Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Analisa Sederhana Kekalahan Aher di Jawa Barat

Sebelum menganalisa lebih jauh tentang peluang Ahmad Heryawan pada pemilukada jawa barat 2013, baiknya kita melihat dulu mengapa sosok Aher panggilan Ahmad Heryawan yang belum begitu dikenal oleh masyarakat Jawa barat tetapi mampu menyaingi calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang lebih dikenal oleh masyarakat Jawa Barat yaitu Danny Setiawan (incumbent gubernur) yang berpasangan dengan Iwan Sulanjana serta Agum Gumelar yang berpasangan dengan Nu’man Abdulhakim (incumbent wakil gubernur).

Sebenarnya kemenangan Aher ini tak lepas dari strategi jitu yang dilakukan oleh PKS dengan berkoalisi bersama PAN serta mengusung pasangan Aher dan Dede Yusuf sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013. PKS sadar bahwa tanpa pendamping yang lebih dikenal publik niscaya kemenangan akan bisa dicapai, Alhasil Duet Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf ternyata mampu meraih kemenangan pada pemilukada Jawa Barat tahun 2008 hingga mengantarnya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa barat periode 2008-2013.

Kondisi ini tentu akan jauh berbeda kalau Aher berpasangan dengan calon lain yang kurang popular dimata masyarakat Jawa Barat. Untuk strategi ini PKS patut mendapat acungan jempol, apalagi pasangan Aher dan Dede yusuf waktu itu dianggap sebagai pasangan underdog dibandingkan lawan yang terdiri dari mantan pejabat dan jenderal hebat yang sangat berpengalaman di jabatan pemerintahan. Kemenangan Aher ini memang tak lepas dari tampilnya figur Dede Yusuf yang mendampinginya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.

Bukti kuat peran Dede Yusuf bisa terlihat pada hasil pemilihan Umum tahun 2004, PKS waktu itu memperoleh 14 Kursi DPRD Jawa Barat, hasil perolehan kursi ini menjadi modal buat PKS untuk mengusung Aher sebagai calon Gubernur, berdasarkan persyaratan, ternyata modal 14 Kursi belum cukup bagi PKS untuk mengusung calon tunggal maka akhirnya PKS berkoalisi dengan PAN yang memperoleh 7 kursi, Gabungan PKS dan PAN inilah yang memunculkan Duet Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf.

Namun pada pemilu tahun 2009 perolehan kursi PKS justru turun karena hanya mendapatkan 13 kursi di DPRD Jawa Barat dan berkurang 1 kursi dibanding pemilu 2004. indikasi ini membuktikan bahwa kemenangan Aher pada pemilukada 2008 bukan hasil kerja keras kader PKS diakar rumput namun justru peran Dede Yusuf karena kepopularannya sebagai artis yang akhirnya berperan besar mengantar Aher Sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013.

Maka belajar dari pengalaman sebelumnya dengan mengusung figur calon Wakil Gubernur yang lebih dikenal masyarakat, tentunya menjadi modal dasar yang kuat bagi PKS mencari pendamping yang menguntungkan, bagi calon tunggalnya Ahmad Heryawan untuk berkolaborasi kembali dengan mencari pasangan pendamping dari kalangan artis. Karena nafsu ingin didampingi oleh calon dari artis, tidak-tanggung-tanggung PKS butuh waktu sampai empat bulan untuk melakukan pendekatan pada Dedi Mizwar, pendekatan alot ini dilakukan agar partainya mendapatkan tokoh dan pesohor Deddy Mizwar sebagai pendamping calon inkumben.

Pilihan mencari pendamping dari kalangan pesohor bukan tanpa alasan. Popularitas Ahmad Heryawan sebagai Gubernur tertinggal jauh dari wakilnya, Dede Yusuf. Riset Lembaga Survei Nasional pada 18-20 September di 26 kota dan kabupaten di Jawa Barat menunjukkan popularitas dan elektabilitas Aher hanya 58 persen, jauh di bawah Dede Yusuf, yang mencapai 97 persen, atau Rieke Diah Pitaloka, dengan 68,1 persen.

Saat ini nama-nama tersebut sedang bersaing untuk memperebutkan jabatan sebagai orang nomor satu di Jawa Barat, Kalau Aher memilih Dedi Mizwar sebagai pasangannya, sedangkan Dede Yusuf memilh Lex laksamana begitu juga Rieke memilih Teten Masduki sebagai pasangannya. Dengan banyaknya artis tampil pada Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat periode 2013-2018 yang akan digelar pada Februari 2013, boleh dianggap pemilukada Jawa Barat ini sebagai ajang pertarungan politik para artis.

