Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Mungkinkah Foke Kalah Akibat Peristiwa G20S/DKI

Detik-detik pemilukada putaran kedua sebentar lagi akan berakhir, tepat tanggal 20 September 2012, rakyat Jakarta akan berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih Calon Gubernur pilihan mereka. Mari kita jadikan Demokrasi lima tahunan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta sebagai moment yang terbaik bagi rakyat untuk memilih figur pemimpin yang benar-benar peduli pada nasib rakyat dibanding peduli pada pribadi dan golongannya.

Mudah-mudahan rakyat semakin cerdas untuk mempergunakan hak pilihnya dan tidak lagi mudah dikibulin dengan jargon sudah terbukti dan teruji serta ahlinya, apalagi memilih pemimpin yang ambius tapi ternyata tidak bisa berbuat apa-apa.

Menyongsong peristiwa Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 20 September 2012 atau G20S/DKI, yang artinya Gubernur 20 September DKI Jakarta atau pemilihan Gubernur DKI Jakarta 20 September 2012, maaf penyingkatan kalimat ini sekedar untuk mengingatkan bahwa di bulan september 47 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 30 September 1965 telah terjadi pesta pembantaian massal dalam sejarah kelam Republik Indonesia, ratusan ribu rakyat tak berdosa telah dibantai, mereka dibunuh hanya karena dianggap Komunis pasca Gestapu 1965, peristiwa ini akan tetap selalu menjadi ingatan yang sangat memilukan sejarah dan catatan perjalanan bangsa. Akibat tragedi tersebut, di zaman kemudian, terucap kata dari Bapak Pluralisme Mantan Presiden Republik Indonesia Almarhum Gus Dur “Jangan bangga anda sebagai muslim telah membunuh orang-orang komunis”

Begitu juga dalam konteks Pemilukada DKI Jakarta 2012, “Jangan bangga anda orang-orang muslim menuduh orang-orang muslim sebagai kafir hanya karena memilih pemimpin non muslim. Tiada hak anda menuduh seseorang menjadi kafir, karena hanya ALLAH yang punya hak untuk memutuskan apakah manusia itu berdosa atau tidak berdosa. Melihat fakta ini, meminjam pernyataan tulisan Ahmad Sahal Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nu Amerika-Kanada yang dimuat di kolom Tempo edisi 16 Agustus 2012, Ahmad Sahal mengatakan bahwa wacana pengharaman pemimpin non-muslim bukan hanya berbahaya karena membawa kita berkubang dalam isu SARA yang berpotensi memecah belah bangsa Indonesia. namun yang tak kalah problematis, ternyata wacana tersebut tidak punya pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri, karena pedomannya adalah terjemahan ayat secara tidak akurat, penafsiran yang sempit, dan penerapan yang salah alamat.

Mari kita kumandangkan perubahan untuk Jakarta, karena Jakarta butuh perubahan, Jakarta tidak butuh pemimpin yang tidak bisa kerja, bisakah rakyat Jakarta menjadi contoh tentang arti sebuah perubahan, bukan hanya untuk Jakarta tapi juga perubahan bagi Indonesia raya yang “BHINEKKA TUNGGAL IKA”

Tepat tanggal 20 September 2012, saat hari pencoblosan pemilihan Gubernur DKI Jakarta (G20S/DKI), mungkinkah akibat peristiwa G20S/DKI, Foke akan menang, kalau seandainya menang berarti Foke masih di beri kepercayaan oleh masyarakat, terimalah kepercayaan tersebut dengan sebaik-baiknya, lanjutkan apa yang sudah anda programkan untuk kemajuan Jakarta yang lebih baik, namun dengan harapan pula “janganlah diusir warga betawi yang tidak milih anda, begitu pula “janganlah anda cabut e-KTP warga yang tidak memilih anda, karena siapapun mereka “baik warga betawi maupun warga pendatang” kita tetap satu bangsa, tanah air Indonesia.

Namun bila akibat peristiwa G20S/DKI nanti ternyata Foke kalah, maka terimalah dengan hati lapang dada dan kekalahan Foke dalam Pilkada nanti tidak harus disesali, kekalahan itu justru harus disyukuri karena hal itu merupakan indikator keberhasilan anda selama satu periode memimpin Jakarta, berarti anda telah sukses menumbuhkan lapisan civil society yang kritis di Jakarta, kalau saja rakyat Jakarta bodoh, tidak kritis, mudah di mobilisasi dan di manipulasi para politisi dan pada akhirnya tidak mampu menentukan masa depan yang terbaik bagi daerahnya, maka pihak yang paling bersedih seharusnya anda, karena hal itu membuktikan bahwa selama anda memimpin, anda tidak berhasil mencerdaskan rakyatnya dan memberdayakan mereka. Akhir kata kemenangan Jokowi adalah Keberhasilan Foke panggilan akrab Fauzi Bowo.