Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Indonesia Butuh Pemimpin Berwatak Mandiri

Indonesia Butuh Pemimpin Berwatak Mandiri
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab sudah ketika membaca buku berjudul "Zhou Enlai Potret Seorang Intelektual Revolusioner", buku ini adalah hasil karya penulis besar Matilda Rosalie Elizabeth Chow atau yang lebih dikenal sebagai Han Suyin. Walaupun sosok penulis kharismatik ini telah tiada namun maha karyanya ini sangat digemari oleh kalangan generasi muda yang merindukan akan lahirnya sebuah negara yang berdaulat dalam arti mandiri untuk membangun kembali martabatnya sebagai republik persatuan, serta merindukan sebuah republik yang mempunyai seorang pemimpin dan bukan hanya sekedar sebagai pembesar negara saja.

Namun buku karya Han Suyin ini, bagi para penggemar buku yang anti komunis, anti china tentu akan menutup mata dan hati untuk menutup rapat-rapat buku tersebut malah kalau bisa buku ini jangan dibaca dan bila perlu di hidupkannya kembali lembaga Kopkamtib agar bisa melarang peredaran buku ini.

Begitu juga bagi pembaca yang anti komunis tetapi mata hatinya masih terbuka serta masih berlapang dada, buku ini memang layak dibaca karena buku ini mengandung makna yang sangat dalam terutama dalam konteks menuju Indonesia yang lebih berdaulat, mandiri dan berdiri diatas kaki sendiri untuk membangun bangsa yang lebih bermartabat.

Buku ini mengkisahkan tentang sosok Zhou Enlai sebagai seorang negarawan ulung China yang memiliki kharisma besar, Kebijakan negarawan ini sebagai pemimpin kharismatik merupakan teladan menonjol, bukan hanya bagi negerinya sendiri tapi juga bagi banyak negara "dunia ketiga" di mana dia bersama rekan-rekannya, Sukarno, Nehru, Sekou Toure, Sihanouk, Nasser dan lain-lain, pernah memelopori gerakan pembebasan Asia-Afrika dengan konferensi puncaknya di Bandung (1955). Sebuah kerjasama dan setia kawan yang memegang teguh kesadaran siapa musuh siapa kawan. Dalam skala nasional negeri kita, kesadaran ini merupakan faktor utama yang sering dilupakan bahkan dilanggar karena egoisme etnik, agama, ideologi, bahkan sekat-sekat kelas di masyarakat kita.

Membaca buku ini, tentunya bisa menjadi sebuah topik yang menarik dan penting bagi Indonesia yang merdeka dan hidup tegak dalam kemandirian, sebagai gambaran bagaimana ketika terjadinya puncak perang dingin antara Kapitalisme Amerika Serikat dan Komunisme Uni Soviet serta memanasnya perang di Vietnam. Waktu itu pada pertengahan tahun 1958 Pemimpin Uni Soviet Nikita Kruschev berkunjung ke Beijing dan bertemu dengan Mao Dzedong dan Zhou Enlai. Demi “persahabatan abadi” Kruschev membujuk Mao membangun Pakta Pertahanan Bersama. Dan dia juga tawarkan mendatangkan para ahli Uni Soviet guna memasang instalasi nuklir di Tiongkok.

Mendapat tawaran yang sangat menarik dari Nikita Kruschev, dengan tegas Mao yang didampingi Zhou menolak tawaran dari pemimpin Uni Soviet itu. Mao tajam bertanya, jari siapa yang siap di atas tombol peluncuran ? Beberapa tahun kemudian baru terungkap kata-kata pedas antara dua pemimpin komunis itu. Mao konon mengatakan dengan penuh percaya diri : “Walaupun harus pakai celana kolor, Tiongkok mandiri akan membangun instalasi nuklirnya sendiri, dan juga oleh ahli-ahli Tiongkok sendiri !” kata kata ini mirip seperti apa yang pernah dikatakan oleh pemimpin besar Indonesia Soekarno yang juga pernah mengatakan Go to hell with your aid, sebuah pernyataan dari Soekarno yang tegas dan berani karena Soekarno tidak ingin Indonesia menjadi pengemis dan peminta-minta hutang kepada negara lain apalagi kalau bantuan tersebut berlatar belakang politik yang bisa mengorbankan kedaulatan dan kebebasan politik negara, jelas ditolak keras oleh Soekarno.