Mampukah Aher mengulang sukses seperti pemilukada 2008 ? kelihatannya sangat berat bagi Aher untuk mendapat dukungan dari masyarakat Jawa Barat, apalagi peta politik sekarang sudah berubah, Kalau pemilukada sebelumnya Aher berpasangan dengan Dede Yusuf yang kebetulan hanya Dede Yusuf Saja yang calon dari artis, tetapi pemilukada sekarang sudah banyak tampil calon lain yang juga dari figur artis dan siap bersaing memperoleh dukungan dari masyarakat Jawa Barat. Persaingan di tingkat popularitas artis ini lah yang sedikit banyak mempengaruhi pilihan PKS untuk tetap mengusung artis agar bisa mendampingi Aher sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018

Analisa sederhana kekalahan Aher

Banyaknya artis yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat tentunya berdampak terhadap peluang Aher untuk bisa mengulang sukses seperti pemilukada sebelumnya, ditambah perilaku pemilih sudah mulai cerdas untuk menentukan pilihannya, terlihat hasil pemilukada Jakarta menjadi indikator kuat perubahan sikap perilaku pemilih PKS, padahal dengan kepercayaan diri yang sangat kuat mengacu pada pemilukada Jakarta sebelumnya serta hasil pemilu 2009 ternyata perolehan suara calon dari PKS jauh dari harapan atau bahkan indikasi ini membuktikan bahwa PKS sudah tidak seperti dulu lagi dimata pemilih PKS. Hal ini tentunya akan berdampak sama pada pemilukada Jawa Barat atau bahkan lebih parah lagi hasilnya dengan beberapa alasan sebagai berikut :

Pertama :

Perilaku pemilih PKS terutama dari kalangan menengah keatas akan berubah, perubahan ini terjadi karena pemilih menengah keatas saat ini cenderung bersikap pragmatis, kalangan menengah tidak lagi menempatkan nilai-nilai atau ideologi sebagai preferensi utama dalam pilihan politiknya, partisipasi politik kelas menengah-pragmatis sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan dan kepentingan ekonomi-politik individu maupun kelompoknya terhadap institusi politik, kasus pemilukada Jakarta bisa menjadi contoh nyata perubahan pemilih PKS dari kalangan menengah keatas.

Kegagalan PKS di pemilukada Jakarta merupakan bukti kegagalan PKS merawat dan menjaga basis konstituennya yang berasal dari kalangan menengah keatas, apalagi karakteristik pemilih kalangan menengah keatas ini sangat mudah kecewa apabila pilihannya mengecewakan. Salah satu contoh perilaku elit yang mengecewakan adalah dugaan kasus suap dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah yang dikaitkan dengan Tamsil Linrung, politisi PKS yang duduk sebagai Wakil Ketua Badan Anggaran DPR. Begitu juga kekecewaan terhadap perilaku Arifinto salah satu Anggota DPR dari PKS yang tertangkap basah sedang menonton video porno di ruang sidang DPR,

Kekecewaan ini bukan hanya tingkat lokal saja tetapi juga berdampak secara nasional termasuk Jawa Barat, lihat saja hasil Survey baru-baru ini yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia yang mengatakan bahwa elektabilitas PKS turun dari 7.8 persen pada pemilu 2009 menjadi 3.9 persen bila dilakukan pemilu pada saat ini.

Dalam konteks jawa barat perilaku pemilih kalangan menengah ini juga akan sama, Walaupun suara mereka tidak mayoritas di Jawa Barat namun partisipasi politiknya tentu dapat merubah konstelasi politik yang ada. Kalau mereka peduli pada Jawa Barat, harapannya tentu mereka tidak akan Golput

Diprediksi suara kalangan menengah keatas ini, tidak akan memilih Aher sebagai Gubernur Jawa Barat, kondisi ini hampir sama seperti kalangan menengah keatas yang juga tidak memilih Foke sebagai Gubernur Jakarta, apalagi kedua-duanya adalah incumbent yang sudah pasti perjalanan baik-buruknya roda pemerintahan selama lima tahun menjadi salah satu tolak ukur penilaian dan pilihan mereka.

