Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Pacaran Dengan Gadis Cantik Singapura

Sambungan dari : Nekad Berdagang di Orchard Road Singapura

Mendapat pertanyaan dari petugas kepolisian Singapura, apakah kamu punya paspor ? aku sempat bengong sebentar, langsung aku jawab, Ada Pak, sambil kuserahkan paspor yang memang selalu aku simpan didalam tasku.

Setelah melihat isi pasporku, tak lama kemudian petugas menegurku dengan sopan, kamu tak boleh dagang di singapura, sebenarnya kamu bisa kami denda dan baiknya sekarang kamu pulang ke Indonesia ya dan jangan berdagang disini lagi.

Wah, terasa lega dihati ketika petugas memperbolehkan aku pergi tanpa mendapat sanksi sedikit pun, ya pak, saya akan segera pulang ke Indonesia, jawabku sambil membereskan daganganku tak lupa memohon maaf pada para pemesan gelang yang tetap masih menunggu dan belum sempat aku buatkan gelangnya.

Tak lama kemudian rombongan petugas kepolisian pergi, namun tanpa diduga, ada beberapa orang yang memanggilku, mas sini mas sambil melambaikan tangan menyuruhku untuk menghampirinya. Aku sempat bingung juga, kok ada orang yang memanggilku dengan kata-kata mas, wah, jangan-jangan ini orang Indonesia yang kerja di singapura dan kebetulan melihat aku ditegur oleh petugas kepolisian gara-gara dagang di orchard road ?

Setelah aku melangkah menghampiri orang yang memanggilku, mereka langsung bilang, mas dari Indonesia ya, dari jawa, apa sumatera ? Ya pak, saya dari jawa jawabku ? wah, sama dong, kami semua dari jawa, tapi lahir di singapura, kamu berani ya dagang disini ? Sempat kaget mendengar bahwa ternyata, mereka semua yang sedang ngumpul ini ternyata asli dari jawa tapi kelahiran singapura, belum sempat rasa kagetku hilang, tiba-tiba salah seorang dari mereka menyarankan, kalau mau dagang, bagusnya kamu dagang di sungai road, tidak jauh dari terminal bis queen street, dekat dari MRT bugis, disana banyak kumpulan pedagang.

Mendengar saran dari mereka, aku sangat senang, setidaknya aku jadi tahu tempat berdagang yang bisa terlindung dari kejaran petugas kepolisian.

Setelah ngobrol kesana-kemari, akhirnya aku pamit, namun tiba-tiba tanpa diduga, mereka malah memberiku uang, ada kurang lebih seratus dollar ? awalnya aku sempat menolak, tapi mereka memaksaku untuk mengambilnya, sambil bilang bahwa pemberian ini sebagai tanda rasa simpatik mereka terhadapku ? wah orang-orang ini ternyata sangat baik ? karena dipaksa dan ada perasaan tidak enak kalau menolak, mau tidak mau, kuambil juga pemberian uang dari mereka sambil mengucapkan terima kasih dan mohon pamit.

Melangkahlah aku di sepanjang jalan pusat perdagangan orchard road layaknya seorang turis yang sedang berbelanja di pusat perniagaan. Tadinya aku berencana ingin langsung ke sungai road, tapi karena lokasi sungai road tidak jauh dari MRT bugis dan dekat dengan tempat aku menginap, maka rencana itu aku tunda dulu, toh besok pagi aku bisa pergi kesana pikirku. Menjelang sore hari, akhirnya setelah puas keliling-keliling, pulanglah aku kembali ketempat penginapan di sultan gate.

Malam sebelum tidur, seperti biasa, aku sempat ngobrol-ngobrol dengan para penghuni penginapan, tak lupa menanyakan arah menuju lokasi sungai road, setelah mendapat jawaban tentang sungai road, tak lama kemudian akhirnya aku merebahkan diri untuk istirahat, sebelum tidur sempat juga terbayang rencana esok hari untuk berdagang di sungai road.

Seperti hari kemaren, ketika bangun tidur, suasana penginapan begitu ramai dan sibuk, tanpa mesti tergesa-gesa. Aku tetap santai, toh jam sembilan aku baru mulai berangkat, karena kupikir kalau terlalu pagi juga belum tentu di sungai road sudah ada aktifitas.

Tepat jam sembilan, keluarlah aku dari penginapan menuju sungai road yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja. kurang lebih setengah jam, aku tiba di sungai road, kulihat suasana di sungai road ternyata mirip dengan suasana pedagang kaki lima di poncol senen jakarta pusat.

Sempat berjalan sebentar, akhirnya aku menemukan lokasi yang pas untuk memulai menggelar daganganku, sama seperti di orchard road, aku gelar daganganku sambil mempraktekkan cara membuat gelang, banyak sekali orang-orang yang lalu lalang di sungai road ini yang memperhatikan cara aku membuat gelang, bahkan diantaranya sempat menanyakan berapa harga pergelangnya.

Wah senang banget, ternyata antusias orang-orang singapura terhadap daganganku ini luar biasa, tak terasa baru mulai dagang sudah ada sepuluh orang yang memesan gelang dengan harga 5 dollar pergelang.

