Pemasaran Politik dan Pemasaran Digital

Memilih Jokowi Atau Presiden Taksi

Seorang Calon Kepala Daerah itu sama saja seperti permen, kopi, mie kocok, sabun dan pasta gigi, sama-sama butuh citra dan strategi penjualan serta strategi publikasi dalam bentuk iklan. Bagaimana melalui strategi ini, publik harus dirangsang supaya tertarik dan kemudian beramai-ramai mendukungnya.

Mengapa strategi pencitraan ini penting dan mutlak harus dilakukan, lebih lagi bila itu menyangkut calon kepala daerah yang sudah buruk citranya. Dengan strategi pencitraan yang baik tentu akan berdampak positif terhadap calon kepala daerah yang sudah buruk citranya, namun bisa juga sebaliknya, apabila strategi pencitraan tidak sesuai dengan fakta yang ada dan terkesan mengada-ada.

Tahun 70 dan 80 an, siapa masyarakat Jakarta yang tidak kenal model angkutan umum presiden taksi, karena ulah dari oknum-oknum supir president taksi maka masyarakat memberi hukuman dengan tidak mau lagi naik taksi tersebut. beberapa catatan dimasyarakat, bagaimana ulah para oknum supir taksi ini, misalkan tidak mau pakai argo, maunya minta harga borongan, dan bila tidak mau harga borongan kadang suka diajak muter-muter terlebih dahulu, atau para oknum ini sengaja merubah argonya agar bisa menaikkan nilai argo (istilahnya argo kuda). Bagi orang yang belum biasa naik taksi tentu tidak sadar bahwa mereka telah dibohongin.

Namun lambat laun karena sering terjadi kecurangan dan ketidakberesan dalam memberikan pelayanan yang baik bagi pengguna taksi, maka akhirnya masyarakat Jakarta, menghukum dengan tidak mempergunakan angkutan presiden taksi ini, mereka lebih memilih taksi lain yang tidak melakukan kecurangan dan memberikan pelayanan yang baik bagi pengguna taksi

Sadar akan reputasinya yang sudah rusak, pengelola presiden taksi pun akhirnya merubah nama ? namun cara tersebut juga, ternyata tidak mampu meraih prestasi kembali. Apalagi perubahan nama ini tidak didukung oleh pelayanan yang lebih baik, maka semakin rusaklah citra presiden taksi tersebut walaupun sudah merubah nama. 
Kasus president taksi ini hampir sama dengan model pencitraan yang sedang berlangsung dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, maksud hati ingin melakukan pencitraan dengan berbagai cara ? namun apa daya, ternyata pencitraannya ini justru menjadi masalah buat mereka sendiri.

Misalkan seperti sosok Fauzi Bowo atau akrab dipanggil Foke, yang berusaha semaksimal mungkin dengan segala daya upaya, berusaha melakukan proses pencitraan terhadap dirinya. Namun hasil pemilukada putaran pertama, telah menjawab bahwa publikasi pencitraan mereka, tidak membuahkan hasil signifikan, justru yang terjadi malah sebaliknya. Mengapa ini bisa terjadi ? karena jargon politik “pilih yang berpengalaman” bertolak belakang dengan Jargon politik Foke pada kampanye tahun 2007 “pilih yang ahlinya” fakta ini membuktikan bahwa kata ahlinya ternyata tidak terbukti dalam wujud nyata. maksud hati ingin menyombongkan diri dengan kata berpengalaman ? tetapi apa daya, masyarakat semakin sadar bahwa ini cuma pepesan kosong belaka.

Sadar akan kesalahan ini, maka Foke dan timnya mengatur strategi baru ? Entah ini bagian dari strategi, tiba-tiba menjelang putaran kedua, muncul isu SARA. Gayung pun bersambut, isu SARA ini bagaikan bola salju yang terus menerus bergelinding. Konyolnya walaupun tidak diakui bahwa isu SARA ini bukan dari mereka tapi dalam setiap aksi kegiatan, justru mereka melakukan kampanye yang berbau SARA. Seperti pada kegiatan halal bihalal, Foke diundang hadir oleh salah satu partai pendukungnya.

Dalam pidatonya Foke berucap “Umat Islam Jakarta harus bersatu”. Sadarkah Foke dengan ucapannya, padahal dia masih memimpin sebagai Gubernur Jakarta, harusnya dia tahu bahwa Jakarta ini Majemuk, terdiri dari Beragam suku dan agama ada disini. Jelas pernyataan Foke ini bernuansa SARA, karena dapat menyinggung perasaan umat Beragama lainnya.

Selanjutnya strategi baru yang dilakukan oleh Foke, dengan sering melakukan berbagai kunjungan, yang tadinya tidak biasa menjadi biasa dilakukan ? misalkan, nggak biasanya mengantar atau menunggu kedatangan para pemudik ketika menjelang dan sesudah lebaran, sekarang sudah dilakukan oleh Foke ? bagus, cara ini memang cukup menarik simpatik ? tapi timbul pertanyaan, kok justru dilakukan pada moment menjelang pemilukada, kenapa tidak dari dulu saja.

Tetapi karena memang tidak didasari oleh keikhlasan dan ketulusan, hanya karena ingin mencari simpatik sesaat, akhirnya terlihat juga ambisinya ? kita bisa lihat, ketika Foke mengunjungi korban kebakaran di karet tengsin, “Lo nyolok siapa, kalau nyolok Jokowi mendingan pulang kesolo aja” atau ketika acara halal bihalal di kelapa gading, Foke berucap “warga betawi yang tidak milih Foke-Nara akan saya cabut KTP-nya, disambut pula oleh Nara, “warga betawi mendingan keluar dari betawi bila tidak memilih Foke-Nara.

Begitu pula ketika kampanye damai, Foke berucap yang tidak mengundang simpatik, menjelek-jelekkan Jokowi karena tidak hadir pada acara Kampanye damai, padahal Foke sudah tahu bahwa ketidakhadiran Jokowi karena belum mendapat ijin cuti dari Gubernur Jawa Tengah. Mengingat status Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo.

Berhasilkah strategi pencitraan Foke, sama seperti presiden taksi, karena citranya sudah buruk dan tidak didukung oleh perubahan pelayanan, tetap saja perubahan nama ini tidak berpengaruh bagi masyarakat. Begitu juga Foke, sadar akan pencitraannya yang sudah buruk, maka mereka mengatur strategi baru. Berhasilkah strategi pencitraan mereka ? Seperti apa yang sudah dijelaskan diatas ? Sekarang kembali kepada masyarakat Jakarta, apakah ingin memilih Jokowi atau memilih model seperti presiden taksi ini.

Berita Lainnya :