Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Tarian Harum Bunga Untuk Sang Jenderal

Ayo anak-anak siapkan diri kalian, besok tanggal 30 September kita akan menonton film sejarah tentang peristiwa Gestapu 1965 di bioskop mulia agung pasar senen, bagi yang tidak menonton nanti akan kena sanksi ? tanpa bisa protes menanyakan alasan kenapa harus menonton film sejarah Gestapu 1965 anak-anak sekolah tahun 80-an dengan terpaksa akhirnya menonton film yang sarat dengan proganda politik orde baru itu. Kenangan itu saat ini masih membekas dihati penulis ketika dulu masih sekolah di kawasan pasar baru Jakarta.

Setelah menonton film tersebut, esok harinya didalam kelas, suasana sangat ramai karena murid-murid didalam kelas banyak yang menceritakan tentang kekejaman Partai Komunis Indonesia dan antek-anteknya, terutama terkait adanya pesta tarian harum bunga yang dilakukan oleh gerakan wanita Indonesia (Gerwani).

Namanya juga anak-anak sekolah yang belum mengerti apa-apa tentang arti politik dari peristiwa tersebut, sehingga kalau boleh dikatakan, propaganda politik melalui tayangan peristiwa gestok 1965 itu sangat berhasil. Apalagi melalui pelajaran sejarah dan pendidikan moral pancasila selalu disampaikan propaganda berhasilnya kekuatan orde baru menumpas gerakan partai komunis Indonesia.

Sejarah memang milik sang pemenang, jangan sekali-kali kita mengkritisi kebijakan penguasa orde baru. Karena Pada masa itu memang tidak ada namanya buku-buku atau informasi pembanding yang berkaitan dengan peristiwa gestok 1965, semua pelajaran sejarah yang didapat sumbernya hanya satu yaitu sang penguasa, suara lain pasti dibungkam dan dituduh tidak punya etika dan budaya. Siapa yang berani mengotak-atik sejarah buatan penguasa orde baru maka akan bernasib malang Misalnya bukunya dilarang dan penulisnya diburu dan ditangkap serta dituduh sebagai musuh Negara.

Kekuasaan memang tidak akan abadi apalagi kekuasaan yang didirikan diatas tumpukan tengkorak dan tulang belulang, sehingga setelah Rezim Orde Baru tumbang, satu demi satu sejarah kebohongan rezim orde baru mulai terungkap.

Pengakuan Lim Joey Thay

Lim Joey Thay adalah tokoh penting. Sangat penting, bahkan. Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945. Lim Joey Thay atau Dikenal dengan nama dr. Arief Budianto yang ketika itu adalah lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) merupakan satu dari lima ahli forensik yang berdasarkan perintah Soeharto memeriksa kondisi ketujuh mayat tersebut sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, siang hari 5 Oktober.

Dalam pengakuannya dr. Lim Joey Thay bercerita tentang alat kelamin Pahlawan Revolusi yang disilet apalagi dipotong dan ditelan juga cerita tentang mata mereka yang dicungkil adalah bohong belaka. Sayangnya, kebohongan ini sudah kadung dianggap sebagai fakta sejarah dan diajarkan di sekolah-sekolah. Ketujuh pahlawan revolusi itu jelas mati dibunuh. Dan pembunuhan dengan cara apapun jelas di luar nilai-nilai kemanusiaan. Namun dari hasil otopsi yang dilakukan dr. Lim Joey Thay dan teman-temannya sama sekali tidak menemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang dilaporkan media massa yang dikuasai Aparat.

Visum et repertum jenazah Pahlawan Revolusi ini jelas bukan barang baru. Benedict Anderson dari Cornell University telah menyalin ulang visum et repertum itu dalam artikelnya, How Did the Generals Die ? di jurnal Indonesia edisi April 1987. Artikel Ben Anderson ini membuat pemerintahan Soeharto marah besar, dan sejak itu Ben Anderson diharamkan menginjakkan kaki di Indonesia.

Cerita-cerita mengenai alat kelamin yang disayat, dipotong dan dimakan telah membangkitkan amarah di akar rumput. Cerita-cerita imajinatif ini, menurut Ben Anderson dalam artikelnya yang lain, Indonesian Nationalism Today and in the Future (1999), sengaja disebarkan oleh pihak militer. Ia bagian dari dalih untuk melakukan pembantaian massal, Dan ia bagai minyak tanah yang disiramkan ke api. Menyambar-nyambar. Selanjutnya, yang terjadi adalah pembantaian besar-besaran di mana-mana terhadap anggota PKI dan/atau siapa saja yang dituduh menjadi anggota PKI dan/atau memiliki relasi dengan PKI.

