Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Lanjutkan Utang Kita Menjadi 1950 Triliun

Sumber kekayaan alam kita yang dulu begitu melimpah, kini mulai semakin menipis atau boleh di katakan hampir habis, sungguh ironis sekarang kita defisit produksi minyak dan yang lebih parah lagi adalah sudah Kekayaan sumber daya mineral hampir habis tapi justru utang luar negeri kita mengalami peningkatan yang sangat tajam dan sudah tembus pada kisaran 1950 Triliun Rupiah, mau di bawa kemana negeri ini oleh para pemimpin-pemimpin yang kerjanya cuma bohongin rakyat saja.

Sekedar catatan dari sebuah dialog Ekonomi yang di selenggarakan di Hotel Millenium di Jakarta, pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan bahwa saat ini Indonesia sudah menjadi Negara pengimpor BBM terbesar di dunia. Defisit minyak sampai sekarang 20 Milyar Dollar AS, Defisit BBM 23 Milyar Dollar AS, bahkan import BBM tahun lalu mencapai angka 28 Milyar Dollar AS, Dengan kondisi ini kita sudah menjadi Negara pengimpor BBM terbesar di dunia, dulu terbesar di Asia, kini terbesar di dunia, Bukan hanya defisit produksi minyak, kita juga sekarang sudah defisit pangan. padahal sejelek-jeleknya Indonesia, dulu urusan perut tak pernah defisit namun mulai tahun 2007, kita mengalami defisit pangan dan saat ini kecenderungannya semakin tinggi.

Hal senada juga di sampaikan oleh Mantan Menko perekonomian Kwik Kian Gie, terkait dengan beban utang sebanyak itu, menurut Kwik utang-utang ini adalah penipuan luar biasa, kenapa ? karena selama 30 tahun ternyata lebih besar pasak dari tiang. Ini menjadi penipuan yang luar biasa. Utang itu tidak disebut utang dalam APBN, tetapi pemasukkan pembangunan dalam negeri. Jadi 30 tahun lamanya anggaran minus di tutupi utang. Anggaran harus berimbang, biar bisa disebut berimbang ya nipu,” kata Kwik. Lebih jauh Kwik mengatakan, jumlah utang pemerintah yang tembus Rp 1.900 triliun ini sudah sangat membahayakan dan sulit dicarikan solusinya.”Ini bukan bahaya lagi karena sumber daya mineral di perut bumi di habiskan oleh mereka elit-elit pemerintah. Sudah kayak gini sulit (solusinya). Saya nggak tahu harus bagaimana,” tegas Kwik.

Seorang Kwik Kian Gie mengatakan tidak tahu harus bagaimana ? penulis jadi teringat ketika pada suata acara pembekalan politik kurang lebih 9 tahun yang lalu, Kwik juga pernah berkata, dulu ketika kita masih di luar sistem kita sering berteriak tentang kondisi Indonesia yang memprihatinkan, tapi ketika kita sudah berada di dalam sistem ternyata kita juga tidak bisa berbuat apa-apa konon katanya ada satu kekuatan yang begitu sulit untuk di tembus.

Siapakah kekuatan besar yang tidak bisa di tembus itu ? apakah kekuatan besar ini juga yang menghambat pertumbuhan ekonomi kita selalu jalan di tempat, lalu apakah kekuatan besar ini juga yang telah merampok sumber-sumber kekayan alam kita secara sistematis. sehingga elit-elit pemerintah juga sekarang tidak sanggup untuk melawannya. ? sehingga wajar saja kalau sekarang kekayaan alam kita sudah hampir habis tapi utang kita semakin menumpuk. Karena kita sendiri tidak berani untuk melawan kekuatan besar yang sulit untuk di tembus itu, di tambah ulah oknum-oknum elit pemerintah kita yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya

Kalau boleh penulis menganalisa, kekuatan besar yang tidak bisa di tembus tersebut, berawal dari tumbangnya orde lama ke orde baru sehingga membuka peluang investor-investor asing masuk terutama perusahaan-perusahaan asing milik Amerika.Itulah pintu awal masuknya Bank Dunia, IMF, IGGI, CGI ? hegemoni Amerika inilah yang membuat kita terpasung dalam lingkaran kapitalis dunia, banyak perusahaan Amerika dan kroninya masuk ke Indonesia. mereka menguasai sumber-sumber kekayaan alam kita, Perusahaan minyak, BP, Shell dan Freeport, Newmont menguasai pertambangan, dari mulai pertambangan Minyak, Emas, Tembaga dan lainya, padahal menurut Soekarno presiden pertama indonesia, kalau kita tambang sendiri maka anak cucu kita tidak akan kelaparan dan Indonesia akan menjadi negara kaya dan lebih kaya dari negara-negara di jazirah Arab.

Mengapa kita tidak belajar dari Venezeula, ternyata bila kita mengamati sepak terjang pemimpin Venezeula Hugo Chaves yang berani melakukan Nasionalisasi Minyak dan Gas tentu harus menjadi pembelajaran yang sangat berarti buat kita. Ada Apa rahasia sukses nasionalisasinya Chavez ? ini bukan Nasionalisasi buta melainkan Renegosiasi yang menguntungkan negara ataupun asing meskipun porsi kepemilikan negara menjadi lebih besar, mencapai 60 persen.

