Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Masih Ingatkah Jenderal, Hari ini 42 Tahun Yang lalu

Sehari setelah Presiden Soeharto pada perayaan hari ABRI 5 Oktober 1970 menyerukan kepada para prajurit untuk tidak menyakiti rakyat, namun seruan tersebut ternyata tidak di laksanakan dengan sebaik-baiknya. Tepat tanggal 6 Oktober 1970 terjadi sebuah peristiwa yang tidak akan dilupakan oleh Alumni maupun mahasiswa ITB, terbunuhnya Rene Louis Coenraad, dalam Peristiwa 6 Oktober 1970 di depan kampus ITB. Sejumlah Oknum Taruna Akpol mengeroyok Rene usai kekalahan mereka dalam pertandingan sepakbola beberapa saat sebelumnya, Rene tertembak hingga tewas.

Setelah penembakan tubuh Rene yang waktu itu belum diketahui masih hidup atau sudah meninggal hilang tak diketahui kemana setelah dibawah dengan Jip. Ganti Brahmana salah satu mahasiswa yang menyaksikan langsung insiden tersebut, dia melihat ada sesosok tubuh yang diseret pada kedua belah tangannya dan kemudian dilemparkan ke bagian belakang sebuah Jip Toyota bernomor polisi 008-425, itulah yang terakhir Rene terlihat ditempat kejadian. Ganti Brahmana akhirnya berinisiatif mencari Rene dengan segera menemui AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) Tjuju Sumirat pejabat Komandan Kobes (Kota Besar) 86 Bandung yang kebetulan sedang berada di kampus ITB, Bersama perwira polisi itu, Brahmana mencari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Setelah mencari kesana kemari, ternyata jenazah Rene sudah ditemukan dan ada di kantor polisi Kota Besar (Kobes) Bandung di jalan Merdeka, keadaan jenazah Rene sungguh kurang wajar, Jenazah Rene sang mahasiswa korban pembunuhan ditemukan tersembunyi di satu ruangan yang mirip gudang, dibalik satu panel dan tergeletak begitu saja diatas lantai. Menurut laporan para mahasiswa yang dikutip oleh mingguan Mahasiswa Indonesia, Muka Rene remuk, darah mengucur dari lubang telinga, hidung dan lubang-lubang bekas luka di sekujur tubuh terdapat lubang peluru dibahu kiri dan pundak yang diperkirakan menembus sampai kedada dan pinggang. Melihat kondisi jenazah sungguh tak terbayangkan bahwa itu semua hasil perbuatan sejumlah oknum calon perwira yang kelak sebagian besar telah menjadi Jenderal Polisi dan bahwa situasi itu terdapat dikantor polisi yang seharusnya menjadi pelindung rakyat. Dan sungguh kontras dengan fungsinya, para polisi yang ada ditempat itu tak satupun yang mau bertanggungjawab kenapa jenazah korban yang mestinya segera dilarikan kerumah sakit justru ada disana, sehingga memperkuat kecurigaan adanya suatu upaya menyembunyikan.

Akibat insiden itu, maka pada tanggal 7 Oktober 1970 pecah demonstrasi besar-besaran yang melibatkan seluruh mahasiswa dan pelajar di bandung. Aksi demonstrasi ini dilakukan setelah para mahasiswa dan pelajar melakukan apel suci melepaskan jenazah Rene Louis Coenraad ke Jakarta di kampus ITB pada pagi harinya. Demonstrasi ini termasuk besar dan menandingi demonstrasi-demonstrasi besar pada tahun 1966. Demontrasi lanjutan yang lebih besar dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar Bandung, Bogor dan Jakarta melakukan pawai berkabung keliling ibukota Jakarta setelah proses pemakaman Rene Louis Coenraad tepat tanggal 9 Oktober 1970,

Beberapa hari kemudian Presiden Soeharto tampil menyampaikan pidato, menjanjikan akan dilakukan pengusutan dan tindakan hukum atas peristiwa tersebut, Soeharto juga menyebutkan akan lebih ditegakkannya hak-hak sipil dengan lebih baik. Memang tak lama kemudian, peristiwa itu diusut bahkan sampai kepada proses peradilan di mahkamah militer, tapi terlihat menyolok mata, betapa oknum taruna akademi kepolisian (Akpol) yang terlibat dan dicurigai oleh mahasiswa bandung sebagai penembak Rene namun para oknum Taruna Akpol ini cenderung diselamatkan dari tuduhan sebagi pembunuh Rene.

