Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Pelajar Menyabung Nyawa Bupati Menyambung Birahi

Jembatan Maut Pelajar
Sudah hampir 11 bulan lamanya, Nasib Jembatan Gantung Cisanggiri belum ada tanda-tanda perbaikan, Jembatan gantung Cisanggiri yang menghubungkan Dusun Cadas Bodas dan Dusun lainnya di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga saat ini masih juga terputus. Padahal sebelumnya Bupati Garut, Aceng Fikri, sudah pernah meninjau langsung lokasi jembatan ini.

Jembatan Gantung yang memiliki panjang 90 meter dan lebar 100 cm tersebut ambruk akibat tertimpa pohon beringin yang tumbang diterjang angin puting beliung pada senin 9 Januari 2012 lalu. Akibatnya, setiap hari sedikitnya 125 siswa SD dan SMP harus berjuang melewati derasnya Sungai Cisanggiri.

Mereka terpaksa meniti bebatuan dan masuk sungai hingga baju seragamnya basah, karena Jembatan Cisanggiri yang menghubungkan beberapa kampung di tiga desa tersebut ambruk. Secara beriringan para siswa dan warga ini menyeberangi sungai. Bahkan sejumlah orang tua pun mengantarkan anak-anaknya yang masih kecil bahkan banyak diantaranya yang memilih langsung menyeberang hingga baju seragamnya basah semua.
Jembatan Maut Garut
Ironis, Walaupun Sebelumnya, Bupati Garut, Aceng Fikri telah menjanjikan akan membangun jembatan tersebut dengan anggaran yang sudah disiapkan sebesar Rp 200 juta dari APBD 2012, namun hingga kini belum ada tanda-tanda Pemerintah Daerah setempat turun tangan untuk membangun kembali jembatan yang roboh, meski beberapa media telah memberitakannya secara luas.

Perjuangan anak bangsa yang tidak mengenal arti kata menyerah, bisa tergambar dalam aktifitas sehari-hari yang mereka lakukan demi untuk menuntut ilmu bagi masa depan yang lebih baik. Mereka tetap semangat walaupun harus menyabung nyawa menyusuri derasnya air sungai cisanggiri yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka.

Di saat mereka berjuang dengan menyabung nyawa untuk meraih masa depan namun disaat yang sama justru orang yang seharusnya peduli terhadap nasib mereka malah asyik menyambung birahi dengan biaya yang tidak sedikit untuk menikahi seorang gadis yang katanya sudah tidak perawan lagi.

Sekedar menyambung birahi ternyata sang Bupati Aceng Fikri mampu mewujudkannya, namun disisi yang lain disaat rakyat kecil atau anak-anak sekolah yang membutuhkan sebuah jembatan emas bagi masa depannya namun sampai saat ini keinginan tersebut justru belum terwujud.

Kalau Sang Bupati punya nurani, tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu, Apalagi konon katanya sang Bupati ini sudah memiliki banyak istri, namun masih ingin menyambung birahi dengan menikahi seorang gadis berusia 18 tahun dan usia pernikahannya hanya bertahan selama 4 hari saja.

Ucapan sang Bupati : “Saya sudah keluar uang hampir habis Rp 250 juta, hanya nidurin satu malam. Nidurin artis saja tidak harga segitu, Sepertinya ada yang bermain, ada yang memanfaatkan masalah ini, perceraiannya merupakan hal yang wajar. Menikah bak perkara perdata seperti jual beli yang bisa dikembalikan bila barang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Pas saya beli ternyata ‘lho, tidak sesuai speknya,’ ya nggak apa-apa dikembalikan”

Sungguh sikap tidak terpuji ini, justru menjadi tontonan berbuah cibiran bahwa sang Bupati ini memang sudah tidak layak lagi menjadi panutan bagi masyarakat Kabupaten Garut. Dia lebih mementingkan untuk menyambung birahinya daripada memikirkan nasib anak-anak bangsa yang berjuang menyabung nyawa hanya untuk masa depan yang lebih baik bagi mereka.

Berita Lainnya :