Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

G30S/PKS Serbu Kedubes Amerika Serikat

Peristiwa pembantaian massal pasca terjadinya Gerakan 30 September 1965 PKI atau G30S/PKI, adalah sebuah peristiwa yang secara tidak langsung terkait dengan peran Amerika Serikat dan berada dibelakang layar terjadinya peristiwa tersebut dengan target tumbangnya kekuasaan Soekarno yang memang dianggap sebagai orang yang sangat berbahaya bagi kepentingan Amerika Serikat.

Dampak peristiwa G30S/PKI memang sangat luar biasa, berkat propaganda politik dan kebohongan yang diciptakan terkait tewasnya 7 Pahlawan Revolusi dengan cara mengerikan telah menciptakan atmosfer histeria di seluruh Indonesia yang telah mendorong pembantaian lebih dari setengah juta orang dengan cara paling mengerikan, tanpa melalui proses pengadilan. Tidak keliru bila ada yang menyebut bahwa pemerintahan Orde Baru didirikan di atas tumpukan tengkorak dan tulang belulang, demikian kata Ben Anderson dalam artikelnya, How Did the Generals Die ?

Sayangnya, kebohongan ini sudah kadung dianggap sebagai fakta sejarah dan diajarkan di sekolah-sekolah. Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Dan pembunuhan dengan cara apapun jelas di luar nilai-nilai kemanusiaan. Namun dari hasil otopsi yang dilakukan dr. Lim Joey Thay dan teman-temannya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang dilaporkan media massa yang dikuasai Aparat.

Visum et repertum jenazah Pahlawan Revolusi ini jelas bukan barang baru. Benedict Anderson dari Cornell University telah menyalin ulang visum et repertum itu dalam artikelnya, How Did the Generals Die ? di jurnal Indonesia edisi April 1987. Artikel Ben Anderson ini membuat pemerintahan Soeharto marah besar, dan sejak itu Ben Anderson diharamkan menginjakkan kaki di Indonesia.

Peristiwa sejarah paling hitam Republik Indonesia tersebut memang sudah lama berlalu namun disaat ini tepat tanggal 30 September 2012 ketika rakyat Indonesia sedang mengenang peristiwa 47 Tahun yang lalu. Tiba-tiba Kedutaan Besar Amerika Serikat di demo ribuan kader PKS, kalau boleh penulis menyebut aksi demo ini adalah Gerakan 30 September Partai Keadilan Sejahtera atau G30S/PKS tetapi Gerakan 30 September 2012 ini adalah bukan Gerakan 30 September yang dulu ditunggangi oleh Amerika Serikat. tetapi Gerakan ini justru ingin menyatakan protes terhadap Film Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan anti Kapitalisme dan Kolonialisme, Sekitar Ribuan Kader PKS melakukan Longmarch dari jam 13.00 Wib menuju Kedubes Amerika Serikat.

Amerika Serikat kena batunya, kalau dulu 47 tahun yang lalu boleh berbangga hati yang berakibat tumbangnya Soekarno, tetapi saat ini di hari dan tanggal yang sama, Aksi unjuk rasa PKS bersama tokoh lintas Agama ini menyatakan agar Nokoula Basseley pembuat Film Innoncence of Muslims yang melakukan Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW di hukum sangat berat atas perbuatanya karena Nokoula telah melanggar Hak Azasi Manusia yang selama ini dikampanyekan oleh Amerika Serikat sendiri. Apalagi sikap Amerika Serikat (AS) yang sepertinya tidak berubah menerapkan Politik standar ganda, disisi lain mengkampanyekan Demokrasi dan Hak Azasi Manusia tetapi disisi yang lain membiarkan dan bahkan tidak menghukum pelanggar HAM seperti Nokoula Basseley yang jelas-jelas telah menyakiti ratusan juta kaum muslimin diseluruh dunia karena telah melakukan Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Kapitalis Amerika memang harus dilawan, hegemoni Amerika sebagai satu-satunya kekuatan dunia pasca runtuhnya Uni Soviet telah menimbulkan kerusakan dimana-mana akibat campur tangannya terhadap urusan dalam negeri suatu negara, bagi setiap Negara yang tidak sepaham atau tidak mau mengikuti kebijakannya maka Amerika Serikat pasti akan membikin ulah. Misalkan Irak dan Libya, kedua Negara tersebut habis di poraporandakan oleh Amerika tragisnya kedua presiden Negara tersebut meninggal dengan cara yang mengenaskan. 

Nasib serupa pun telah terjadi pada presiden pertama dan bapak bangsa Republik Indonesia Soekarno, dengan taktik peristiwa Gerakan 30 September 1965, akhirnya kekuasaan soekarno tumbang digantikan oleh rezim orde baru dibawah pimpinan Soeharto. Siapa dalang sesungguhnya peristiwa berdarah tersebut ? namun fakta menunjukan setelah mereka berpesta pora dengan melakukan pembantaian terhadap rakyat yang tak berdosa, mereka berpesta pora kembali dengan melakukan kontrak-kontrak kerjasama terhadap perusahaan-perusahaan asing milik Amerika untuk menjarah Sumber Kekayan Alam Indonesia yang memang pada saat itu sangat melimpah maka tercipta lah kemudian pesta pora yang baru di ladang-ladang Korupsi yang subur. Indonesia telah menjadi surga baru bagi investor-investor kapitalis. 

Lewat perampokan raksasa yang terlembaga ini, ditambah dengan seperangkat kebijakan di mana Rezim Orde Baru menjamin kepentingan mitra usahanya terutama dari Amerika, maka tidaklah mengherankan bahwa gelombang pemasukan dari Minyak, Tembaga, Emas, Intan, Uranium memberikan sedikit sumbangan atau bahkan tidak sama sekali bagi pembangunan ekonomi yang rasional atau membantu penduduk di lapisan bawah dan lihat sekarang ini, Indonesia masih saja tetap miskin, utang yang semakin besar tapi kekayaan alam sudah hampir habis di rampok oleh mereka yang senang berpesta pora di atas penderitaan rakyat. 

Sejarah memang telah membuktikan bahwa segala keindahan semasa Orba tidaklah fundamental, namun bersipat artificial serta semu belaka. Mampukah kita bangkit kembali sebagai bangsa yang berdaulat, namun kalau melihat sipat masyarakat kita yang mudah menjadi pelupa serta ketiadaan kemampuan dalam mengidentifikasi persoalan yang sebenarnya terjadi, maka sampai kapan pun republik ini tetap tidak akan berubah, malah dikhawatirkan kedepannya akan lebih parah apabila masyarakat masih terbuai dan terpesona dengan model pencitraan semu yang dilakukan para pemimpin karbitan yang sudah tidak lagi malu-malu lagi mengiklankan diri bagaikan pahlawan kesiangan.

Berita Lainnya :