Kamu memang sudah tidak cantik lagi, tapi aku tetap sayang kamu INDONESIAKU

Nasib Novel Baswedan Bagaikan Trunojoyo

Trunojoyo adalah sosok pahlawan, Ia Pangeran dari Madura di zaman Kerajaan Mataram Islam. Pada tahun 1675-1680 Trunojoyo memimpin pemberontakan terhadap Raja Mataram Amangkurat I yang di dukung oleh VOC Belanda. Semula Trunojoyo di sokong oleh Raden Kajoran, Anak Amangkurat I yang sangat bernafsu dan berambisi ingin menjadi Raja. Berkat Perjuangan gigih Trunojoyo yang juga dibantu oleh Kraeng Galengsung dari Makasar, Belanda dan Amangkurat I akhirnya dapat dikalahkan. Kemudian Raden Kajoran naik tahta dan bergelar Amangkurat II ( 1677-1703 ), tapi setelah menjadi Raja, Ia berbalik meminta bantuan Belanda untuk memerangi Trunojoyo.

Dalam suatu pertempuran Trunojoyo akhirnya dapat dikalahkan dan ditangkap. Untuk merayakan kemenangannya setelah berhasil menangkap Trunojoyo, Amangkurat II mengundang para Bupati dan mengumpulkan mereka di balairung Istana ( Kraton ). Trunojoyo digelandang kehadapan mereka dan terjadilah adegan yang sangat mengerikan, di depan para Bupati, Amangkurat II menikam Trunojoyo lantas, Konon, Perut Trunojoyo dibelah, Hatinya diambil dicincang kecil–kecil dan dibagikan kepada para Bupati untuk ditelan mentah–mentah sebagai tanda kesetiaan terhadap Amangkurat II.

Jauh di zaman kemudian, Trunojoyo di beri gelar Pahlawan oleh Pemerintah Republik Indonesia, karena keberanianya berjuang melawan Penjajahan Belanda dan nama Trunojoyo akhirnya di abadikan sebagai nama jalan di Ibukota Jakarta, Lokasinya tak jauh dari terminal bis Blok M dan Kantor Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Di jalan nomor tiga itulah Markas Besar Kepolisian Indonesia berada. Namun saat ini nama jalan tersebut sering menjadi berita nasional berbau hukum, terutama banyaknya kasus yang melibatkan petinggi polri dalam berbagai skandal kasus penyuapan mulai dari mantan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Polisi (Purn) Suyitno Landung dan mantan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Polisi (Purn) Susno Duadji. Kedua petinggi Polri ini sudah divonis dan dihukum.Entah kebetulan atau tidak nama Kabareskim berubah istilah menjadi trunojoyo tiga, hal ini terungkap saat mencuatnya kasus dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit dan Chandra yang mana berdampak pada di putarnya Rekaman Anggodo Wijoyo di Mahkamah Konstitusi yang menyebut-nyebut nama Trunojoyo Tiga yang tak lain adalah Susno Duadji sendiri yang waktu itu menjabat sebagai Kabareskrim Polri. Trunojoyo Tiga adalah sebutan orang nomor tiga di Markas besar Kepolisian Indonesia.

Terkait kasus Susno Duadji ini memang sangat Kontroversial, penetapannya sebagai tersangka banyak menimbulkan tanda tanya ? Banyak berita dan foto di lansir media massa terkait keberanian Komjen Susno Duadji mengungkap sejumlah kasus penyimpangan dan penyelewengan keuangan negara, maka jadilah Jenderal berbintang tiga itu sebagai si peniup peluit ( whistle brower ), Sejumlah kasus besarpun berhasil dibongkar tetapi Susno malah menjadi tersangka dan akhirnya Susno Duadji tetap di vonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Selain kasus diatas kembali Markas Besar Kepolisian yang beralamat dijalan trunojoyo tiga tersebut tersandung masalah korupsi pengadaan simulator yang melibatkan para petinggi Polri, bedanya kalau kalau kasus Suyitno Landung dan Susno Duaji ditangani langsung oleh institusi Polri, namun kasus Korupsi pengadaan simulator justru ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). walaupun dari pihak Polri sendiri sudah melakukan penyidikan terhadap kasus ini sehingga dualisme kewenangan penyidikan inilah yang sempat menimbulkan pertikaian yang sangat tajam antara Polri dan KPK.

Walaupun telah terjadi dualisme penyidikan namun Komisi Pemberantasan Korupsi tetap melakukan tugas berdasarkan kewenanganya dan tanpa menunggu waktu yang lama, akhirnya KPK menetapkan beberapa perwira tinggi polri menjadi tersangka kasus Korupsi pengadaan simulator. Penetapan tersangka perwira tinggi Polri ini memang luarbiasa karena sejak berdirinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama hampir satu dasawarsa, baru pertama kali ini KPK menetapkan perwira tinggi Polri aktif sebagai tersangka.

Dampak dari sikap tegasnya KPK ternyata telah menuai perang baru antara KPK dan Polri jilid kedua, publik tentu masih ingat bagaimana perseteruan Polri dengan KPK serta kasus Susno Duaji yang menimbulkan istilah Cicak dan Buaya, hingga terjadinya kriminalisasi KPK dengan diperiksanya dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit dan Chandra oleh pihak Polri. Dampak kriminalisasi ini sangat luar biasa. namun dengan tekanan publik yang juga luarbiasa ,akhirnya KPK terselamatkan dari upaya kriminalisasi tersebut.

