Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Skandal Besar Narkoba Dilingkaran kekuasaan

Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat Bahan Berbahaya, dampak dari penggunaan narkoba sangat merugikan bagi kita semua, salah satu akibat dari penyalahgunaan narkoba bukan hanya merugikan secara pribadi juga dapat menimbulkan bencana bagi semua orang, kasus xenia maut bukti kuat adanya penyalahgunaan narkoba ketika si pengendara mobil xenia tersebut sebelum mengendarai mobilnya terbukti telah mengkonsumsi Narkoba terlebih dahulu Hingga tanpa sadar melaju kendaraannya dengan kecepatan tinggi yang berakibat tewasnya 9 orang.

Awalnya sebelum orang kecanduan narkoba biasanya hanya sekedar coba-coba atau karena pengaruh lain yang melatarbelakanginya, tapi setelah mereka mencoba akhirnya ketagihan untuk terus dan terus melakukannya, Konon perilaku pengguna Narkoba beberapa diantaranya, suka mencuri, suka berbohong dan sikapnya terkadang manifulatif serta tiba-tiba tampak manis bila ada maunya seperti saat membutuhkan uang untuk membeli narkoba.

Lalu apa kaitannya antara narkoba dan orang-orang dilingkaran kekuasaan, sekilas memang tidak ada kaitannya namun bila kita analisa lebih jauh ternyata Narkoba lah yang membuat orang-orang dilingkaran kekuasaan yang notabene adalah para oknum Partai Demokrat sekarang ini yang terlibat dalam skandal mega Korupsi.

Apalagi bila kita melihat kondisi Partai Demokrat ketika baru lahir maupun kondisi setelah Partai ini menjadi besar. Keberadaan Partai Demokrat berawal dari coba-coba atau dari beberapa faktor yang mempengaruhnya sehingga dapat berpartispasi di panggung politik Indonesia, salah satunya ikut-ikutan mendirikan Partai ketika situasi dan sistem mendukung, nah berawal dari coba-coba ternyata di luar dugaan ada kenikmatan disana ketika diberi kepercayaan oleh masyarakat dan masuk dalam kategori Partai yang memiliki kursi cukup mencengangkan publik.

Setelah merasakan nikmat akhirnya menjadi kecanduan untuk mengulang kembali dan sukses lagi. Sama seperti pengguna narkoba, pertama sekedar coba-coba setelah tahu nikmatnya dia pasti akan mengulang kembali, akhirnya setelah kecanduan berdampak kepada perilaku yang kurang sehat. Begitu juga oknum-oknum Partai Demokrat setelah kecanduan mendapatkan kekuasaan, oknumnya cenderung perilakunya berubah, suka mencuri, suka berbohong dan sikapnya cenderung manifulatif serta tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, perilaku ini pun sama dengan perilaku pengguna narkoba.

Perilaku ini sekarang sedang di pertontonkan kepada publik, mulai dari kasus suap Wisma Atlet yang merembet menjadi nyanyian membabi buta dari seorang Nazarudin mantan Bendaharawan Partai Demokrat, ini lah nyanyian Nazarudin yang mengatakan, Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum layak menjadi tersangka. “Sebenarnya kalau dari bukti-bukti, Anas dan Angie sudah layak jadi tersangka,” kata Nazaruddin seusai menjalani pemeriksaan terkait penyelidikan proyek Hambalang di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi,

Angelina, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, disebut Nazaruddin terlibat dalam kasus dugaan suap wisma atlet. Nazaruddin mengatakan bahwa mantan Puteri Indonesia itu menerima dana proyek wisma atlet senilai Rp 9 miliar. Nama Angelina yang biasa di sapa Angie itu juga disebut dalam dakwaan atas Nazaruddin. Disebutkan bahwa Nazaruddin meminta Angie memfasilitasi Mindo Rosalina Manulang mendapatkan proyek di Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Mindo, anak buah Nazaruddin, divonis 2,5 tahun dalam kasus suap wisma atlet. Sementara itu, Anas disebut terlibat dalam kasus proyek pembangunan pusat olahraga Hambalang, Jawa Barat.

Nyanyian Nazarudin terbukti ampuh, Angelina Sondakh akhirnya menjadi tersangka dan saat ini kasusnya sedang dalam proses persidangan, Sementara anas urbaningrum masih tetap bebas berkeliaran tanpa mengalami nasib yang sama seperti Angelina.