Mendapat jawaban dari Mao, Pemimpin Uni Soviet Nikita Kruschev sempat sengit dan berkata : “Ah, petani Cina celana kolor pun tak punya !”. Para marsekal dan jenderal RRT yang sangat tergiur oleh tawaran Kruschev, antara lain Peng Dehuai, ketika itu mengkritik Mao telah bersikap dogmatis ke kiri-kirian. Mengapa menolak ? Bukankah suatu kemajuan hebat bagi angkatan bersenjata RRT dan bagi Tiongkok menjadi kekuatan nuklir dunia ?

Belakangan walau pun harus menunggu enam tahun lebih, terbukti garis mandiri Mao dan Zhou Enlailah yang paling benar. Pada 16 Oktober 1964 Tiongkok meledakkan bom atomnya pertama, tanpa tergantung negeri mana pun di dunia, juga tidak tergantung negeri sesama komunis. Tiongkok RRT yang mandiri langsung berubah status sebagai kekuatan nuklir dunia ! Inilah pembelajaran luar biasa tentang arti penting bersikap mandiri ! Politisi dan para aktivis Indonesia, profesional dan amatiran, patut merenungi pengalaman berharga bagaimana Tiongkok menilai hakekat mandiri, juga apa hasil politiknya bila teguh konsekuen bersikap mandiri, Dengan kemandirian yang konsekuen, Tiongkok mampu memanfaatkan optimal konflik dua adikuasa Uni Soviet dan Amerika Serikat bagi kepentingan nasionalnya sendiri.

Kemandirian ala Tiongkok ini tentunya bisa menjadi bahan renungan yang sangat penting bagi para politisi kita yang sejak terjadinya penggulingan Soekarno dan tampilnya Soeharto yang tetap membiarkan Indonesia terus tetap tergantung pada Kapitalisme Barat. Padahal ketika Bung Karno masih berkuasa beliau menolak keras bantuan kapitalisme dunia yang sarat dengan berbagai jerat ketergantungan. Dengan seruan “Go to hell with your aid !, Bung Karno mantap mau mendidik rakyat Indonesia dan membangun karakter bangsa agar tidak menjadi bangsa pengemis karena kemerdekaan tanpa kemandirian tidak lain adalah semi-kolonialisme.

Kemunculan Soeharto di pentas politik Indonesia, yang berakibat terjadinya pembantaian jutaan orang yang tidak berdosa dengan cara paling mengerikan, tanpa melalui proses pengadilan. Sehingga akibat pembantaian tanpa perikemanusian ini, memang tidak keliru bila ada yang menyebut bahwa pemerintahan Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto adalah pemerintahan yang didirikan di atas tumpukan tengkorak dan tulang belulang, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ben Anderson. dalam artikelnya berjudul How Did the Generals Die ? di jurnal Indonesia edisi April 1987. Artikel Ben Anderson ini membuat pemerintahan Soeharto marah besar, dan sejak itu Ben Anderson diharamkan menginjakkan kaki di Indonesia.

Setelah kudeta terhadap Soekarno berhasil dilakukan, tak lama kemudian lahirlah UU No.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing, Dan sejak saat itu, satu per satu perusahaan asing ditandatangani kontraknya oleh penguasa untuk mengeksplorasi kekayaan alam nusantara. Lewat perampokan raksasa yang terlembaga ini, ditambah dengan seperangkat kebijakan di mana Rezim Orde Baru menjamin kepentingan mitra usahanya terutama dari Amerika, maka tidaklah mengherankan bahwa gelombang pemasukan dari Minyak, Tembaga, Emas, Intan, Uranium memberikan sedikit sumbangan atau bahkan tidak sama sekali bagi pembangunan ekonomi yang rasional atau membantu penduduk di lapisan bawah dan lihat dampak dari semua itu sekarang ini, Indonesia masih saja tetap miskin, utang yang semakin besar tapi kekayaan alam sudah hampir habis.

