Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Perjalanan Keliling Dunia Melalui Singapura

Cerita ini adalah murni pengalaman pribadiku ketika melakukan perjalanan di negeri jiran Malaysia dan Singapura untuk memulai kehidupan baru dengan berniaga disana, karena kisah ini sangat panjang, cerita ini aku buat bersambung biar lebih lengkap perjalanan kisahnya.

Berawal dari keinginan yang kuat untuk keliling dunia akhirnya langkah pertama yang aku lakukan adalah dengan memulai perjalanan ini melalui negeri Singapura sebagai Negara pertama yang aku kunjungi.

Rasa optimis ini tentunya bukan tanpa alasan, karena ketika aku memulai untuk memasarkan hasil kerajinan tangan ini sebagai modal dasar untuk berkelana, semua ternyata berjalan sesuai dengan harapan yang ada.

Bagaimana tidak yakin, ketika aku mencoba memasarkannya di Pulau Batam, bukan hanya masyarakat pulau batam yang menyukai daganganku tapi para turis dari Singapura dan Malaysia yang mendominasi pariwisata Pulau Batam juga begitu antusias membeli daganganku yang berbentuk kerajinan tangan. Sekedar catatan bahwa kerajinan tangan ini aku dapat ketika tinggal di pulau dewata dan kerajinan ini aku dapat justru dari warganegara jerman yang pernah berdomisili lama di Jamaika.

Waktu itu kerajinan tangan dalam bentuk gelang, cincin dan kalung ini memang belum ada di pulau dewata, aku masih teringat bagaimana ketika orang jerman itu mengatakan, Agus, kamu mau tidak, saya ajarkan cara membuat gelang seperti ini, gelang ini saya dapat dari jamaika, saya melihat kalau gelang ini dipasarkan di bali pasti banyak peminatnya.

Ketika aku mendengar penjelasan dari orang jerman tersebut, aku sempat kaget antara percaya dan tidak percaya, lalu aku jawab, Ooh yah, wah boleh juga, akhirnya bersama ketiga kawan-kawanku yang senasib di pantai kuta, kami mulai belajar membuat gelang. Ketika sedang asik belajar cara membuat gelang, tiba-tiba datang seorang turis wanita berkewarganegaraan italia, saya dan ketiga teman serta orang jerman tersebut sempat kaget ketika turis wanita tersebut langsung menanyakan berapa harga satu gelang ini, spontan saya menjawab, 3000 rupiah, dulu tahun 80 an uang segitu besar sekali untuk ukuran sebuah gelang.

Termenung sejenak, tiba-tiba turis wanita tersebut berkata, saya akan pesan 5000 gelang, bagaimana kalau harganya 2000 rupiah, sekali lagi kami terkejut dengan penawaran ini. karena kami tidak menyangka kalau gelang ini ternyata mempunyai nilai jual yang tinggi. Tanpa menunggu lama akhirnya kami sepakat untuk bertransaksi. Inilah awal pertama kali kami mendapat order dan tidak tanggung-tanggung langsung mendapat order sebanyak 5000 buah Walaupun kami sendiri baru belajar memulai membuat gelang.

Bagi kami, dunia waktu itu seakan milik kita ber-empat diluar kawanku yang dari Jerman, karena memang orang jerman itu hanya sekedar singgah di pulau bali, dari sinilah akhirnya kami berempat merintis peredaran kerajinan tangan ini di pulau dewata bali.

Tiada hari tanpa pesanan dan tiada hari tanpa senang-senang dengan hasil jerih payah ini. Kalau teman-teman pernah ke Bali atau jalan-jalan di Malioboro Yogjakarta dan melihat kerajinan tangan berbentuk gelang, cincin atau kalung yang terbuat dari benang, itulah hasil kerajinan tangan yang pernah kami dapat dari seorang turis jerman yang baik hati, yang mau memberi sedikit ilmu bagi kami yang sedang berjuang mencari rezeki di pulau dewata Bali.

Alkisah Pulau Bali ini aku tinggalkan dengan sejuta kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan, berbekal keyakinan akan nilai jual gelang ini, aku melakukan perjalanan keliling Indonesia, di mulai dengan singgah di pulau Lombok, Sumbawa, Bima, Kupang, Timor-Timur, Ujung Pandang, Tana Toraja, sebagian Pulau Sumatera, dari Palembang, Bengkulu, Pekan Baru, Medan, Tanjung Pinang dan lain-lain, akhirnya sampailah aku di Pulau Batam untuk memulai langkah baru yang lebih jauh, bukan hanya sekedar keliling Indonesia tapi berencana ingin keliling dunia dan dimulai melalui Negara Singapura.

Setelah tinggal beberapa bulan di pulau batam dan sudah mempunyai kartu identitas sebagai warga batam akhirnya jadi juga aku memiliki paspor untuk memulai perjalanan yang lebih seru, melanglang buana di negeri orang.

Melalui perjalanan lewat laut, berangkatlah aku menuju Singapura dengan naik kapal dari pelabuhan sekupang, Untungnya didalam kapal ada penyewaan uang tunjuk, maklum bekalku hanya 300 Dollar, bisa-bisa ditolak masuk Singapura oleh petugas imigrasi karena dianggap ingin mencari kerja akibat perbekalan yang tidak cukup.

