dan dapat dimanfaatkan keilmuannya bagi kemajuan bangsa dan negara.


Belum lagi penggunaan gelar palsu yang dilakukan oleh para pegawai negeri yang ingin mendapatkan kenaikan jabatan, dengan harapan jabatannya naik, penghasilannya juga ikut naik, padahal kenaikan gaji tersebut didapat dari pemalsuan gelar, artinya sama saja dengan menipu negara dan bangsa, akibatnya negara yang dirugikan, bukan hanya kerugian secara materi karena uang negara ikut dihabiskan untuk menambah gaji, tunjangan, dan fasilitas yang didapat berdasarkan gelar akademik palsu tetapi juga kerugian kemampuan untuk mempergunakan keilmuannya bagi kepentingan bangsa dan negara.


Konyolnya pemalsuan gelar ini juga sering dilakukan oleh para calon kepala daerah atau legislatif dengan harapan penggunaan gelar ini dapat meningkatkan status sosial dimasyarakat sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri agar orang terkagum-kagum dengan prestasi keilmuannya tanpa disadari kalau ternyata gelar itu palsu. Melihat kenyataan ini sungguh amat menyedihkan karena dilakukan oleh orang yang merasa dirinya pantas menjadi kepala daerah atau wakil rakyat. Kita tentu tidak bisa membayangkan kalau dari awal saja sudah berani berbohong, bagaimana kalau sudah menjadi kepala daerah dan anggota legislatif.


Terdorong oleh pemikiran diatas, saya mencoba mengklarifikasi ketika menemukan adanya dua pencantuman gelar didepan nama Ahmad Heryawan Gubernur Jawa Barat pada spanduk, baliho dan banner yang di pasang di seluruh Jawa Barat. Pencantuman dua gelar Ahmad Heryawan bisa dilihat pada kedua foto di postingan dan fotonya bisa lihat DI SINI


Setelah melihat foto tersebut ternyata ada pencantuman dua gelar yang berbeda, pertama adalah pencantuman gelar akademik Doktor (DR) dan yang kedua adalah gelar kehormatan Doktor Honoris Causa atau DR (HC), memang sepertinya bagi masyarakat awam tentu persoalan gelar ini tidak menjadi masalah, namun bagi masyarakat yang paham tentang pencantuman gelar, tentunya ini menimbulkan sebuah tanda tanya, apakah Ahmad Heryawan benar mendapat gelar akademik Doktor (DR) atau hanya mendapat gelar kehomatan Doktor Honoris Causa alias DR (HC). 


Walaupun terlihat sama namun gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC) sangat jauh berbeda dengan gelar Doktor dari Akademik, kalau gelar kehormatan Doktor Honoris Causa adalah sebuah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/Univesitas yang memenuhi syarat kepada seseorang tanpa orang tersebut perlu mengikuti pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut, Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia. 


Sedangkan Doktor adalah gelar akademik tingkat tertinggi yang diberikan pada seseorang yang telah mengikuti program pendidikan Doktor (S3) pascasarjana, dan untuk mendapatkan gelar ini bukan sesuatu yang mudah, bagi mereka yang pernah melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar Doktor yang pantas, bagaimana mereka harus mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen penguji dan ini merupakan satu contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu. 


Dari penjelasan diatas setidaknya bisa menjadi gambaran, bagi seseorang yang senang memasang gelar didepan namanya tentu akan lebih memilih pencantuman gelar yang didapat dari gelar Akademik dibanding dengan gelar kehormatan, terkecuali bagi mereka yang memang tidak memperoleh gelar secara Akademik atau bahkan mereka mendapatkan gelar keduanya, baik gelar akademik maupun gelar kehormatan. dan biasanya bagi yang memiliki gelar keduanya tentu akan memilih gelar Akademik dibanding dengan gelar kehormatan untuk mencantumkan didepan namanya. Namun ada juga yang mencoba menghilangkan gelar kehormatan menjadi terlihat seperti gelar akademik. 