Benedict Anderson, menggarisbawahi bagaimana dan dengan maksud apa berita pemotongan alat kelamin itu disebarkan. Propaganda pihak militer ini, yakin Ben Anderson, dilakukan untuk menciptakan atmosfer histeria di seluruh Indonesia yang telah mendorong pembantaian lebih dari setengah juta orang dengan cara paling mengerikan, tanpa melalui proses pengadilan. Tidak keliru bila ada yang menyebut bahwa pemerintahan Orde Baru didirikan di atas tumpukan tengkorak dan tulang belulang, demikian kata Ben Anderson.

Laporan The Econimist London, berdasarkan informasi ilmuwan Indonesia, mengemukakan bahwa 100.000 orang tewas hanya dalam hitungan bulan Desember 1965 hingga Februari 1966. Menurut Komisi Pencari Fakta yang dibentuk setelah peristiwa berdarah itu, jumlah korban hanya 78.000 orang. Tapi, Oei Tjoe Tat menteri negara jaman Bung Karno yang menjadi ketua tim, justru meragukan penemuan itu. Dalam perjalanannya melakukan penyelidikan ia justru dihambat oleh aparat militer setempat. Ia menyebutkan angka itu terlalu dikecilkan. Dengan menyindir ia menyebut bukan 78.000 tapi 780.000.

Dalam memoarnya, Oei Tjoa Tat menceritakan perjalanannya ke Bali, justru tidak bisa mendapatkan akses kemana mana, karena di karantina di hotel, akhirnya dia bisa di selundupkan suatu malam, dengan melewati dapur untk bertemu sumber sumber penyelidikan. Dari situ ia bisa mengetahui pembunuhan yang terjadi terhadap I Gede Puger, Ketua PKI Bali yang bertubuh gemuk. Tubuhnya dipotong potong, sehingga daging lemaknya terburai sebelum akhirnya kepala di tembak. Tidak hanya dia yang dibunuh, juga seluruh anak istrinya. Bahkan Gubernur Bali, Anak Agung Bagus Suteja yang berafiliasi pada PKI, hilang tanpa bekas. Kelak Oei Tjoe Tat ditahan rezim orde baru karena dianggap sebagai orangnya Soekarno.

Pembunuhan besar-besaran hingga menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit diperkirakan berdasarkan versi Kopkamtib, Lembaga bentukan Orde Baru yang sangat berkuasa dan dapat menentukan mati hidupnya seseorang, dalam laporannya menyebutkan angka hampir sebesar 1 juta orang dengan rincian 800.000 korban di Jawa dan 100.000 korban di Bali dan Sumatera. besarnya angka itu juga menunjukan adanya praktek Genosida yakni menghilangkan kelompok tertentu. Jika Pol Pot melakukan pembantaian massal pada rakyat Kamboja butuh waktu beberapa tahun untuk menghilangkan Kelas Borjuis dan Intelektual, namun di Indonesia mereka melakukan Pembantaian hanya dalam hitungan bulan.

Bagaimana kita mesti menjelaskan terhadap ratusan ribu rakyat di bantai dalam pesta pora di lautan darah rakyat tak berdosa, banyak diantara mereka puluhan ribu guru yang hilang dari sekolah-sekolah dalam periode tersebut, mereka tak tahu apa-apa tentang politik, sehingga bergabung dengan gerakan sempalan PGRI non vaksentral yang memberi semboyan ” Jika Guru Lapar Mereka Tak Bisa Mengajar ” sejumlah data menyebut angka 30.000 ribu sampai 92.000 ribu guru dibunuh. Banyak orang yang tidak tahu apa-apa harus ikut membayar nyawanya karena amuk massa. Kerabat, tetangga, bayi bayi yang tak berdosa. Bagaimana kita menjelaskan fenomena ribuan orang orang Bali yang pasrah, lalu berpakaian putih putih berjalan menuju tempat penjagalan, serta berdiam diri menunggu datangnya algojo.