Kedua :

Perilaku kader PKS yang hedonis tentunya akan berdampak negatif bagi citra partai, lihat saja penampilan gaya hidup elit PKS seperti Anis Matta, padahal Anis Matta bila didepan kader-kadernya yang Militan, dia selalu bicara nilai-nilai Islam yang sipatnya ideal tapi justru dalam bermuamalah jauh dari prinsip dan nilai Islam, begitu juga terhadap elit-elit partai di tingkat lokal kondisinya hampir sama dan tidak jauh berbeda terhadap perilaku hedonis.

Dampak dari perilaku hedonis elit PKS ini terbukti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegagalan PKS mengusung Hidayat Nur Wahid sebagai Gubernur Jakarta, kondisi ini juga tentu tidak akan jauh berbeda dan tentu akan berdampak yang sama terhadap hasil perolehan suara Aher di Jawa Barat.

Ada sebuah fenomena bangsa yang sangat mengerikan akibat perilaku hedonis yang dilakukan para elit partai dan ini merupakan awal bagi kehancuran suatu bangsa, Sungguh tragis nasib sebuah bangsa, jika para penguasa, pejabat maupun kaum elit di negeri ini jika sudah terasuki semangat hedonis padahal kelompok ini adalah kelompok strategis yang semestinya memberikan contoh suri teladan yang baik bagi masyarakat, Karena perilaku hedonis adalah suatu sikap atau gaya hidup instan yang berorientasi pada kenikmatan yang bersipat materi dan kekuasaan.

Ketiga :

Perjalanan Aher sebagai Gubernur Jawa Barat, Apa saja yang sudah dicapai Aher selama ini ? kalau melihat kondisi yang ada, selama lima tahun perjalanan Aher di Jawa Barat ternyata tidak mencapai hasil yang diharapkan, kemiskinan, pendidikan dan akses kesehatan masih menjadi problematika utama masyarakat Jawa Barat, lebih parah lagi saat ini Jawa Barat menempati rangking pertama penderita HIV/Aids terbesar se-Indonesia.

Fenomena HIV/Aids inilah yang sekarang terjadi di Jawa Barat dan saat ini jumlah penderita HIV/Aids di Jawa Barat menempati urutan tertinggi sebagai daerah yang paling banyak penduduknya tertular virus HIV/Aids, Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah pengidap HIV/AIDS tertinggi. Data statistik menunjukkan setidaknya terdapat 14 ribu warga terinfeksi virus HIV dan 4 ribu individu terjangkit AIDS. Jawaban klasik dari kondisi seperti ini adalah untung Gubernurnya seorang religius coba kalau bukan tentunya penderita Aids akan lebih banyak dari kondisi sekarang ini ? apakah hanya sekedar itu jawabannya, apakah tidak ada solusi lain mengatasi melonjaknya angka penyebaran virus HIV/Aids di Jawa Barat ?

Belum berhasilnya Aher mengatasi problematika utama, yakni, kemiskinan, pendidikan dan akses kesehatan tentunya akan berdampak negatif bagi perolehan suara Aher untuk bisa dipercaya lagi memimpin Jawa Barat karena dianggap tidak mampu menjalankan tugas selama lima tahun masa pemerintahannya.

Keempat :

Dukungan dari birokrasi sangat kecil dapat diraih oleh Aher, mengingat sistim tata kelola pemerintahan yang selama ini dilakukan oleh kader PKS yang duduk di pemerintahan dinilai terlalu kaku dalam mengambil kebijakan dan cenderung melakukan pemaksaan secara halus yang dikemas dalam kegiatan pengajian di internal birokrat. Memang terlihat kegiatan ini sangat positif dalam rangka menumbuhkan mental birokrat yang agamis dan diharapkan nantinya dapat di implementasikan dalam wujud pelayanan yang lebih baik pada masyarakat tanpa melakukan atau merugikan masyarakat itu sendiri.

Namun sangat disayangkan ternyata kegiatan pengajian ini lebih cenderung bersipat keterpaksaan saja, ada udang dibalik batu, bagi birokrat yang haus kekuasaan tentunya akan berpura-pura ikut dalam pengajian, sudah bukan rahasia umum lagi kalau birokrat ingin mendapat posisi jabatan salah satu syaratnya harus aktif di pengajian ? Apakah cara ini berhasil ? lihat saja di Kota Depok, pengajian rutin selalu dilakukan tiap hari rabu di mesjid balaikota, tapi kondisi ini justru sangat kontras terhadap penilaian Komisi Pemberantasan Korupsi yang menilai bahwa pelayanan publik di Kota Depok terburuk se-indonesia.