Sebagai generasi muda penerus anak bangsa marilah kita coba merenung sejenak dan beranjangsana ke masa lalu, mengebat-ngebat kisah balik sejarah mutakhir Indonesia. Kita pernah mempunyai Dwitunggal Bung Karno-Bung Hatta. Namun sungguh ironis bahwa Dwi tunggal yang telah memproklamirkan Indonesia merdeka ternyata baru tahun 2012 ini mereka di jadikan pahlawan nasional. Sangat beda pada Soeharto yang baru hitungan hari saja sejak beliau meninggal, antek-anteknya saling berlomba-lomba mengusulkan agar Soeharto menjadi seorang Pahlawan. Aneh bin ajaib mantan Penjagal kok mau dijadikan Pahlawan ?

Apa hebatnya Soeharto bila dibandingkan dengan nama-nama Bung Karno dan Bung Hatta , sekedar contoh pembelajaran bagaimana mereka telah memperjuangkan kemerdekaan, selanjutnya memelihara kemandirian Indonesia. Sikap itu bertolak belakang dengan tokoh Orde Baru Soeharto berikut segerbong pengikutnya yang habis-habisan menyeret Indonesia menjadi Ketergantungan. Memang Soeharto bukan kualitasnya Bung Karno dan Bung Hatta atau Zhou Enlai, baik intelektualitas mau pun kadar nasionalismenya, apalagi bersih dari keserakahan mengisi kantong sendiri. Soeharto tidak peduli Soekarno, dan Soeharto tidak peduli kemandirian Indonesia.

Dalam Indonesia Mandiri, Indonesianya Bung Karno, kepentingan rakyat didahulukan. Dalam Indonesia Tergantung, kepentingan para elit di lingkaran kekuasaan di prioritaskan, “Cendana” dan orang-orang pilihan mendadak menjadi milyuner dollar, konflik etnik dan agama meledak di mana-mana, korupsi mewabah sampai sekarang. Karena sejarah memang telah membuktikan bahwa segala keindahan semasa Orba tidaklah fundamental, namun bersipat artificial serta semu belaka. Mampukah kita bangkit kembali sebagai bangsa yang berdaulat ?

Disamping sudah tidak berdaulat, Indonesia saat ini sudah tidak mempunyai pemimpin berwatak mandiri, ditambah Sumber kekayaan alam kita yang dulu begitu melimpah, kini mulai semakin menipis atau boleh di katakan hampir habis, sungguh ironis bukan hanya defisit pemimpin berwatak mandiri, namun kita juga sekarang ini defisit produksi minyak dan yang lebih parah lagi adalah disamping kekayaan sumber daya mineral hampir habis tapi justru utang luar negeri kita mengalami peningkatan yang sangat tajam dan sudah tembus pada kisaran 1950 Triliun Rupiah, mau di bawa kemana negeri ini oleh para pemimpin-pemimpin yang kerjanya cuma bohongin rakyat saja dan bermental pengemis. Sehingga dalil Apapun namanya pembangunan dalam era reformasi seperti sekarang ini, adalah pembangunan Ketergantungan.

Berita Lainnya :
Bangkitlah Menuju Indonesia Yang Berdaulat
Mantan Presiden PKS Diduga Terlibat PKI
Lanjutkan Utang Kita Menjadi 1950 Trliun
Presiden SBY Kalah Telak Enam Kosong
Kisah Dara Cantik Selebriti Kiri Indonesia
Skenario Jahat Kembali Ke Masa Lalu