Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Nasib Wanita Apakah Diperkosa atau Dipenjara

Banyak kita mendengar kisah memilukan tentang nasib wanita-wanita malang yang terjerat kasus pidana pembunuhan dan dihukum penjara atas perbuatannya itu, ironisnya justru pembunuhan itu dilakukan karena wanita tersebut ingin membela kehormatannya karena akan direnggut oleh laki-laki yang ingin memperkosanya.

Ratna adalah cermin dari perlawanan seorang wanita saat menghadapi detik-detik yang menakutkan ketika akan diperkosa oleh laki-laki, Bagaimana seorang Ratna ketika dia melakukan pembunuhan terhadap laki-laki yang hendak memperkosanya, namun dengan perlawanan untuk melakukan pembelaan diri, ratna terpaksa menusuk sang pemerkosa dengan pisau hingga menemui ajal. Ratna terpaksa melakukan pembunuhan untuk melakukan pembelaan dirinya saat mau diperkosa di jembatan barelang pulau Batam, kamis dinihari pertengahan Mei 2012.

Maksud hati ingin mencari suaminya namun harus berakhir duka dan derita didalam penjara, Ratna adalah seorang ibu empat orang anak yang mengaku terpaksa membunuh karena dirinya akan diperkosa. Namun alasan ratna yang katanya ingin melakukan pembelaan diri tidak mendapat tempat dihati para penegak hukum. 


Alasan ratna untuk membela diri tidak dapat diterima oleh hakim yang menyidangkannya, Hakim punya penilaian lain bahwa ratna masih punya kesempatan untuk melarikan diri ataupun berteriak minta tolong daripada harus menghunus pisau ke dada sang pemerkosa.

Begitu juga kisah tentang seorang wanita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan tangerang. Seperti biasanya setiap pulang kerja wanita tersebut selalu menggunakan angkutan umum (Angkot) untuk pergi dan pulang kerja. Suatu hari ketika wanita tersebut pulang kerja, tanpa curiga sedikitpun, wanita tersebut akhirnya naik angkot yang kebetulan tak ada penumpang lain selain dirinya, mungkin sudah terbiasa atau wanita itu berpikir karena hari telah larut malam sehingga wajar saja kalau angkot sepi dari penumpang.

Namun malam itu tanpa disadarinya adalah awal petaka bagi kehidupannya, Supir angkot yang tidak bertanggung jawab itu malah membawanya pergi kesuatu tempat yang sepi dan sunyi serta gelap gulita, tak lama angkot tersebut berhenti dan sang supir justru menghunuskan pisau mengancam wanita malang tersebut agar tidak berteriak, akhirnya dengan bernafsu sang supir berupaya untuk memperkosa wanita malang itu, namun kondisi berbalik seratus delapan puluh derajat, dengan upaya ingin melakukan pembelaan diri, wanita tersebut akhirnya berhasil merampas pisau dan langsung menghunjamnya ketubuh sang supir hingga tewas.

Kasus pembunuhan supir yang dilakukan oleh wanita malang itu akhirnya di proses secara hukum. Dalam proses persidangan, wanita itu tetap divonis penjara, karena alasan ingin membela diri tidak bisa diterima oleh para hakim, kata majelis hakim, seharusnya wanita tersebut bisa melarikan diri atau berteriak minta tolong saat masih di dalam angkot.

Dari kedua cerita diatas, timbul sebuah pertanyaan, apakah alasan untuk membela diri tidak bisa diterima karena masih ada kesempatan untuk berteriak minta tolong atau melarikan diri ? kira-kira masih sempatkah seorang wanita ditempat yang sepi dan gelap gulita akan melarikan diri sambil berteriak minta tolong dari kejaran laki-laki yang sudah sangat bernafsu ingin memperkosanya ?

Wanita-wanita malang itu cuma perempuan biasa yang tidak berdaya dan tidak mempunyai ketrampilan secara terlatih untuk menghadapi serangan kaum laki-laki, tindakan yang dilakukannya hanya bersipat spontan demi menjaga kehormatan dari kebuasan laki-laki yang ingin memperkosanya. Lalu mengapa tindakan pembelaan diri ini tetap tidak membuka mata para hakim dalam mengambil sebuah keputusan dan sampai sejauh mana hukum bisa melindungi kaum wanita yang hendak membela kehormatannya.

Kasus ini tentu akan membuka mata kita lebar-lebar bahwa kaum wanita memang tidak punya pilihan lain, antara di perkosa atau membunuh walaupun akhirnya bisa masuk penjara, padahal bagi kaum wanita, menjaga kehormatan dirinya adalah satu tindakan yang sangat mulia. Sehingga bagi wanita yang diperkosa terkadang menimbulkan trauma yang sangat berkepanjangan bahkan akan sangat sulit untuk dilupakan seumur hidupnya tetapi melakukan pembelaan diri hingga mampu menaklukan pelaku pemerkosaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain juga tidak membuatnya bisa bernafas lega, karena tuntutan hukuman bagi pelaku pembunuhan sudah tentu akan siap menantinya

Haruskah kondisi ketidakadilan ini berlanjut secara terus menerus, Wanita sebagai pihak yang tidak punya pilihan lain, terpaksa harus menderita akibat perbuatan laki-laki yang ingin merenggut mahkotanya. Diperkosa menyakitkan, membunuh juga dianggap bersalah

Semoga dengan adanya kasus seperti ini, dapat membuka mata para tokoh masyarakat yang peduli terhadap kaum perempuan atau para pejabat yang terlibat dalam perlindungan bagi kaum perempuan, bahwa keadilan hukum bagi kaum perempuan korban kekerasan seksual, harus mendapat tempat yang seadil-adilnya, karena kekerasan seksual terhadap perempuan kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

Berita Lainnya :
Humor Hati Nurani
Dibalik Goyangan Wanita
Tangisan Memilukan Istri Bupati Garut
Nahrowi Ketahuan Sedang Making Love
* Hukuman Liar Bagi Pemerkosa di Penjara
Persamaan Pemerintah dan Celana Dalam
Demi Perselingkuhan Memalsukan Orgasme
Gigolo Muda dan Wanita Malam Pulau Batam
Kisah 8 Istri Eyang Subur dan 8 Cowok Usia Subur
Kamar Misterius ini Membuat Kader PKS Menjerit Histeris