Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Ingat Presiden SBY, Singkong Saja Impor

Sungguh ironis, negeri yang banyak orang bilang, kalau tanah kita ini adalah tanah surga karena tongkat kayu dan batu menjadi tanaman (lirik lagu Koes plus) tetapi kini Negara kita mengalami defisit pangan yang sangat luar biasa. negeri yang subur ini telah jadi korban kerakusan dan ketamakan para pemimpinnya yang sudah tidak peduli lagi pada tanah airnya yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Apakah mereka tidak pernah mendengar syair lagu dibawah ini :

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Lagu tersebut mengiringi alur pemikiran ketika tulisan ini dibuat, Seyogjanya bila Presiden SBY mampu menerjemahkan syair lagu tersebut tentu negeri yang subur dan masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga tidak akan mungkin, singkong sebagai salah satu makanan khas bangsa Indonesia mesti di impor, Singkong bisa tumbuh dimana saja sebagaimana banyaknya anak singkong yang tumbuh besar menjadi orang-orang hebat di negeri ini.

Kita semua sangat terkejut ketika mendapat informasi berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik yang mengatakan bahwa Indonesia sekarang sudah mengimpor singkong dengan nilai yang sangat fantastis. Singkong tersebut di impor dari negeri China, Vietnam dan Thailand.

Mau dibawa kemana negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi ini, sebuah ungkapan kalimat yang cukup sederhana namun mempunyai arti dan makna yang luar biasa. Sebuah kalimat yang mengantarkan pada kesadaran akan potensi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara kesatuan republik Indonesia. Kekayaan yang seharusnya membawa kemakmuran, kesejahteraan, ketentraman dan kedamaian bagi masyarakat Indonesia.

Apakah arti kalimat tersebut sekarang ini sudah tidak bermakna lagi di bumi nusantara ini, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, hanya tinggal sekedar lirik lagu ? karena potensi kekayaan alam yang ada, sudah tidak hadir lagi ditengah-tengah masyarakat yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan, Jangankan bicara pendidikan yang lebih baik, jangankan bicara kesehatan yang lebih baik, hanya sekedar untuk menyambung hidup sehari-hari saja banyak masyarakat kita yang kelaparan.

Kami hanya bisa berdoa :

Ya TUHAN, tiadalah negeri ini merdeka melainkan karena rahmatMu. Ampunilah kami jika selama 67 tahun ini, kami masih belum mampu memanfaatkannya secara maksimal, ampuni kami jika selama 67 tahun negeri ini justru kami isi dengan kelemahan-kelemahan kami, dengan kemaksiatan-kemaksiatan kami. Ya TUHAN Rahmatilah negeri ini, Ampunilah negeri ini sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pengampun.

Ya TUHAN jadikan pemimpin-pemimpin kami pemimpin yang amanah, adil, yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Jadikan pula Presidennya, Menterinya, Gubernur, Bupati, Walikota hingga ketua RT sebagai orang-orang yang amanah, yang tak bekerja dengan prinsip asal bapak senang saja, Hindarkan pemimpin kami dari korupsi, jauhkan bawahannya dari meminta pungli, dan jadikan agar rakyat jelata kami tak sudi menyuap agar urusannya dipercepat.

Ya TUHAN, teguhkanlah hati kami, turunkanlah ketentraman di dalam hati kami, dan satukanlah barisan kami. Jangan Engkau jadikan negeri ini tercerai berai. Ya TUHAN, Berikanlah kami kesabaran dan kekuatan, jauhkan kami dari keputusasaan akan rahmatMu, Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik penolong, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung. Ya TUHAN, kabulkanlah doa kami, Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa…..Amin.

Sebuah doa dari seorang rakyat jelata

Berita Lainnya :