Kembali upaya kriminalisasi KPK ini terjadi, beberapa jam setelah Gubernur Akpol Irjen Djoko Susilo yang juga mantan Kakorlantas dipanggil dan diperiksa sebagai tersangka dalam kasus pengadaan simulator kemudi motor dan mobil di Mabes Polri tahun anggaran 2011, tidak lama kemudian gedung KPK didatangi pasukan Polri yang akan menangkap Novel Baswedan dengan tuduhan telah melakukan penganiayaan ketika Novel masih menjabat sebagai kasatreskim di Bengkulu tahun 2004.

Upaya penangkapan Novel Baswedan ini ternyata menimbulkan pertanyaan besar ? Mengapa kasus yang sudah diselesaikan ditingkat kode etik polri dan sudah dianggap selesai tetapi diungkap kembali saat ini, apalagi status Novel bukan sebagai pihak yang tersalahkan. Jelas tindakan polri ini ada udang dibalik batu, karena Novel adalah salah satu penyidik polri yang mendapat tugas sebagai Ketua penyidik kasus Korupsi Pengadaan simulator. Dan tindakan Polri ini sama saja dengan tindakan kriminalisasi KPK.

Mungkinkah akan terulang kembali kasus Susno Duaji jilid kedua, dimana saat itu Susno Duaji sebagai si peniup peluit (whistle brower) membongkar sejumlah kasus penyimpangan dan penyelewengan keuangan negara, tetapi justru Susno Duaji malah ditangkap dan diperiksa terkait beberapa kasus lamanya. Begitu juga dengan Novel Baswedan yang akan ditangkap dengan kasus lamanya. Ketidakwajaran Penangkapan terhadap Novel karena dianggap Novel sebagai biang keladi terungkapnya kasus Korupsi pengadaan simulator ditubuh Polri.

Novel Baswedan yang dulu disokong oleh polri untuk menjadi penyidik di KPK dan berhasil menumpas beberapa kasus Korupsi. kini justru nasib Novel bagaikan seorang Trunojoyo yang dulu juga disokong oleh Raden Kajoran, Anak Amangkurat I yang sangat bernafsu dan berambisi ingin menjadi Raja. Berkat Perjuangan gigih Trunojoyo yang juga dibantu oleh Kraeng Galengsung dari Makasar, Belanda dan Amangkurat I akhirnya dapat dikalahkan.

Kemudian Raden Kajoran naik tahta dan bergelar Amangkurat II ( 1677-1703 ), tapi setelah menjadi Raja, Ia berbalik meminta bantuan Belanda untuk memerangi Trunojoyo dan akhirnya Trunojoyo meninggal sangat mengenaskan akibat dikhianati oleh orang-orang serakah yang meminta bantuan belanda untuk memeranginya, Begitu juga dengan Novel yang dulu disokong Polri untuk menjadi penyidik di KPK, tapi setelah berhasil menumpas beberapa kasus Korupsi. Nasib Novel pun bagaikan Trunojoyo yang di tikam dengan tuduhan-tuduhan yang sangat menyakitkan, perutnya di robek, di bedah, dan hatinya di betot, citranya di potong-potong lantas di bagikan kepada Publik untuk di telan mentah-mentah. Kasus Novel ini dikhawatirkan dapat mencoreng citra Kepolisian di mata masyarakat, terutama terkait kasus hukum yang melanda Markas Besar Kepolisian Indonesia yang memang beralamat di jalan Trunojoyo Tiga Jakarta.

Bila kasus kriminalisasi KPK jilid dua ini dibiarkan, tentunya akan menimbulkan amarah yang luar biasa dari masyarakat, lihat saja dukungan masyarakat terhadap KPK, ketika isu akan ditangkapnya Novel oleh Polri, Masyarakat berbondong-bondong mendatangi gedung KPK untuk memberikan dukungan pada KPK agar tidak seenaknya saja Polri menangkap Novel yang dituduh telah melakukan penganiayaan.Ada dugaan penangkapan novel yang tidak wajar ini, adalah bagian dari upaya kriminalisasi KPK. Bila ini terjadi, sudah pasti akan menimbulkan protes massal yang berujung pada gerakan people power seperti tahun 1998. Dan ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, karena masyarakat sudah muak terhadap perilaku para korupsi yang memang sudah membudaya di negeri ini. bila KPK sebagai benteng terakhir pemberantasan Korupsi akan di kriminalisasikan, tentunya situasi dan kondisi ini dapat menyulut emosi masyarakat yang akan berdampak lebih luas hingga menimbulkan kekuatan massa untuk melawannya.

Berita Lainnya :
----------------------------------------------------------------------------------------------------- Terima kasih telah membaca artikel Nasib Novel Baswedan Bagaikan Trunojoyo. Apabila ada pertanyaan dan keluhan silakan menghubungi AGUS SUTONDO melalui kontak di sini 085710090000
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
AGUS SUTONDO MEDIA CENTER
MAS TEMPLATE