Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Presiden SBY Kalah Telak Enam Kosong

Masih ingatkah dengan pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika kampanye pemilihan presiden tahun 2004 maupun tahun 2009, SBY selalu mengatakan akan memimpin langsung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. malah tidak tanggung-tanggung untuk mengkampanyekan pemberantasan korupsi, SBY melalui kader-kader terbaiknya secara terus menerus mengkampanyekan melalui iklan di media cetak maupun elektronik dengan Jargon "katakan tidak pada korupsi"

Alih-alih ingin memimpin di barisan terdepan pemberantasan korupsi, faktanya satu demi satu, kader-kader terbaiknya justru terlibat dalam beberapa skandal kasus korupsi yang merugikan keuangan Negara ratusan milyar rupiah bahkan nilainya bisa diatas triliunan rupiah bila nantinya semua kasus korupsi tersebut terungkap.

Tiga kader terbaiknya kini sudah menjadi pesakitan semua, bahkan diantaranya sudah ditangkap dan menjalani indahnya kehidupan di hotel prodeo. Sungguh ironis, Jargon katakan tidak pada korupsi, justru mereka yang dengan penuh semangat mengiklankan diri bagaikan pahlawan kesiangan malah justru terlibat sebagai pelaku utama perbuatan korupsi.

Mengatur urusan internal partai saja, SBY tidak mampu melaksanakan tugas sebagai Dewan Pembina Partai Demokrat yang tugasnya seharusnya membina agar kader-kader partainya tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan keuangan Negara serta merusak nama baik partai di mata masyarakat, lihat saja kasus yang menimpa Nazarudin, Angelina Sondakh dan Andi Mallarangeng, mereka semua adalah pengurus elite Partai Demokrat. Untuk urusan internal ini saja, SBY sudah kebobolan tiga kosong.

Belum lagi kebijakan Presiden SBY, yang cenderung sangat lamban dalam hal bersikap tegas terhadap tingkah laku anak buahnya di Pemerintahan Indonesia bersatu jilid dua, banyak kejadian di mana kebijakan Presiden tidak serta-merta dipatuhi oleh jajaran aparat di bawahnya. Memang harus juga diakui kalau selama ini ada sejumlah kebijakan anti korupsi yang dikeluarkan oleh Presiden SBY, tetapi semua kebijakan tersebut ternyata tidak efektif karena kurang di respons oleh kementerian dan kelembagaan. Selalu ada strategi menunda-nunda (buying time) sampai masyarakat lelah menuntut atau jajaran aparat akhirnya hanya menjalankan perintah Presiden ala kadarnya. Masalah kebijakan yang lamban dan tidak tegas ini, kembali SBY kebobolan satu kosong.

Begitu juga dalam beberapa tahun terakhir ini Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memberikan grasi pada empat narapidana kasus Narkoba. Pemberian Grasi pada terpidana kasus Narkoba ini ternyata tidak sesuai dengan pernyataan SBY sendiri pada tahun 2006 ketika memberikan sambutan pada Hari Anti Narkoba Internasional yang diselenggarakan di Istana Negara Jakarta pada tanggal 30 Juni 2006. Berikut ini cuplikan pidatonya SBY :

“Saudara ketua Mahkamah Agung, saya sendiri, tentu memilih untuk keselamatan bangsa dan negara kita, memilih keselamatan generasi kita dibandingkan memberikan grasi kepada mereka yang menghancurkan masa depan bangsa. Dan pemerintah tidak akan memberi toleransi kepada para pembuat dan pengedar narkoba. "Pemerintah telah dan akan terus melakukan penegakkan hukum tanpa pandang bulu. Para pelaku kejahatan narkoba dengan segala bentuk dan modus operandinya akan terus kita lawan dengan sekuat tenaga,"

Namun sungguh ironis, kini SBY memberikan grasi kepada empat narapidana kasus narkoba dengan alasan kemanusiaan tanpa mempertimbangkan bahwa pelaku Narkoba justru orang yang tidak berperikemanusian karena telah menjerumuskan generasi muda anak bangsa yang notabene adalah konsumen terbesar pangsa pasar narkoba di Indonesia. Parahnya lagi salah satu yang diberi grasi oleh Presiden tetapi melakukan perbuatan tercela lagi dengan tetap mengedarkan narkoba di dalam penjara, Untuk masalah ini kembali SBY kebobolan satu kosong.

Masalah pembangunan sama saja tetap tidak ada kepastian dan arah yang jelas, Sekedar catatan dari sebuah dialog Ekonomi yang di selenggarakan di Hotel Millenium di Jakarta, pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi Negara pengimpor BBM terbesar di dunia. Defisit minyak sampai sekarang 20 Milyar Dollar AS, Defisit BBM 23 Milyar Dollar AS, bahkan import BBM tahun lalu mencapai angka 28 Milyar Dollar AS, Dengan kondisi ini kita sudah menjadi Negara pengimpor BBM terbesar di dunia, dulu terbesar di Asia, kini terbesar di dunia, Bukan hanya defisit produksi minyak, kita juga sekarang sudah defisit pangan.

Padahal sejelek-jeleknya Indonesia, dulu urusan perut tak pernah defisit namun mulai tahun 2007, kita mengalami defisit pangan dan saat ini kecenderungannya semakin tinggi. Lihat saja sekarang ini, berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, Indonesia sejak januari hingga oktober 2012 telah mengimpor Singkong yang mencapai kebutuhan 13.300 ribu ton dengan nilai 3.4 juta Dollar AS atau setara dengan 32.3 Miliar rupiah. Impor tersebut berasal dari Thailand, Vietnam dan RRC.

Sungguh ironis, negeri yang banyak orang bilang kalau tanah kita ini adalah tanah surga karena tongkat kayu dan batu menjadi tanaman (lirik lagu Koes plus) tetapi kini Negara kita mengalami defisit pangan yang sangat luar biasa. untuk masalah ini kembali SBY kebobolan satu kosong.

Sebenarnya masih banyak kebobolan demi kebobolan yang didapat oleh SBY, teramat panjang bila diuraikan satu demi satu. Cukup enam saja kebobolan yang terjadi pada Pemerintahan Indonesia dibawah naungan Presiden SBY ? Mau dibawa kemana negeri ini manakala semuanya terlihat penuh dengan kebobolan-kebobolan dari semua lini ? Apakah kita harus berdiam diri saja sambil berkata emang gue pikirin ? Hanya satu yang sempat terekam oleh penulis ketika ada yang bertanya, Apa saja yang sudah kamu lakukan terhadap negeri ini ? dengan senyum manis, penulis menjawab, bahwa yang dilakukan oleh penulis terhadap negeri ini adalah penulis tidak pernah memilih SBY sebagai Presiden ketika pemilihan Presiden tahun 2004 maupun tahun 2009 he he he.

Berita Lainnya :
SBY Sedang Panik, Stress dan Depresi
Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat
Partai Penguasa Sedang Panik, Stress dan Depresi
Skenario Jahat Kembali Ke Masa Lalu
Lanjutkan Versi Indonesia dan Venezeula
Indonesia Butuh Pemimpin Berwatak Mandiri
SBY Plin Plan Indonesia Banjir Narkoba