Terkait dengan peritiwa G30S, pada kenyataannya ketika gerakan itu dicetuskan tidak ada PKI-nya. Orang dipaksa untuk mengatakan itu PKI, Hanya setelah Soeharto menang barulah di sebutkan otaknya PKI. Ditambahlah istilah itu menjadi G30S/PKI, kata PKI itu dicantumkan berdasar atas penemuan-penemuan dari mereka yang menang. Saat itulah baru dikatakan gerakan ini harus dberitahu kepada masyarakat bahwa yang melakukan adalah PKI. Jadi perlu ditambahkan kata PKI di belakang G30S. Penambahan kata PKI dilakukan oleh Orde Baru di bawah pimpinan Suharto-Nasution ketika itu.

Pengakuan Aktifis Gerwani

Kisah mantan aktifis-aktifis Gerwani sebagaimana tertuang dalam buku Suara Perempuan Indonesia Korban Tragedi 1965, para perempuan yang di tangkap sejak 1965 telah bersaksi dalam buku ini ”Demi Meluruskan Sejarah” yang telah terbungkam selama 40 tahun padahal ternyata kebanyakan dari mereka adalah berpendidikan sebagai guru atau berprofesi secara tak langsung sebagai tenaga pengajar yang mendedahkan pentingnya ketrampilan dan pengetahuan bagi sesama kaumnya untuk hidup sejajar dengan laki-laki, mereka merupakan lirik lagu : ”Pendekar Kaumnya Untuk Merdeka“.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa salah satu Gerakan Perempuan Progresif yang pernah ada adalah Gerakan Wanita Indonesia atau lazim sering di sebut sebagai Gerwani. Organisasi ini berdiri pada tahun 1954 sedang cikal bakalnya sudah berdiri sejak tahun 1950, Organisasi ini ternyata sangat aktif terutama di kalangan rakyat kecil dari perkotaan sampai pedesaan.

Para pemimpin Gerwani terdiri dari kaum intelektual, cerdik pandai, pendidik maupun kaum aktifis buruh dan tani. Mereka telah menghimpun kaum perempuan untuk berjuang terhadap kesetaraan gender, penolakan terhadap poligami dan perlunya perempuan terlibat dalam proses politik merupakan beberapa agenda yang mereka usung, Aktifitas Gerwani punya nyali yang besar dan lantang menentang berbagai bentuk diskriminasi Gender yang kala itu masih menggejala, meneriakkan penentangan model sosial Patriarkhi yang menyelimuti relasi sosial di berbagai bidang. Pergerakan yang sangat Progresif ini senantiasa mewarnai percaturan politik tanah air di zaman Bung Karno berkuasa.

Peristiwa tragis dalam sejarah hitam Republik Indonesia dengan meletusnya Gerakan September Tiga Puluh 1965 atau lebih di kenal dengan istilah Gestapu, maka Konstelasi Politik pasca meletusnya peristiwa 1965 membawa dampak yang sangat besar bagi Gerwani, melalui berbagai fitnah nama Gerwani di hancurkan dan di bungkam suaranya hingga tak terdengar sama sekali, karena Gerwani di kaitkan pada peristiwa lubang buaya, dan di propagandakan melalui media massa yang di ciptakan oleh suatu rezim, Gerwani di tuduh turut menyiksa para jenderal, mereka di fitnah melakukan mutilasi dan kastrasi……maaf alat kelamin para Jenderal tersebut dengan di iringi upacara maut tarian harum bunga.

Dampak dari pengakuan dan kabar bohong yang begitu cepat menyebar itu membuat aktifitas Gerwani berhenti total karena mereka di kaitkan terlibat dalam peristiwa Gestapu, para aktifis Gerwani di tangkap, di penjarakan tanpa melalui proses hukum dan tanpa tahu kapan mereka akan di lepaskan, berbagai macam siksaan fisik dan psikis menimpa mereka selama puluhan tahun, Kaum perempuan Gerwani tidak hanya mengalami penderitaan karena di tangkap, di tahan, di penjarakan, di buang, di siksa tetapi juga di telanjangi dan di perkosa bergiliran dan di lecehkan martabat kemanusiaannya, di hancurkan rumah tangganya, pendeknya mereka mengalami penderitaan luar biasa lahir dan batin.

