Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Suasana Jakarta, 20 September 2088

Suasana Jakarta 2088
Seorang kakek berumur 81 tahun yang sudah amat tua dan renta, terlihat sedang mengayuh sepeda tuanya. Dengan sangat pelan, Gunawan nama kakek tesebut mengayuh sepeda tuanya menyusuri Jalan Joko Widodo, sebuah jalan besar dan lebar yang dulu bernama Jalan Panjang di wilayah Jakarta Barat.

Sudah hampir setengah jam Gunawan mengayuh sepeda tuanya, kemudian dia berbelok kekiri dan terus mengayuh sepeda tuanya tanpa kenal lelah menuju balaikota DKI Jakarta.

Udara panas begitu menyengat. tak henti-henti Gunawan selalu menyeka peluh yang mengalir dari pori-pori keningnya. Ditambah teriknya sinar matahari yang makin terasa pedih membakar kulit lengannya yang kurus dan hitam.

Tak lama kemudian Gunawan menghentikan laju sepeda tuanya untuk beristirahat sejenak tepat di depan kantor Gubernur Balaikota Jakarta yang terlihat sepi dan sunyi tanpa adanya aktifitas. Masih nampak di halaman gedung tersebut sebuah patung yang terlihat tidak terawat, patung mantan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Gunawan memang tidak sempat menikmati masa emas kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur periode tersebut, karena saat itu usianya baru berjalan 5 tahun

Beberapa pohon terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh halaman gedung Balikota jakarta, bahkan parit di pinggir jalan Merdeka itu telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan.

Setelah lama beristirahat, kembali Gunawan mengayuh sepeda tuanya menuju kearah Kwitang, tepat didepan Tugu Tani Gunawan berhenti sebentar, tak lepas matanya memandang sebuah patung mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, yang berdiri kokoh tak jauh dari patung Pak Tani.

Taman Tugu Tani tersebut memang sudah tidak terawat, pohon dan rumput sudah tidak ada lagi, taman terlihat seperti padang tandus layaknya. Memandang patung Fauzi Bowo, mengingatkan Gunawan akan cerita ibunya dulu, bahwa ketika pelantikan Gubernur Fauzi Bowo tahun 2007, tepat berbarengan dengan hari pernikahan kedua orangtuanya. Rasa sedih masih terbayang dihati Gunawan bila mengingat cerita ibunya apalagi orangtuanya dulu termasuk bagian dari tim sukses Foke panggilan akrab Fauzi Bowo ketika mencalonkan untuk kedua kalinya menjadi Gubernur dan berpasangan dengan Nachrowi, namun gagal karena rakyat lebih memilih pasangan Jokowi-Ahok. Maka atas jasa-jasa Fauzi Bowo terhadap pembangunan Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta mengabadikannya dalam bentuk Patung di sekitar Tugu Tani.

Tak lama kemudian Gunawan mengayuh sepeda tuanya, untuk kembali pulang kerumahnya di kawasan Tanjung Duren Jakarta Barat, hampir satu jam Gunawan mengayuh sepedanya, tiba-tiba Gunawan menghentikan laju sepeda tuanya tepat di sebuah rumah sederhana yang tak berdaun jendela. Masih nampak dihalaman beberapa pohon tua yang sudah terlihat rapuh dan mengering. Gersang tanpa sehelai daun pun. Banyak sampah plastik, kaleng bekas bercampur sisa daun dan ranting kering berserakan hampir di seluruh halaman rumah tersebut, bahkan selokan kecil di pinggir jalan itu juga telah penuh dengan berbagai macam sampah yang berserakan menyatu dengan halaman, bahkan dengan rumah itu.

Gunawan memandang rumah yang telah menorehkan begitu banyak kenangan indah dalam kehidupannya, Di rumah inilah Gunawan pernah tinggal dan di rumah ini, enam puluh tahun yang lalu, Gunawan pernah mengenal seseorang, Ratna namanya. Seorang gadis yang akhirnya telah mengisi hidupnya hampir 60 tahun lamanya. Masih terngiang kata-kata Ratna sebelum bencana kekeringan melanda hampir seluruh kabupaten dan kota di Pulau Jawa ini. tak terkecuali kota kelahirannya Jakarta

Papa….semua tetangga kita dan orang-orang di kota ini sudah pada pergi mengungsi semua, kata Ratna sambil berurai air mata. Tak lepas tangannya memegang tangan suaminya, Ratna terus mendesak dan meminta untuk yang kesekian kalinya pada Gunawan suaminya agar mereka berdua juga pergi mengungsi.