Hari menjelang siang dan lagi asyik-asyiknya merangkai gelang, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara mengejutkan. Agus, kamu sudah ada di singapura, wah, berani ya kamu dagang disini dan kami tidak menyangka kamu mau datang kesingapura, masih ingat gak dengan januar, dengan norma, tanya orang yang menegurku dengan keras dan mengaku sebagai januar ? mendapat teguran seperti itu dan melihat orang yang menegurku, aku sempat kaget, wah tentu saja masih ingat jawabku, sambil mataku sempat melirik kearah norma yang tersenyum manis padaku ?

Januar Garip dan norma ini memang pernah kukenal, kedua orang singapura ini pernah memesan daganganku ketika berdagang di tanjung pinang, ketika mereka berdua dan teman-temannya sedang berlibur di tanjung pinang.

Agus, nanti, setelah selesai pesanan gelangnya, main ya kerumahku tanya januar ? oh ya, memang januar tinggal gak jauh dari sini ya, jawabku ? Kami berdua sama norma tinggal di yishun gus jawab januar ? oh ya gus, kami juga mau pesan gelang lagi, nanti kamu bisa buat dirumahku saja sambil kuperkenalkan dengan saudara dan teman-temanku yang lain, wah pokoknya kami senang bisa ketemu lagi sama agus, apalagi si norma, dia sering muji-muji kamu ketika kami masih di tanjung pinang ujar januar sambil kepalanya mengarah ke norma yang kulihat masih tetap tersenyum manis padaku. ?

Setelah semua selesai, maka berangkatlah kami bertiga menuju rumah januar dan norma di kawasan yishun, dijalan kami bertiga selalu bersenda gurau, maklum januar ini termasuk anak muda yang sangat gaul banget, begitu juga dengan norma yang suka bercanda dan selalu tersenyum manis.

Ketika tiba dirumah januar, aku langsung diperkenalkan pada keluarganya, sambutan keluarga januar sangat ramah sekali, mereka menyambutku bagaikan orang yang sudah lama di kenal dan baru jumpa lagi. suasana dirumah januar begitu ramai dengan canda dan tawa mereka yang selalu menanyakan tentang Indonesia ? wah ternyata mereka masih pada buta tentang Indonesia, terlihat dari pertanyaan demi pertanyaan yang mereka tanyakan, selalu tentang indonesia.

Januar terlihat sangat sibuk, dia asyik nelpon beberapa teman-temannya yang ingin memesan gelang, norma pun sama, dia malah lebih dulu mencatat beberapa nama untuk segera dibuatkan gelang. tak lama kemudian januar bilang, agus, kamu nanti pulang kami antar ya ke sultan gate, jangan takut ya gus, yang penting sekarang kamu buatin dulu gelang-gelang pesanan ini walaupun sampai malam hari. Ujar januar, begitu juga si norma memintaku untuk jangan buru-buru pulang sambil tetap tersenyum manis padaku.

Benar juga setelah semua selesai, tepat jam 9 malam, aku diantar oleh januar dengan motor menuju tempat penginapan, wah benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan, disambut luar biasa oleh keramah tamahan keluarga singapura.

Esok harinya, ketika dagang kembali di sungai road, tiba-tiba tanpa diduga, ada suara yang menyapaku dengan lembut ? agus, boleh tidak norma nemanin kamu dagang ? sempat kaget tapi setelah tahu siapa yang menyapaku, ternyata si norma, gadis melayu, cantik dan selalu tersenyum manis padaku, boleh kok, emang norma gak malu apa menemani aku dagang, jawabku ? kenapa mesti malu gus, bolehkan nemanin dagang, kembali norma bertanya ? wah tentu saja boleh jawabku.

Singkat kata, aku dan norma begitu akrab, bercanda dan selalu tertawa riang sambil tetap fokus mengerjakan pesanan gelang, begitu juga bila ada pembeli datang, norma selalu menawarkannya pada pembeli dan mencatatnya.

Aku kadang sempat terpikir, kok aku bisa ketemu dengan gadis melayu, cantik, manis dan sangat baik padaku. Apalagi Norma juga terlihat begitu senang bisa jumpa lagi denganku. kami berdua terlihat semakin akrab, malah aku sempat, menawarkan makan sama norma yang dijawab dengan anggukan kepala tanda setuju sambil tetap tersenyum manis padaku.

Suasana menyenangkan ini ternyata berlanjut, hari-hari berikutnya, norma selalu datang sendirian dan menemani aku berdagang, kadang aku sempat berpikir, apakah norma mencintaiku atau hanya sekedar berteman saja, apalagi perhatian norma terhadapku begitu besar. setiap selesai dagang, norma selalu mengajakku jalan-jalan keliling singapura, ah gadis singapura ini ternyata begitu baik padaku, begitu perhatian dan selalu mengharapkan agar aku tetap tinggal di singapura saja tanpa perlu keliling dunia, sebagaimana yang pernah aku ceritakan sebelumnya pada norma tentang maksud dan tujuanku datang ke singapura ini. (bersambung - Asmara di Tapal Batas Antara Johor dan Singapura)

Cerita diatas adalah rangkaian cerita bersambung dibawah ini :