Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Menatap Mendungnya Langit Jakarta

Suasana di Ibukota Jakarta hari ini tanggal 20 september 2012, detik-detik menjelang pencoblosan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2012-2917, terlihat suasana Jakarta begitu tenang, jalan-jalan protokol tidak begitu ramai seperti hari-hari biasa yang selalu macet oleh aktifitas arus kendaraan yang padat.

Diatas langitpun terlihat awan menutupi sinar mentari yang biasanya terasa terik, awan terlihat mendung, apakah ini menjadi satu tanda bahwa pelaksanaan hajat pesta demokrasi lima tahunan pemilihan kepala Daerah akan berubah menjadi suasana duka yang mendalam atau suasana penuh keceriaan masyarakat Jakarta menyambut datangnya calon pemimpin baru yang diharapkan mampu melakukan perubahan yang lebih baik bagi Jakarta.

Dipagi menjelang siang ini, tiba-tiba penulis teringat sebuah pernyataan yang diucapkan secara langsung oleh Fauzi Bowo atau akrab dipanggil Foke, salah satu Calon Gubernur Jakarta yang mengatakan “Uang segunung tidak akan mampu menyelesaikan jakarta dalam sekejap” perkataan ini jelas mengindikasikan ketidakmampuan seorang pemimpin dalam mengatasi sebuah persoalan.

Mengapa seorang Foke bicara seperti itu, padahal banyak kita melihat, fenomena menarik di berbagai daerah dengan aneka ragam kebijakan yang telah diterapkan oleh kepala daerahnya, ada suatu daerah yang hanya mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat kecil namun mampu membebaskan biaya pendidikan untuk murid SD sampai SMU/K dan mengasuransikan kesehatan seluruh masyarakat hanya dengan persyaratan mempunyai KTP pada daerah tersebut. begitu pula sebaliknya, ada juga daerah yang mempunya sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat besar namun ternyata tidak bisa berbuat apa-apa.

Mendungnya langit Jakarta hari ini, tentu bisa menjadi catatan bahwa ternyata soal memberikan pelayanan yang lebih baik kepada rakyat bukan semata-mata soal besar atau kecilnya APBD. Bukan soal banyaknya uang segunung tapi tidak bisa berbuat apa-apa tetapi merupakan soal Kemauan dan Komitmen Kepala Daerah beserta jajaran Birokrasinya.

Karena itu mari kita “bulatkan tekad, satukan niat” menyambut mendungnya langit Jakarta untuk perubahan Jakarta yang lebih baik. Karena “TUHAN” tidak akan merubah suatu kaum, jika kaum itu sendiri yang tidak akan merubahnya. Sangat jelas bahwa perubahan nyata yang kita inginkan untuk Jakarta yang lebih baik, tentu berpulang pada kehendak kita masing-masing. Mau memilih “Jakarta Lama atau Jakarta Baru”

Berita Lainnya :
Suasana Jakarta 20 September 2088
* Satu Korban, Satu Suapan dan Satu Suara