Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Hari ini 40 Ribu Rakyat Sulawesi Selatan Dibantai

Semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang dikumandangkan oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi tonggak awal Republik Indonesia yang MERDEKA, lepas dari segala macam bentuk penindasan yang dilakukan oleh kaum imperialisme atau penjajah, Seluruh Negeri menyambut dengan suka cita, menyambut Indonesia yang MERDEKA, diiringi lagu Indonesia Raya yang bergema ke seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Namun perjuangan ternyata belum berakhir, Belanda sebagai negara yang telah menikmati bumi Indonesia selama 350 tahun lamanya merasa terusik untuk bangkit kembali merebut tanah jajahannya dengan melakukan agresi militer.

Tujuan utama dari agresi militer belanda ini adalah dalam rangka merebut kembali tanah jajahannya, namun sebagai kedok untuk dunia internasional, belanda menamakan agresi militer ini sebagai aksi polisionil dan menyatakan tindakan ini adalah sebagai urusan dalam negeri belanda.

Pada ageresi militer ini Belanda mengirimkan dua pasukan khusus, yang pertama adalah pasukan khusus Korp Speciale Troepen (KST) pengembangan dari DST atau Depot Speciale Troepen dibawah pimpinan Raymond Pieree Paul Westerling yang saat ini berpangkat letnan dua, Pasukan khusus kedua adalah Pasukan Para Compagne dibawah pimpinan Kapten C.Sisselaar.

Pasukan khusus ini memang sangat kejam, Bagaimana Westerling sebagai pimpinan dari Depot Speciale Troepen (DST) telah melakukan operasi militer dengan alasan melakukan penumpasan terhadap pemberontakan yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Selatan, peristiwa ini disebut Pembantaian Westerling atau peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di sulawesi selatan.

Operasi pertama yang dilakukan oleh DST dibawah pimpinan Westerling dimulai pada malam tanggal 11 Desember 1946 atau hari ini 66 tahun yang lalu. Operasi pertama dengan kekuatan 58 orang dibawah pimpinan langsung Westerling dilakukan di Desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar, Dalam operasi ini westerling melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah penduduk, semua rakyat dikumpulkan dan yang berusaha melarikan diri langsung ditembak, dalam operasi ini Westerling dengan bangganya melaporkan telah membunuh 3000 sampai 4000 rakyat Indonesia.

Pembantaian terhadap rakyat dengan pola seperti itu telah dilakukan secara terus menerus oleh Pasukan Khusus DST, Westerling bukan hanya sekedar memimpin operasi militer pasukan DST namun Westerling juga ikut menembak mati rakyat yang dituduh sebagai pemberontak, teroris, pembunuh bahkan dituduh sebagai perampok.

Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara belanda dengan pasukan DST dibawah komando Westerling, sampai hari ini tidak jelas berapa korban yang pasti, namun berdasarkan laporan langsung dari delegasi Republik Indonesia yang menyampaikan pada Dewan Keamanan PBB, bahwa korban pembantaian terhadap penduduk yang dilakukan oleh Raymond Westerling sejak Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40 ribu korban jiwa. Namun dengan luasnya eskalasi operasi yang dilakukan secara merata di setiap kampung maka bisa diperkirakan jumlah korban yang tewas mencapai puluhan ribu jiwa bahkan bisa lebih dari itu.

Bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi Rakyat Sulawesi Selatan, apa yang sudah dilakukan oleh Westerling dan pasukannya dengan melakukan pembantaian terhadap rakyat Sulawesi Selatan adalah perbuatan yang sangat kejam dan biadab, terlepas dari perdebatan soal angka pasti jumlah korban yang tewas, satu hal yang tidak bisa dilupakan bahwa rakyat Sulawesi selatan telah turut berkoban jiwa dan raga demi mengusir kolonialisme dan imperialisme dari bumi pertiwi Indonesia Raya. Apa yang dilakukan oleh Rakyat Sulawesi Selatan setidaknya sebagai pelengkap betapa heroiknya perjuangan bangsa Indonesia untuk lepas dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi

Hari ini tanggal 11 Desember 2012, marilah kita semua merenung, menundukkan kepala sambil berdoa bagi para korban pembantaian rakyat Sulawesi Selatan oleh Westerling, semoga generasi muda Indonesia dapat merenungkan kembali dan dapat membangkitkan semangat sebagai warganegara yang peduli pada tanah airnya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pejuang dan pendahulu kita yang rela berkorban demi nusa dan bangsa.

Berita Lainnya :
Indonesia Butuh Pemimpin Berwatak Mandiri
Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat
Petani China Tidak Punya Celana Kolor
* Vonis Bintang Tujuh Untuk Presiden