Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Pengadaan Al Qur’an Ternyata Semua Bermasalah

Setelah sekian lama tenggelam dalam pemberitaan, tiba-tiba kembali publik tersentak ketika mantan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni meminta kepada para pemangku kepentingan untuk segera menarik Al Qur’an bermasalah dari peredaran, karena memiliki kesalahan sehingga dapat menyesatkan umat.

Sementara kepada pengedarnya yang menyebabkan Al Qur’an beredar ketengah masyarakat segera ditindak, Bila perlu digebuki pelakunya,” kata Maftuh di Jakarta, Ahad (2/9).

Sebelumnya Maftuh mengaku mendapat laporan dari Direktur Lembaga Percetakan Al Qur’an (LPQ), Sarmidin Nasir, tentang hasil penelitiannya terhadap pengadaan Al Qur’an pada tahun anggaran 2011. Al Qur’an yang sudah dicetak itu kemudian diedarkan kepada beberapa lembaga pendidikan, rumah ibadah dan lainnya.

Dalam laporan tersebut, kata Maftuh, Sarmidin mendapati beberapa kesalahan cetak pada huruf Al Qur’an. Di antaranya, pada halaman 88 yang seharusnya berlanjut ke halaman 89 tetapi yang terjadi ke halaman 57. Berikutnya halaman kurang atau isi kurang mulai halaman 89 sampai 120. Hal ini berulang lagi di tengah.

Lantas, terjadi harkat kasroh menjadi tanwin. Ini terdapat di halaman 339, seharusnya berbunyi bi afwahikum menjadibin afwahikum. Terus ada tulisan botak, tak terlihat ayatnya. Ini terjadi pada halaman 367. Kesalahan teknis lainnya, tambah Maftuh, sebagian besar halamannya membayang. Kelihatan dobel. Berikutnya di beberapa halaman tercetaknya keriput. “Hal itu terjadi lantaran kertasnya keriput pula. Sehingga hurufnya terpotong-potong,” ucapnya.

Al Qur’an yang diteliti tersebut, sampelnya diambil dari Kantor Kemenag Kabupaten Bogor dan yang lainnya diambil dari Cirebon dan Ciamis. Al Qur’an tersebut dicetak oleh perusahaan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia (AAAI). Namun begitu, Maftuh mengaku tak jelas apakah perusahaan percetakan tersebut telah memiliki pengalaman atau tidak dalam mencetak Al Qur’an. Yang jelas, paparnya, masalah ini sudah dilaporkan kepada Dirjen Bimas Islam, Irjen Kemenag, dan Sekjen Kemenag pada 29 Agustus lalu.

Gara-gara oknum anggota DPR dan oknum pejabat Kementerian Agama (Kemenag) melakukan korupsi dalam proyek pengadaan Al Qur’an tahun 2011, akhirnya kitab suci umat Islam tersebut mengalami salah cetak yang sangat fatal. Apakah itu disengaja atau tidak oleh pihak percetakan yang memenangkan tender, PT Adhi Aksara Abadi Indonesia (PT AAAI), semuanya masih diselidiki oleh Kementerian Agama.

Korupsi Pengadaan Al Qur’an

Masyarakat tentu masih ingat hebohnya kasus korupsi pengadaan Al Qur’an yang telah dilakukan oleh 
Zulkarnaen Djabar Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Depok-Bekasi dari Partai Golkar, Hebatnya modus korupsi ini dilakukan oleh Zulkarnaen jabar bersama putranya Dendi Saputra Prasetya Zulkarnaen Putra (DP), Direktur Utama PT.KSAI

Modus Korupsi yang dilakukan Zulkarnaen Djabar dalam melancarkan aksi korupsinya, adalah : Zulkarnaen Djabar mengarahkan kepada oknum di Ditjen Bimas Islam untuk memenangkan perusahaan Dendy, PT A3I untuk pengadaan Al Qur’an tahun 2011. Zulkarnaen Djabar juga memerintahkan oknum Ditjen pendidikan Islam untuk memenangkan PT BKN dalam proyek laboratorium komputer sistem komunikasi MTS,” dan terakhir adalah pengadaan Al Qur’an juga di Ditjen Bimas Islam tahun 2012

Kedua Perusahaan pemenang tersebut ada dibawah PT.KSAI, yang dipimpin oleh Dendi yang notabene adalah putra dari Zulkarnaen Djabar. Modus praktik korupsi seperti ini memang sudah banyak terjadi, apalagi di era Orde Baru malah lebih terang-terangan lagi, hanya saja pemberantasan Korupsi saat itu tidaklah seperti sekarang ini. Padahal sebelumnya Zulkarnaen Djabar sebelum menjadi tersangka, Zulkarnaen sempat diwawancarai media, berikut petikan wawancaranya :

“Enggak tahu saya, Ya saya kira kalau ada penyimpangan, saya mendukung (KPK).” ujar Zulkarnaen Djabar, di Gedung DPR

Pernyataan ini seperti pernyataan orang yang tidak berdosa, mungkin juga Zulkarnaen berpikir dia akan lepas dari segala tuduhan. Tapi siapa yang nyana, pada akhirnya dia dan anak kandungnya menjadi Tersangka Korupsi Pengadaan Al Qur’an dan Komputer di Kementerian Agama.

Parahnya hasil korupsi itu sebanyak 18 dus Al Qur’an ternyata pernah dibagi-bagikan pada konstituennya di daerah pemilihannya yaitu Depok dan Bekasi.

Lengkap sudah kesalahan yang dilakukan oleh pemenang tender pengadaan Al Qur’an, kesalahan pertama adalah proses pengadaannya berbau Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sedangkan kesalahan kedua adalah hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan ketentuan kontrak dan ini berarti Pemenang Tendernya Bermasalah begitu juga hasilnya bermasalah.

Berita Lainnya :