Saat ini kembali Nazarudin bernyanyi ketika dipanggil sebagai saksi kunci dalam kasus korupsi pembangunan sekolah olahraga Nasional di Bukit Hambalang Kabupaten Bogor Jawa Barat. Nazarudin mengatakan bahwa saya sudah bilang sejak dari awal yang terlibat dalam kasus Hambalang adalah Anas dan Andi Mallarangeng karena memang dua orang ini otaknya yang mengatur anggaran proyek sebagaimana dikutif di tribunnews.com

Sebenarnya bila kita mencermati lebih jauh, ada kesamaan antara pernyataan dan fakta yang ada ketika Nazaruddin mengatakan duit dari proyek Hambalang sebesar Rp 50 miliar mengalir ke Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 2010. Uang itu disebutnya untuk pemenangan Anas sebagai Ketua Umum Demokrat. gayung pun bersambut melalui pengakuan dari kader-kader demokrat yang ikut dalam kegiatan kongres di Bandung yaitu Diana Maringka dan Ismiyati, mereka berdua adalah ketua DPC Partai Demokrat Boalemo, Gorontalo dan Ketua DPC Partai Demokrat Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Mereka berdua mengaku telah menerima sejumlah uang dari Tim Sukses Anas Urbaningrum. Berarti ucapan Nazarudin tentang uang Rp.50 Milyar mengalir ke Kongres Partai Demokrat di bandung 2010, terbukti dengan adanya pengakuan kedua wanita ini.

Sebelumnya memang Nazaruddin juga pernah mengatakan bahwa Anas menerima dana senilai hampir 7 juta dollar AS dari PT Adhi Karya, perusahaan pemenang tender proyek Hambalang dan Nazarudin juga kerap menyebut PT Anugrah Nusantara sebagai mesin uang untuk kepentingan Partai Demokrat bahkan Nazarudin sempat menyebut dari PT Anugrah Nusantara inilah dana untuk pemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. (sumber gressnews.com)

Uang tersebut oleh Anas dibagikan kepada semua pengurus Partai Demokrat di daerah untuk memenangkannya dalam Kongres Partai itu di Bandung, Mei 2010. Nazaruddin juga menolak disebut berbohong atas tuduhan-tuduhannya. Dia mengaku telah menyampaikan bukti-bukti ke penyidik KPK. “Soal Anas sudah saya sampaikan semua di dalam, tinggal KPK yang menindaklanjuti,” Demikian kata Nazarudin.

Komisi Pemberantasan Korupsi memang telah memeriksa Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam kasus Hambalang. Pemeriksaan terhadap kasus Anas ini belum selesai. Menurut Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, pihaknya terus mendalami dugaan korupsi dalam proyek pembangunan pusat olahraga Hambalang di Bogor, Jawa Barat. Oleh karena itu, KPK berencana akan memanggil Anas kembali untuk diperiksa. Terutama terkait dugaan tindak pidana korupsi di kongres Partai Demokrat di Bandung tahun 2010 lalu. "Kemungkinan akan dipanggil lagi," ujar Busyro di kantornya, Jakarta, Selasa (2/10).

Menurut Busyro, meskipun belum ditemukan bukti langsung soal ada tidaknya aliran uang ke Anas maupun ke kongres Partai Demokrat, KPK tetap mendalami ke mana saja uang dari proyek Hambalang mengalir. "Kalau ada sampai hal-hal ke situ (Anas), kita sampaikan," ujarnya. KPK menyatakan telah menemukan dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan status penyidikan terhadap proyek yang belakanganan diketahui menelan Rp 2,5 triliun tersebut. Hari ini KPK telah memeriksa Ketua DPP Demokrat Umar Arsal mengenai Kongres Partai Demokrat 2010 tersebut. Hanya saja pemeriksaan anggota Komisi V DPR itu tidak berlangsung lama karena dia harus menghadiri sidang paripurna di DPR.

Arsal diperiksa oleh KPK karena sebelumnya pernah disebut oleh Diana Maringka selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang PD Minahasa Tenggara, saat bersaksi dalam persidangan kasus suap wisma atlet SEA Games 2011. Diana menerima uang 7.000 dollar AS, Rp 100 juta, dan Rp 30 juta dalam beberapa tahap saat kongres Partai Demokrat berlangsung. Menurut Diana, uang tersebut terkait pemenangan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum partai. "Uang itu dari Pak Umar Arsal dari tim sukses Pak Anas," kata Diana saat saat itu.

Benar atau tidak nyanyian Nazarudin, tetap ini akibat dari Narkoba juga, cuma bukan Narkoba singkatan Narkotika dan Obat Bahan Berbahaya tapi Narkoba singkatan dari NAma Rusak KOrban Anas-Angelina-Andi atau bisa juga NAzaudin Korban Bapak Anas-Andi, selanjutnya tinggal pembaca saja yang mempelesetkannya arti dari singkatan Narkoba. karena itu lah mari kita bersama-sama memberantas Narkoba dalam segala bentuk. karena sudah jelas merugikan semua pihak.