Wanita-wanita itu dituduh menari setengah telanjang di depan para jenderal. Sementara para komunis pria menyiksa para jenderal, para wanita menyayat kemaluan para pimpinan TNI AD. Malam kelam 1 Oktober itu pun dihabiskan dengan pesta seks. Itulah propaganda Orde Baru soal Gerwani. Pemerintahan Soeharto menyebut mereka adalah penyiksa para jenderal dan pelaku seks bebas. Untuk mengabadikan itu, Soeharto membuat relief di Monumen Lubang Buaya. Gambar wanita-wanita yang menari dengan berkalung bunga. Karena itu tarian ini dinamakan tarian Harum Bunga atau Tarian Harum Bunga Untuk Sang Jenderal.

Sungguh nama baik Gerwani yang telah mengabdikan dirinya untuk Ibu Pertiwi dan Rakyat kecil umumnya sebagai kelanjutan dari cita-cita Kartini telah di nodai dan di rusak habis-habisan dengan fitnah jahat tiada tara, Stigma sebagai perempuan a-moral tak ber-Tuhan, bahaya laten, stigma khusus bagi Gerakan Wanita Indonesia, Organisasi Perempuan yang selalu di kaitkan dengan PKI tak pernah di klarifikasi.

Stigma yang di ciptakan oleh suatu Rezim itu lantas seperti menjadi bagian dari tubuh. Stigma tarian harum bunga hanya propaganda rezim orde baru untuk menciptakan atmosfer histeria di seluruh Indonesia yang telah mendorong pembantaian lebih dari setengah juta orang dengan cara paling mengerikan, tanpa melalui proses pengadilan.

Apakah stigma itu harus di bawa sampai ke titik akhir hidup ketika perjuangan untuk menghapuskannya, bagaikan sepekat terowongan di dalam terowongan, di situ masa lalu bergeming di lorong waktu yang diam dan secercah sinar yang pernah muncul di ujung jauh terowongan kembali di telan kegelapan. maka dengan upaya bersama semua pihak yang peduli, terlebih kaum sejarawan dan aktifis perempuan, hari depan ini akan memberikan tempat yang layak dan bersinar terang bagi Gerwani dalam Sejarah Bangsa.

Mari Bicara Kebenaran

Generasi muda Indonesia sebagai pemegang tongkat estafet perjalanan bangsa hari ini harus mulai “peduli” dengan sejarah setidaknya sebagaimana saya sampaikan sebelumnya untuk dijadikan alasan mencintai dan hidup mati-matian membela bangsa dan Negara ini. Generasi muda hari ini harus mulai mendekatkan diri dengan kebenaran yang bila tidak disajikan secara logis harus ditelusuri keberadaannya

Dengan belajar memahami sejarah, kita mengenal bangsa sendiri. Sejarah adalah cermin. Sehingga kita bisa bercermin tentang siapa diri kita sebenarnya. Tentu saja berharap kita bukan bangsa pendendam Sejarah konon adalah milik penguasa atau dalam istilah popular di masyarakat “ sejarah adalah milik pemenang ”.

Begitu juga setiap perjuangan ide dan paham di sepanjang kehidupan manusia selama ratusan atau bahkan ribuan tahun, sejarah pula yang nanti akan mencatat, menghakimi dan menjawabnya.

Kini semakin nyata di depan mata siapakah yang benar-benar bercita-cita keras dalam mengangkat nasib rakyat ketarap hidup yang lebih baik, kini sejarah pula yang menghakimi siapa pendukung siapa, siapa pengacau siapa dan dalam kenyataan yang lebih tegas, siapakah yang layak di sebut patriot dan siapakah yang pantas di sebut pengkhianat ? dan layak kah mereka yang dulu pernah berpesta pora menjadi seorang “PATRIOT”, sejarah pula nanti yang akan membuktikan bahwa mereka memang tidak layak menjadi “PAHLAWAN”

Berita Lainnya :
Pejuang Kaum Wanita Itu Telah Tiada
Kisah Dara Cantik Selebriti Kiri Indonesia
Mantan Presiden PKS Diduga Terlibat PKI
Pelarian Tiga Wanita Indonesia Dari Penjara
Tragedi Memilukan Korban Jaminan Persalinan
Dalih Pembunuhan Massal dan Kudeta Soeharto
Penderitaan Wanita Indonesia di Kamp Plantungan
Mengapa Buku Wanita Sebelum Kartini Dibakar Aparat