Uang tunjuk ini benar-benar sangat berharga bagi para pendatang yang ingin masuk Singapura, dengan membayar 30 ribu rupiah + jaminan KTP Batam, aku akhirnya mendapat uang pinjaman sebanyak 500 Dollar dari kru kapal. uang ini nantinya dapat kupergunakan ketika petugas imigrasi menanyakan berapa uang yang aku bawa. Alhasil cara ini terbukti ampuh, ketika tiba di pelabuhan Singapura dan menjalani proses pemeriksaan paspor, aku sempat ditanya, berapa anda membawa uang ? aku jawab sambil menunjuk uang yang aku bawa senilai 800 Dollar, selesai bertanya, pasporku langsung dicap stempel dengan masa kunjungan selama 14 hari atau 2 minggu tinggal di Singapura.

Lega rasanya setelah keluar dari pelabuhan dan tak lupa mengembalikan uang tunjuk yang aku pinjam tersebut pada kru kapal sambil mengambil KTP yang sempat menjadi jaminan, akhirnya berbekal alamat yang aku dapat dari teman-teman di Batam yang pernah berkunjung ke Singapura, aku langsung menuju stasiun MRT atau kereta bawah tanah dengan tujuan pemberhentian stasiun bugis untuk menuju kawasan Sultan Gate, tempat dimana aku mendapat tempat penginapan super murah di Singapura.

Penginapan ini memang sangat murah hanya 3 dollar semalam karena pemiliknya adalah warganegara Indonesia asal solo yang sudah menjadi warganegara singapura. Walaupun murah tapi ternyata kondisi penginapannya tidak seperti layaknya sebuah hotel, disini kita tidur beramai-ramai, ada yang diruang tamu, di teras dan sebagainya, yang menginappun jumlahnya mencapai puluhan orang dan mereka semua saling mengenal satu sama lain kecuali diriku yang memang masih sangat terasa asing dilingkungan baruku ini.

Dari obrolan-obrolan yang aku dengar, ternyata mereka yang nginap disini adalah para tenaga kerja lepas yang mencari rezeki menjadi buruh dinegeri orang tetapi mereka tidak terikat seperti para TKI atau TKW yang sering menjadi bahan pemberitaan media massa. Ikatan mereka sangat kuat tidak pandang bulu dari suku mana yang penting adalah Indonesia, aku sempat terkagum-kagum dengan sikap persatuan dan solidaritas sesama anak bangsa yang begitu kuat diantara mereka. Tidak seperti di negeri sendiri yang sering ribut karena fanatisme kedaerahan yang sempit.

Terdorong rasa ingin tahu yang kuat akhirnya aku tidak menceritakan maksud kedatanganku di Singapura, aku hanya bilang ingin mencari kerja dan jawaban mereka sungguh diluar dugaan, kalau kamu mau kerja, besok pagi kita sama-sama berangkat kerja ? aku yang mendengar sempat termenung, wah kira-kira yang dimaksud besok pagi kita kerja, kira-kira apa yah dalam hatiku ? rasa penasaran ini sampai terbawa-bawa juga ketika menjelang tidur.

Keesokan paginya, terlihat semua penghuni penginapan begitu sibuk, tak lama kemudian tanpa di komando, kami berangkat beramai-ramai, ada kurang lebih sekitar 10 orang menuju satu kawasan yang bernama kampung kapoor sebuah kawasan dimana setelah aku tahu ternyata kampung kapoor adalah tempat berkumpulnya para pencari kerja dari berbagai Negara yang ingin mencari kerja di singapura. Terbukti sesampainya disana, sudah banyak orang berkumpul berjejer di pinggir jalan dan terbagi dalam beberapa group, ada yang dari Indonesia, Bangladesh, Thailand, Srilangka, India, Vietnam dan sebagainya, tujuan mereka ternyata sama yaitu sama-sama ingin mencari pekerjaan di Singapura.

Baru beberapa menit kami sampai di kampong kapoor, sebuah mobil bak terbuka datang menuju ketempat kami berkumpul dan berhenti tepat didepan kami, dari dalam mobil keluar seorang bapak setengah tua dan menghampiri salah seorang dari rombongan kami, mereka saling berbicara dan kulihat mereka sepertinya sudah sangat akrab sekali. Setelah selesai bercakap-cakap, tiba-tiba kami semua disuruh naik kemobil bak terbuka. Wah aku sempat kaget juga, mau dibawa kemana nih rombongan teman-teman yang baru aku kenal ini.

Tak sampai satu jam, tibalah kami di satu lokasi, sebuah rumah besar dengan pekarangan yang cukup luas tapi belum tertata rapi, rasa kagetku pun hilang setelah tahu bahwa ternyata kami mendapat pekerjaan dengan menggali tanah dan mengangkutnya kedalam mobil bak terbuka yang memang sudah di persiapkan untuk mengantar tanah hasil galian tersebut.

Menjelang magrib semua pekerjaan akhirnya selesai, kami masing-masing mendapat upah 40 dollar plus uang lembur dua jam sebanyak 20 dollar total penghasilan hanya dengan menggali dan mengangkut tanah, kami mendapat upah sebanyak 60 dollar, kalau di rupiahkan waktu itu dengan nilai kurs perdollar Singapura senilai 1250 rupiah maka menjadi 75 ribu rupiah, bayangkan dengan gaji buruh Indonesia waktu itu selevel tukang hanya 10 ribu rupiah, sangat jauh beda dengan gaji buruh kasar di singapura.

Sesampainya di penginapan, badanku terasa mau patah semua, maklum nggak biasa kerja kasar, tapi pengalaman ini benar-benar sangat berharga, setidaknya aku jadi tahu bagaimana caranya mencari kerja dinegeri orang tanpa terikat dengan segala macam peraturan yang menyakitkan seperti apa yang sering dialami oleh para TKI dan TKW yang bekerja dinegeri orang, (Bersambung - Nekad Berdagang di Orchard Road Singapura)

Cerita diatas adalah rangkaian cerita bersambung dibawah ini :