Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Birokrat Jakarta Mendadak Menjadi Miskin

Mungkin kita semua masih ingat ketika menyaksikan acara debat calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam acara jakarta memilih yang ditayangkan stasiun Televisi Nasional Metro TV, terlihat sangat jelas kualitas dari figur seorang pemimpin yang akan mengurus ibukota Jakarta dengan segudang persoalan yang sangat kompleks menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Sangat geli rasanya mendengar pernyataan Fauzi Bowo atau akrab dipanggil Foke Calon Gubernur Jakarta yang mengatakan “Uang segunung tidak akan mampu menyelesaikan jakarta dalam sekejap” perkataan ini mengindikasikan ketidakmampuan seorang pemimpin dalam mengatasi sebuah persoalan.

Tugas pemerintah adalah melayani bukan untuk dilayani, itu pedoman yang harus dipegang oleh seorang calon pemimpin di pemerintahan, tanpa kemauan untuk melayani masyarakat mustahil pemerintahan akan berjalan dengan baik dan mustahil kesejahteraan dan keadilan akan dirasakan oleh masyarakat.

Banyak kita melihat, fenomena menarik di berbagai daerah dengan aneka ragam kebijakan yang telah diterapkan oleh kepala daerahnya, ada suatu daerah yang hanya mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat kecil namun mampu membebaskan biaya pendidikan untuk murid SD sampai SMU/K dan mengasuransikan kesehatan seluruh masyarakat hanya dengan persyaratan mempunyai KTP pada daerah tersebut. begitu pula sebaliknya, ada juga daerah yang mempunya sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat besar namun ternyata tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan kenyataan ini tentu kita akan semakin sadar, bahwa ternyata soal memberikan pelayanan yang lebih baik kepada rakyat bukan semata-mata soal besar atau kecilnya APBD. Bukan soal banyaknya uang segunung tapi tidak bisa berbuat apa-apa tetapi merupakan soal Kemauan dan Komitmen Kepala Daerah beserta jajaran Birokrasinya.

Kemauan dan Komitment tersebut kini sedang dilakukan oleh pasangan terpilih hasil pemilukada 2012, Jokowi-Ahok, Duet Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta ini seakan ingin membalikkan fakta seperti apa yang pernah disampaikan oleh pendahulunya yang mengatakan uang segunung tidak akan dapat menyelesaikan persoalan di Jakarta dalam sekejap.

Aktifitas duet ini begitu ramai dipublikasikan, apalagi gaya kepemimpinannya lain dari yang lain, mereka mau turun kebawah dan mau berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat. Begitu juga beberapa program yang tadinya tidak mungkin dilakukan (versi Foke) menjadi mungkin dilakukan, misalkan Program Kartu Sehat dan Kartu Pintar termasuk beberapa program yang lainnya.

Namun ada yang lebih mencengangkan dari aktifitas duet ini terutama terkait dengan perencanaan anggaran pembangunan, sungguh luar biasa bagaimana ternyata selama ini begitu banyak anggaran pembangunan di propinsi DKI Jakarta yang nilai kegiatannya di Mark Up, antara perencanaan dan pagu anggaran tidak realistis, Publik pun tercengang, Ooh ternyata selama ini mereka membuat perencanaan sangat tidak wajar yang berdampak pada kualitas sebuah kegiatan dan menggerogoti Uang APBD DKI Jakarta. Jadi wajar saja kalau Foke bilang uang segunung tidak akan menyelesaikan persoalan, kan dananya di Mark Up.

Akibat sepak terjang para oknum Birokrat DKI Jakarta ini yang lebih mengutamakan kepentingan kantong pribadinya, sudah tentu akan berdampak pada pemborosan anggaran yang juga berdampak pada buruknya pembangunan di DKI Jakarta, Contoh perencanaa yang tidak benar bisa dilihat DI SINI ketika pelantikan pasangan terpilih Jokowi-Ahok Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta yang baru

Sudah berapa tahun mereka melakukan praktek kotor seperti ini, ibarat bangkai lambat laun akan tercium juga, saat ini mereka hanya bisa gigit jari dan tidak bisa lagi menikmati hasil karya Mark Up nya itu, kalau saja ada undang-undang pembuktian terbalik, Niscaya oknum-oknum birokrat nakal ini, yang tadinya kaya raya berlimpah harta mendadak akan menjadi miskin kembali.

Berita Lainnya :