Rombongan terakhir yang belum mengungsi hanya tinggal kita berdua dan keluarga Pak Gubernur dan Wakil Gubernur. Mama mohon dengan sangat kepada papa agar kita segera pergi meninggalkan kota ini.

Sudahlah Mama, kan papa sudah bilang berkali-kali bahwa papa tidak akan meninggalkan Kota Jakarta. Papa dan mama lahir di sini, besar pun disini, apalagi kedua orangtua papa adalah mantan Tim Sukses Foke-Nara, begitu juga kedua orangtua kamu mantan Tim Sukses Jokowi-Ahok, dengan nada keras Gunawan berkata, papa ingin mati di sini dan tidak akan meninggalkan Kota ini.

Mendengar jawaban suaminya yang tetap bersikeras untuk tidak meninggalkan Kota Jakarta, Ratna menangis semakin keras, hatinya begitu berat meninggalkan suami yang sangat dicintainya, sambil mengusap air matanya, Ratna masih berupaya untuk meyakinkan Gunawan, suaminya. Nanti siapa yang akan mengurus Papa ? Sudah tidak ada lagi orang lain yang mau tinggal di sini.

Jangan bersedih istriku, biarlah takdir yang menjawab, sisa umur papa juga sudah tak lama lagi. Sekarang saja umur papa sudah 81 tahun, sudah waktunya sepertinya, kata Gunawan datar.

Namun hatinya tak dapat dibohongi, tak terasa, air mata Gunawan mulai merambat turun perlahan menyentuh pipinya. Terasa dingin. Sedingin tekadnya untuk tidak hengkang dari tanah ini, tanah kelahirannya. Pandangannya sedikit kabur. Oh kenangan itu. Setetes air mata membangunkan dari lamunannya.

Gunawan segera menyeka pipi dengan tangan keriputnya. Semua yang di depannya kembali jelas. Dialihkan pandangannya menuju seberang jalan. Tak jauh berbeda. Nampak rumah-rumah kosong tak berpenghuni berpadu dengan serakan sampah !

Di sebuah bangunan besar dan megah yang berada seberang di jalan, Pagi baru saja menampakkan garis cakrawala. Di ufuk timur terlihat sinar matahari menyambut datangnya pagi hari yang masih dipenuhi oleh langit kelabu tanpa tetesan embun pagi. Sudah lebih dari 28 tahun lamanya, Gunawan menyambut pagi tanpa ada suara kokok ayam maupun kicauan burung. seperti saat-saat dulu. Saat sebelum alam marah karena ulah manusia, saat sebelum Pulau Jawa kehabisan sumber daya air. Sehingga mengakibatkan kekeringan dimana-mana

Setelah menunaikan sholat Dhuha berdua dengan istrinya di Masjid Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Masjid yang pernah menjadi saksi bisu karena telah dikunjungi oleh mantan Raja Dangdut Rhoma Irama untuk berceramah dakwah, isi ceramahnya pun sempat menghebohkan publik Jakarta waktu itu, karena menimbulkan pro dan kontra terkait adanya isu sara menjelang Pemilukada tahun 2012. Walaupun akhirnya isu sara tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap terpilihnya Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2012-2017. Isu Sara ini memang sempat memunculkan adanya dugaan hubungan : Antara Foke Rhoma dan Tante Alexa

Tak lama kemudian Gunawan melangkah keluar Masjid dan menuju sebuah tembok warna putih dipinggir jalan yang penuh dengan coretan-coretan di sana sini. Diraihnya spidol hitam yang terikat dengan benang warna putih kusam dan dengan tangan agak gemetar, Gunawan menuliskan sesuatu di dinding tersebut, menuliskan sebuah puisi dengan kata-kata :

YA ALLAH
Dosa apa yang telah kami lakukan
Apakah ini kesalahan para pemimpin kami yang tidak amanah
Sehingga kau hukum kami dengan segala kepahitan hidup

YA ALLAH
Di usiaku yang sudah 81 tahun ini
Sudah tidak ada lagi impian yang bermimpi
Sudah tidak ada lagi cinta dalam jemari

Ketika kematian telah bercampur
Dalam nafas yang berhembus
Dibalik hitamnya hati meringis
Jakarta, 20 September 2088

Tertanda
Gunawan dan Ratna

Berita Lainnya :