Maka melihat tampilan gambar spanduk dan baliho pada sosok Ahmad Heryawan yang terlihat ada dua pencantuman gelar yang berbeda tentunya menjadi sebuah pertanyaan, apakah pencantuman gelar Doktor didepan nama Ahmad Heryawan benar adanya dan murni didapat dari gelar akademik atau diduga sengaja menghilangkan gelar kehormatan Doktor (HC) menjadi Doktor tanpa (HC). Atau mungkin saja Ahmad Heryawan memang mendapat kedua gelar tersebut sehingga menjadi suka-suka buat orang yang mencantumkan gelar didepan namanya dalam spanduk ataupun Baliho. Namun ini akan menjadi masalah bila ternyata Ahmad Heryawan hanya mendapat gelar Doktor (HC) tetapi justru menghilangkan identitas (HC) karena dengan maksud apa identitas gelar kehormatan tersebut dihilangkan, bila ini benar-benar terjadi tentunya perubahan gelar tersebut akan berdampak negatif, Karena penggunaan gelar Akademik dan gelar kehormatan ada dasar hukumnya 


Terdorong rasa penasaran terhadap gelar yang dicantumkan didepan nama Ahmad Heryawan pada spanduk dan baliho, apalagi setelah dicari dari berbagai sumber terutama terkait dengan biografi pendidikan Ahmad Heryawan, Apakah benar Ahmad Heryawan sudah mendapatkan gelar akademik Doktor atau hanya sekedar gelar Kehormatan Doktor (HC) maka saya memberanikan diri mengirim surat secara langsung pada Gubernur Ahmad Heryawan untuk menanyakan tentang pencantuman gelar didepan namanya yang terpasang di ribuan spanduk dan baliho se jawa barat. Spanduk dan balihonya bisa dilihat : DI SINI

Setelah menunggu cukup lama jawaban dari Ahmad Heryawan dan ternyata jawaban surat tersebut sampai hari ini belum dibalas oleh yang bersangkutan, tetapi yang membuat saya cukup terkejut, bukan surat yang didapat namun justru seluruh spanduk dan baliho sejawa barat yang mencantumkan gelar didepan nama Ahmad Heryawan tersebut dihilangkan alias dicabut dari tempat pemasangannya, loh kenapa spanduk dan baliho tersebut mesti dicabut padahal ribuan spanduk dan baliho tersebut terpasang dengan tujuan untuk sosialisasi program Ahmad Heryawan selaku Gubernur Jawa Barat. Sangat disayangkan ribuan spanduk dan baliho yang dipasang oleh Instansi/Dinas propinsi Jawa Barat ternyata tidak berusia lama, apalagi pemasangan spanduk dan baliho sosialisasi tersebut sudah tentu mempergunakan dana APBD, berapa kerugian yang harus ditanggung oleh negara hanya karena adanya dugaan penggunaan gelar yang salah. 


Pencabutan dan ditariknya peredaran ribuan spanduk dan baliho ini tentunya menimbulkan tanda tanya besar, kadang terpikir apakah ini karena saya mengirim surat meminta klarifikasi tentang pencantuman gelar didepan namanya atau pencabutan spanduk dan baliho ini karena ada unsur lainnya, sampai hari ini saya masih tetap bertanda tanya ? jangan-jangan apa yang saya klarifikasi terhadap beliau benar adanya sehingga dugaan ada pencantuman gelar yang salah ini tentunya berakibat pada ditariknya peredaran spanduk dan baliho se jawa barat ? 


Kalau itu benar adanya tentu akan berakibat sangat buruk, karena dampak dari pencantuman gelar yang tidak semestinya tentu akan berakibat negative dan tentunya berimplikasi hukum. Karena Jika Ahmad Heryawan gelarnya hanya Doktor Honoris Causa, mengapa tidak dicantumkan gelar HC pada gelar Doktornya. Pencantuman HC adalah Wajib karena untuk mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa yang jelas gelar ini merupakan penghargaan dan bukan melalui jenjang pendidikan S3. 


Pertanyaannya apakah benar Ahmad Heryawan telah mendapatkan gelar Doktor, karena saya sudah mencari dari berbagai sumber di pencarian google, update di facebook dan twitter namun tetap saja tidak ditemukan jawaban dimana Ahmad Heryawan mendapatkan gelar Doktor dan tahun berapa mendapatkannya. Karena saya hanya mengenal beliau dengan nama H. Ahmad Heryawan, Lc dan penambahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (HC), Sehingga dengan pencantuman gelar Doktor didepan nama Ahmad Heryawan diduga palsu.


Berita lainnya :