Anehnya melalui Narkoba juga Susilo Bambang Yudhono (SBY) selaku Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga sebagai Presiden Republik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini rajin sekali memberikan grasi pada Pengguna Narkoba, nah kalau ini Narkoba benaran bukan sekedar singkatan he he he

Pemberian Grasi pada terpidana kasus Narkoba ini ternyata tidak sesuai dengan pernyataan SBY sendiri pada tahun 2006 ketika memberikan sambutan pada Hari Anti Narkoba Internasional yang diselenggarakan di Istana Negara Jakarta pada tanggal 30 Juni 2006. Berikut ini cuplikan pidatonya SBY :

“Saudara ketua Mahkamah Agung, saya sendiri, tentu memilih untuk keselamatan bangsa dan negara kita, memilih keselamatan generasi kita dibandingkan memberikan grasi kepada mereka yang menghancurkan masa depan bangsa. Dan pemerintah tidak akan memberi toleransi kepada para pembuat dan pengedar narkoba. "Pemerintah telah dan akan terus melakukan penegakkan hukum tanpa pandang bulu. Para pelaku kejahatan narkoba dengan segala bentuk dan modus operandinya akan terus kita lawan dengan sekuat tenaga,"

Namun sungguh ironis, kini SBY memberikan grasi kepada empat narapidana kasus narkoba dengan alasan kemanusiaan tanpa mempertimbangkan bahwa pelaku Narkoba justru orang yang tidak berperikemanusian karena telah menjerumuskan generasi muda anak bangsa yang notabene adalah konsumen terbesar pangsa pasar narkoba di Indonesia.

Oknum Partai Demokrat memang unik, lebih unik lagi adalah kasus yang menimpa Hartati mantan Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat. Hartati adalah pelengkap kalimat dari kasus Wanita Makan Dana Haram digedung penegak hukum, berikut ini rangkaian kalimatnya :

Siapakah wanita wanita pemakan dana haram tersebut :

Wa Oda Nurhayati = WA
Nunun Nurbaeti = N
Imas Dianasari =I
Artalyta = TA
Malinda Dae = MA
Kartini Marpaung = KA
Neneng Sri Wahyuni = N
Danawarti = DANA
Hartati Murdaya = HA
Rosa Manullang =R
Angelina Sondhak = A
Miranda Gultom = M

Coba kita lihat rangkaian nama-nama diatas, hurup tebal didepan nama-nama wanita tersebut, kecuali nama Artalyta yang mengambil dua huruf terakhir, ternyata dari nama-nama itu mengandung makna yang sangat dalam terutama setelah Hartati ditetapkan sebagai tersangka sehingga nama Hartati menjadi pelengkap yang terwujud menjadi sebuah kalimat “WANITA MAKAN DANA HARAM” Kisah wanita makan Dana Haram ini bisa dibaca disalah dinding blog ini

Kalimat itu memang perwujudan dari kelakuan wanita-wanita terhormat tersebut yang telah melakukan perbuatan tidak terpuji agar dapat memperoleh penghasilan dengan cara tidak wajar, sehingga penghasilan yang didapat pun terwujud dalam bentuk “UANG HARAM” Mungkin kalimat yang lebih sesuai dengan kelakuannya itu adalah “WANITA MAKAN DANA HARAM”

Mungkinkah dengan telah ditahannya Hartati Murdaya yang berpura-pura sakit namun terbukti telah menjadi pesakitan ini, menjadi wanita terakhir yang akan ditahan oleh KPK dan aparat penegak hukum lainnya. Ataukah di kemudian hari akan ada wanita-wanita pemakan uang haram lagi yang akan dijadikan tersangka. Bila itu benar ada dan terjadi, katakan wanita-wanita tersebut mempunya nama dengan awalan huruf MATI MELOTOT. sehingga semakin lengkaplah arti kalimat tersebut menjadi “WANITA MAKAN DANA HARAM MATI MELOTOT”

Berita Lainnya :
Anis Matta Tersandung Narkoba
Agus Sutondo Peduli Pendidikan
* SBY Plin Plan Indonesia Banjir Narkoba
Peran Intelejen Indonesia Antisipasi Kudeta
Selamat Datang Investor Ganja di Indonesia
Zamannya Presiden SBY Paling Menyedihkan
Surat Presiden SBY Yang Bikin Takut Malaysia
* Perselingkuhan Anas Urbaningrum Dengan Model Iklan