Dengan model kerja sama ini dan dengan cadangan minyak yang sangat menjanjikan wajar jika perusahaan-perusahaan asing, bisa menerima renegosiasi yang di tawarkan Chavez. Keberanian Chavez melakukan renegosiasi, dimulai dengan penyelidikan yang mendalam. Dengan memperkenalkan Undang-Undang Hidrokarbon baru (2001), dia memerintahkan kajian legal untuk menyelidiki berbagai penyimpangan dan ketidaktransparanan dalam pengelolaan sektor migas.

Perjuangan seorang Chavez, awalnya memang tidak mudah karena banyak perlawanan yang di lakukan oligargi bisnis dan politik, hingga ada upaya perlawanan dengan membiaya dan mendalangi kudeta militer sayap kanan terhadap Chavez tanggal 12 April 2002. Chaves akhirnya lengser dan mengundurkan diri di bawah tekanan pemimpin-pemimpin militer.

Akhirnya Militer menunjuk seorang Ekonom “Pedro Cormona” sebagai Presiden sementara (interim). Selang satu hari kemudian terdorong oleh kecintaan rakyat miskin Venezeula terhadap chaves Ribuan rakyat miskin demo dengan di dukung oleh prajurit dan perwira menengah yang masih loyal kepada Chaves. Kemenangan tersebut membuat dirinya berhasil mengatasi salah satu tantangan terbesar dalam masa pemerintahannya dan menjadikannya sebagai sebuah mandat yang lebih besar untuk melanjutkan semboyan Lanjutkan “Revolusi Bagi Kaum Miskin“.

Bukan hanya kebijakan nasionalisasi minyak dan Gas, chaves juga telah menasionalisasikan tambang dan eksplorasi emas yang dikuasai oleh mafia. Di lansir stasiun berita CNN, Kamis, 18 Agustus 2011, Venezuela akan mengambil alih tambang emas di wilayah selatan negara tersebut. Salah satu perusahaan tambang terbesar di daerah itu, Rusoro, adalah perusahaan Canada yang dikuasai oleh keluarga Agapov dari Rusia. Lengkap sudah nasionalisasi yang telah dilakukan Chaves bagi kemakmuran Negara Venezeula. Dengan Semboyan “Lanjutkan” “Revolusi Bagi Kaum Miskin.

Bagaimana dengan Lanjutkan versi Indonesia ? sekedar gambaran, Rezim Orde Baru yang memerintah selama 32 tahun meninggalkan utang pemerintah tahun 1998 sebesar Rp.553 triliun, bertambah pada tahun 2005 menjadi Rp 1.282 Triliun di lanjutkan lagi Hutang makin membengkak, Sampai akhir tahun 2011 utang pemerintah Indonesia sudah mencapai angka Rp.1.803,49 triliun atau naik Rp.126.64 trliun dalam setahun di bandingkan tahun 2010 yang mencapai Rp.1.676.85 triliun, terbukti semboyan lanjutkan, terwujud dalam bentuk kenaikan hutang Indonesia yang semakin membengkak, belum lagi lanjutkan-lanjutkan lain yang belum terwujud.

Salah satunya adalah, bagaimana dengan lanjutkan Sumber Kekayaan Alam kita yang di kelola oleh Perusahaan Asing ? Sekedar catatan pembagian hasil Perusahan-perusahaan Asing yang mengeruk habis Sumber Kekayaan Alam Indonesia, Pembagiannya kepada Pemerintah Indonesia prosentasenya sangat kecil ? contoh konkret Kontrak karya dengan PT Freeport yang di mulai pada tahun 1967 dan sebagai gambaran pemerintah Indonesia di tahun 2005, pemerintah hanya menerima 1,1 miliar dolar AS. Sedangkan pendapatan Freeport (sebelum pajak) sudah mencapai 4,1 miliar dolar AS. Kalau kita lebih perbandingkan lagi, hasil freeport selama tiga puluh tahun saja melebihi APBN Indonesia. Bahkan melebihi dana pembangunan Papua selama Papua ada di indonesia.

Melihat fakta itu perlukah kita menasionalisasi Perusahaan Asing ? Belajar dari Venezeula tentu di harapkan dengan Nasionalisasi terhadap Perusahaan Asing bukan hanya Freeport akan menjadi langkah awal bagi bangsa Indonesia untuk mandiri dalam menjalankan kedaulatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi. Nasionalisasi Freeport dan semua perusahaan Asing lainnya adalah pembuktian bahwa semboyan Lanjutkan memang memiliki niat untuk memajukan dan memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

Berita Lainnya :
Presiden SBY Kalah Telak Enam Kosong
* Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat
Partai Penguasa Sedang Panik, Stress dan Depresi
Skenario Jahat Kembali Ke Masa Lalu
Lanjutkan Versi Indonesia dan Venezeula
Indonesia Butuh Pemimpin Berwatak Mandiri
Skandal Besar Narkoba Dilingkaran Kekuasaan