Indikasi ini membuktikan, bahwa sebenarnya ada proses pembusukan atau perlawanan secara tidak langsung yang dilakukan oleh para birokrat yang sebenarnya tidak suka dengan model pembinaan seperti ini, perilaku birokrat ini justru terjadi di pemerintahan yang kepala daerahnya berasal dari PKS. Kecil kemungkinan bagi Aher untuk mendapat dukungan dari para birokrat, karena jaringan birokrat itu sangat kuat, tentunya mereka akan berupaya semaksimal mungkin melakukan gerakan agar tidak memilh Aher sebagai Gubernur Jawa Barat. Walaupun Birokrat harus netral, banyak cara yang bisa mereka lakukan untuk mewujudkan rencananya itu.

Kelima :

Kasus dana bansos di Jawa Barat tentunya akan menjadi batu sandungan bagi Aher, Walaupun Aher tidak terlibat dalam hal ini, setidaknya dalam kasus dana bansos ini nama PKS tercoreng oleh ulah oknum kadernya Bambang Beny Erawan akibat terlibat dalam kasus bantuan sosial (bansos) pemerintah provinsi Jawa Barat tahun 2008 senilai Rp 87 miliar. Bambang Beny Erawan adalah anggota DPRD Jawa Barat periode 2004-2009 dari PKS

Beni diduga terlibat dalam penyalahgunaan pengadaan alat kesehatan mata di Dinas Kesehatan senilai Rp.800 juta. Dalam fakta persidangan terungkap, Beni terlibat pengadaan alat kesehatan dua rumah sakit senilai Rp.800 juta. Dia diketahui menerima uang senilai Rp.125 juta dari salah satu rekan tersangka. Sehingga dengan adanya kasus ini setidaknya membuat citra PKS menjadi menurun di mata masyarakat. Tidak bisa dipungkiri kasus ini juga menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan terhadap kegagalan PKS pada pemilukada Jakarta terutama terkait dengan masalah pencitraan.

Ke-enam :

Kisruh pemilukada Depok walaupun tidak ada hubungannya dengan Aher namun kasus ini setidaknya bisa membuat nama baik PKS melorot tajam, mengingat Walikota Depok terpilih adalah mantan pendiri dan presiden pertama PKS.

Para penggiat politik di Kota Depok telah menilai Nur Mahmudi Ismail diduga melakukan praktek kotor melalui permainan kedip mata dengan berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pemilukada Kota Depok. Malah saat ini di Kota Depok sedang berkembang isu bahwa pemilukada Depok akan segera diulang, tinggal menunggu penempatan Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Depok, santer terdengar nama Winwin Winantika mantan Sekda Kota Depok akan menduduki Plt Walikota Depok, isu terakhir penempatan Plt ini masih tarik ulur, tinggal menunggu waktu yang pas untuk segera dilaksanakan, apakah sebelum atau sesudah pemilukada Jawa Barat, sehingga ada sebagian penggiat politik di Kota Depok menilai berlarut-larutnya kisruh pemilukada Kota Depok tak lepas dari campur tangan Aher yang notabene adalah koleganya satu partai dengan Nur Mahmudi Ismail, karena tarik ulur ini berkaitan dengan kepentingan secara lebih luas terutama kepentingan pemilukada Jawa Barat

Opini terus menerus kisruh pemilukada Kota Depok tentunya akan berpengaruh terhadap citra buruk PKS dimata masyarakat, karena publik tentu akan menilai bahwa pelaksanaan pemilukada Kota Depok diwarnai dengan perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh Walikota Depok terpilih Nur Mahmudi Ismail dengan melakukan kerjasama bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ? lihat saja di group-group facebook Kota Depok selalu saja setiap hari ada opini yang menilai pemilukada Kota Depok cacat hukum, sasaran tembaknya, siapa lagi kalau bukan PKS, Nur Mahmudi Ismail dan Ahmad Heryawan.

Demikian sedikit analisa sederhana yang bisa disampaikan, sekarang tinggal bagaimana masyarakat jawa barat yang menentukan, siapakah yang layak memimpin jawa barat periode 2013-2018 ? Apakah masih tetap memberikan kepercayaan pada Aher atau memilih kandidat lain yang diharapkan bisa melakukan perubahan yang lebih baik bagi Jawa Barat.

Berita Lainnya:
Akal Bulus PKS Mendukung PDS
Pesta Pora Oknum Ustad di Kota Depok
Oknum Anggota DPRD Kota Depok Keterlaluan
Mengapa PKS Syukuran Karena Tidak Jadi Kiamat
* Seperti Diki Chandra Wakil Walikota Depok Mundur