Demi para calon perwira itu, para petinggi Polri bahkan sampai hati mengorbankan seorang Bintara Brimob bernama Djani Maman surjaman, untuk diadili dan dihukum karena dinyatakan terbukti menembak Rene.

Peradilan pertama dengan terdakwa Brigadir Polisi dua Djani Maman Sujarman berlangsung marathon, kurang dari sebulan sejak peristiwa tersebut. Akhir bulan Desember Mahkamah Militer Priangan-Bogor memjatuhkan vonis untuk Djani dengan hukuman 5 tahun 8 bulan, Kemudian dalam pengadilan banding Mahkamah Kepolisian Tinggi pada tanggal 13 April 1972, hukuman Djani turun menjadi 1 tahun 6 bulan atas kealpaan yang menyebabkan kematian Rene Louis Coenraad. Bila pengadilan terhadap Djani begitu cepat namun tidak bagi persidangan kedua dengan terdakwa 8 oknum Taruna Akpol yang justru sudah menjadi perwira aktif, persidangan berlangsung tahun 1973 dan berakhir tahun 1974 dengan putusan menggembirakan bagi perwira muda itu, hukuman percobaan dalam hitungan bulan.

Tuduhan terhadap Djani sebenarnya tidak di topang oleh hampir seluruh kesaksian, baik dari kalangan mahasiswa, para anggota brimob yang bertugas di tempat kejadian maupun kesaksian Ahli Forensik, yang memberikan kesaksian memberatkan hanya para mantan Taruna itu. Djani sendiri dengan kata-kata yang mengharukan penuh kegetiran mengatakan dalam pembelaannya “saya melihat dengan mata kepala sendiri, Rene dikejar, dipukul, tapi ketika saya datang untuk menolong, saya juga ikut terpukul. Saya sangat sedih dan tindakan ini sangat kejam, saya yang justru menolong Rene dari pukulan Taruna Akpol malah dituduh dan dituntut oleh Oditur, Bapak hakim, saya hanyalah seorang yang bodoh tidak berpendidikan tinggi tak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan saksi-saksi dari mantan taruna akpol tersebut, namun oleh Oditur maupun majelis hakim tetap tidak mendengarkan pembelaan Djani yang memilukan publiK saat itu.

Meski kedua proses peradilan terkait insiden 6 Oktober 1970 dengan tewasnya Rene ini telah menetapkan Djani sebagai pembunuh, namun pada hakekatnya masih tersimpan sebuah misteri tak terjawab siapa pembunuh sebenarnya Rene Louis Coenraad ? Mahasiswa menyakini, pembunuh itu terselip diantara Taruna Akpol 1970 dan ini adalah noda yang melekat pada Angkatan Taruna Akpol 1970 yang belum terselesaikan dan senantiasa akan tetap tercatat sebagai kejahatan yang belum terungkap sampai saat ini. Kelak dikemudian hari Perwira-perwira muda ini banyak yang berhasil menjadi petinggi Polri bahkan kini sudah menjadi pensiunan Jenderal.

Terucap sebuah kata “Masih ingatkah Jenderal dengan Peristiwa 42 tahun yang lalu didepan kampus ITB” masih ingatkah Jenderal bagaimana ibunda Rene ketika menunjuk Gubernur Akpol Irjen Awaludin Jamin, Tindakan yang mengharukan dari seorang Ibu karena kesal melihat kematian anaknya akibat di keroyok oleh Oknum Taruna Akademi Kepolisian tahun 1970. 

Tapi ingat Jenderal bahwa segala apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini, baik atau jahat, benar, salah atau keliru, atau kekeliruan dan kesalahan yang di pertahankan tentunya semua nanti harus di pertanggungjawabkan di Pengadilan “TUHAN”. 

Sumber :
Francois Raillon 1984 : Buku Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia.1966-1974
Rum Aly 2006 : Buku Titik Silang Jalan kekuasaan 1966 Jakarta
http://gerakanmahasiswa78.blogspot.com

Berita Lainnya: