Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Sikap Ambivalen Menolak Hubungan Dengan Israel

Majelis Ulama Indonesia tidak setuju dan tidak sepakat adanya usulan terhadap rencana Indonesia melakukan hubungan diplomatik dengan Israel, pernyataan ini disampaikan oleh Ketua MUI, Amidan, saat menggelar jumpa pers di kantornya di jalan proklamasi no.51. menteng Jakarta Pusat (Selasa, 1-06-2010), Amidan juga mengatakan tidak ada untungnya melakukan hubungan diplomatik dengan Israel malah yang ada justru lebih banyak minusnya kata ketua MUI tersebut.

Lebih jauh lagi, salah satu ketua MUI lainnya, Khairul Ridwan menegaskan hal serupa, menurutnya Israel memiliki karakter tidak mau di intervensi oleh siapapun, Israel hanya tunduk pada Amerika Serikat sebagai sekutunya, omong kosong, bullshit itu ujar Khairul.

Ucapan senada juga pernah disampaikan oleh elemen masyarakat yang peduli pada palestina ketika mereka melakukan unjuk rasa ke kantor Departemen Luar Negeri, Menurut para pengunjuk rasa, membuka hubungan dagang dengan Israel itu, melanggar konstitusi. Alasannya, Israel perampas dan penjajah negeri Palestina. Sementara dalam UUD 45 dengan tegas disebutkan, segala penjajahan di muka bumi harus dihapuskan. Karena itu, "RI harus tegas dan serius dalam memberantas segala bentuk penjajahan." Unjuk rasa ini dilakukan terkait dengan rencana Mantan Presiden Republik Indonesia Gus Dur untuk membuka hubungan dagang dengan Israel.

Berangkat dari ungkapan diatas, sepertinya kita semua tentu akan sepakat kalau hubungan diplomatik harus didasarkan atas kerjasama yang saling menguntungkan, lebih sepakat lagi, hal ini sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada Alinea Pertama dinyatakan bahwa “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, dari kalimat tersebut rasanya Negara kita adalah Negara yang sangat baik karena tidak suka penjajahan, Indonesia merupakan bangsa yang tidak sadis, bukan bangsa preman dan Indonesia boleh juga dikatakan sebagai Robinhood karena menganggap penjajahan itu harus dihapuskan di atas dunia, apalagi bangsa Indonesia pernah mempunyai pengalaman pahit sebagai negara yang pernah di jajah selama kurang lebih 350 tahun oleh belanda dan tiga setengah tahun oleh jepang.

Namun faktanya, mengapa kata sepakat tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, mengapa kata sepakat tersebut hanya ditujukan pada Israel, Kita sudah jelas menolak hubungan diplomatik dengan Israel, karena Israel telah mencaplok tanah palestina tetapi mengapa kita juga telah melakukan hubungan diplomatik dengan Australia yang jelas-jelas mereka melakukan praktek genosida serta merampas tanah airnya bangsa Aborigin, begitu juga mengapa kita melakukan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat yang juga telah mencaplok tanah Bangsa Indian.

Kalau ketua MUI mengatakan hubungan diplomatik dengan Israel tidak akan menguntungkan tetapi mengapa kita juga melakukan hubungan Diplomatik dengan Amerika Serikat yang telah melakukan investasi tidak menguntungkan bagi Indonesia, bukan hanya penjarahan Bumi Freeport di Papua tetapi juga eksploitasi sumber kekayaan alam lainnya di seluruh Indonesia. apakah selama ini kerja sama dengan Amerika selalu menguntungkan Indonesia, yang ada justru kekayaan alam kita habis namun hutang tetap saja semakin menumpuk dan akan menjadi beban anak cucu bangsa.

Banyak orang menilai kalau Israel sangat kejam, membunuh anak-anak Palestina yang tidak berdosa dan kita mengecam tindakan biadab tersebut malah kita meminta kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mengusut tuntas pembantaian yang dilakukan oleh Israel, tetapi mengapa didalam negeri sendiri ketika kita pernah mengalami satu peristiwa sejarah yang paling memilukan yaitu dibantainya jutaan orang tidak berdosa yang dibunuh tanpa melalui proses pengadilan hanya gara-gara mereka dituduh komunis ? Mengapa kita diam saja dan mengapa kita tidak meminta kasus pembantaian ini juga harus diusut tuntas. Karena apapun dalilnya, yang namanya pembantaian sesama manusia, jelas perbuatan ini juga sangat biadab.

Sungguh tidak mengerti dengan sikap ambivalen seperti ini, padahal kita sebagai manusia ciptaan TUHAN tentunya tidak boleh bersikap saling bermusuhan, apalagi bila tindakan kita hanya berdasarkan pada solidaritas sebuah keyakinan padahal kalau bicara keyakinan, tentu keyakinan kita tidak akan sama dengan keyakinan yang dianut orang lain, termasuk juga bila kita terlalu memaksakan kehendak berdasarkan keyakinan kita.

Siapa yang akan menduga kalau kita akan lahir di rahim seorang ibu yang berasal dari Indonesia, Palestina, Aborigin, Israel, Indian dan sebagainya ? Seandainya sebelum kita lahir boleh meminta pada TUHAN dan boleh memilih akan lahir dirahim seorang ibu, tentunya kita akan memilih lahir dirahim seorang ibu yang kelak bila dewasa nanti, hidup kita akan bahagia dan bisa masuk surga. Semua adalah rahasia TUHAN sang pencipta alam semesta, TUHAN Maha Adil dan TUHAN Maha Bijaksana.

Berita Lainnya :
Pejuang Kaum Wanita Itu Telah Tiada
Kerja Politik PKS Membahayakan NKRI
* Kisah Dara Cantik Selebriti Kiri Indonesia
Pelarian Tiga Wanita Indonesia Dari Penjara
PBB Mengancam PKS, Apakah Ini Konspirasi ?
* Antara Zionis, Presiden PKS dan Peran Miss Amerika